Ketika Bukumu
Ditolak Penerbit Mayor
oleh: Hasanuddin
|
Nara Sumber:
|
-
Wijaya
Kusumah (Omjay)
|
|
Materi:
|
-
Ketika Bukumu
Ditolak Penerbit Mayor
|
|
Waktu:
|
-
Jum’at, 22
Ramadhan 1441 H/15 Mei 2020 (13.00-15.00 WIB)
|
Sebenarnya materi kali ini akan disampaikan oleh Bapak Edi
Arham sesuai jadwal, akan tetapi beliau berhalangan hadir karena ada rapat
mendadak, maka materi kali ini Omjay yang langsung menjadi nara sumbernya
dengan tema yang sama, yaitu “Ketika Bukumu Ditolak Penerbit Mayor”.
Sebelum Omjay memulai membagi pengalamannya, ia terlebih
dahulu menyapa bapak/ibu guru dengan mengatakan “selamat siang guru hebat
Indonesia” dan mengungkapkan perasaannya dengan mengatakan “senang rasanya bisa
berbagi pengalaman dan pengetahuan kepada anda semuanya siang hari ini”.
Omjay sapaan akrabnya pernah merasakan kesedihan ketika buku
yang ditulis ditolak oleh penerbit yang menyebabkan makan tak enak dan tidur
pun tidak nyenyak. Sakitnya tuh disini (sambil mengelus dada) dan lebih baik
sakit gigi daripada sakit hati. Namun, perlu kita ketahui bahwa Omjay adalah
orang yang pantang menyerah. Ketika naskahnya ditolak penerbit lantas tidak
putus asa dan diterima dengan lapang dada serta menerimanya dengan senyuman
meskipun terasa pahit. Berkali-kali kita gagal, maka hendaknya lekas bangkit
dan cari akal. Berkali kita jatuh, maka hendaknya lekas berdiri dan jangan
mengeluh. Jadilah guru tangguh dan berhati cahaya.
Kegagalan adalah awal dari sukses yang tertunda. Gembirakan
dirimu dengan terus belajar kepada orang-orang yang sukses menerbitkan bukunya.
Ketika buku ditolak penerbit, maka segera perbaiki tulisan dan baca kembali.
Kemudian meminta beberapa teman yang dipercaya memiliki kemampuan untuk
memberikan masukan sehingga hasilnya menjadi lebih baik dari sebelumnya dan
lebih enak dibaca. Dengan demikian, sakit hati yang terasa sebelumnya karena
ditolak penerbit, sedikit tidak bisa terobati.
Ibarat seorang mahasiswa S1 yang skripsinya ditolak
mentah-mentah oleh pembimbing. Ibarat mahasiswa S2 yang tesisnya ditolak oleh
pembimbing, dan ibarat mahasiswa S3 yang ditolak proposal disertasinya. Omjay
merasa berterima kasih kepada penerbit yang menolak buknya. Dengan begitu buku
yang disusunnya menjadi layak dibaca dan dijual ke hadapan pembaca. Coba,
seandainya tidak ditolak mungkin banyak yang tidak laku karena isinya kurang
menarik di hati pembaca.
Dengan ditolaknya buku oleh penerbit, maka bisa menjadi
penyemangat untuk banyak belajar dan berusaha memperbaikinya menjadi lebih baik
dan lebih layak untuk dibaca walaupun dalam memperbaikinya membutuhkan waktu
yang lama dan harus disertai dengan sikap pantang menyerah. Di samping itu,
perbanyak kunjungan ke toko-toko buku dan membaca buku best seller. Dari
sanalah akhirnya akan mengetahui rahasia buku mereka laris dibaca oleh para
pembaca. Ibarat perahu yang sudah berlayar tentu pantang untuk kembali ke
pelabuhan. Jalan terus sampai tujuan walaupun banyak hambatan menghadang. Tidak
ada nakhoda ulung yang tidak melalui lautan yang berombak ganas. Justru disitulah
keahliannya teruji.
Ketika buku ditolak penerbit, maka teruslah belajar menulis
dan jangan berhenti menulis. Ketika anda terus menulis, maka tulisanmu akan
semakin tajam dan nendang. Pasti tulisanmu akan layak jual dan pasti tulisanmu
akan banyak dibaca orang. KUNCI-nya cuma satu, yaitu MAU BELAJAR DAN PANTANG
MENYERAH.
Perbaiki dan terus perbaiki buku yang ditolak sehingga
penerbit mau menerbitkan bukumu tanpa keluar uang sepeserpun. Andapun akan
tersenyum ketika royalty bukumu mencapai angka yang fantastis. Puluhan bahkan
ratusan juta rupiah akan diperoleh jika bukumu laku dijual.
Semoga bisa menjadi inspirasi dan motivasi bagi bapak/ibu
guru semuanya yang belum mau menulis, apalagi yang sudah menulis dan ditolak
penerbit untuk diterbitkan.
Mantapp pakkk...jangan takut di tolak ya
BalasHapus