Merekrut guru
adalah sebuah seni tersendiri. Proses perekrutan memerlukan kesiapan
dari segenap pihak di sekolah untuk mencari orang yang berkarakter,
karena skill atau keterampilan bisa dipelajari, sementara karakter
adalah hal yang tidak akan bisa ditingkatkan karena merupakan sifat
asli.
Proses
perekrutan guru sangat berbahaya jika tujuan nya adalah mencari guru
yang mau dibayar rendah. Tidak ada yang salah saat sekolah mencari guru
yang bisa dibayar minim dikarenakan keuangan yayasan pasti akan aman
sentosa. Hal yang tidak disadari adalah dampaknya akan kemana mana. Guru
guru akan seperlunya saja berinovasi, keluhan orang tua siswa bahwa
guru anaknya berganti ganti itu pasti dikarenakan tingkat turn over yang
tinggi.
Dampak lain
nya situasi ini akan menciptakan guru yang bertipe pasrah. Guru tipe
pasrah adalah guru yang bersedia bertahan karena sudah PW (posisi
wuenak) dikarenakan rumahnya dekat, sudah terlanjur akrab sama rekan
sekerja sampai sudah malas mencari lowongan di sekolah swasta lain. Tipe
guru pasrah dan tipe guru batu loncatan hanya akan membuat sekolah
jalan ditempat. Dikarenakan sekolah berisi staf pengajar yang pasrah dan
menjadi lupa caranya berinovasi dikarenakan semua perintah inovasi
datangnya dari atas.
Dengan
demikian jika semua faktor diatas tidak terjadi di sekolah anda,
artinya sekolah sudah punya sistem dan standar dalam perekrutan, maka
kerja selanjutnya adalah mengembangkan guru hasil perekrutan. Bagaimana
cara terbaik mengembangkan guru?
1. Bagi guru dalam komite komite (gugus) kerja di lingkup internal sekolah.
Pembagian komite nya bisa mengikuti alur 8 Standar Nasional Pendidikan.
Semua keresahan, pertanyaan serta kepedulian guru bisa dibahas di
komite. Minta mereka lakukan analisa SWOT, mengambil masukan dari orang
tua siswa sampai memberikan rekomendasi yang menyangkut perbaikan mutu
sekolah dari berbagai macam segi. Tuangkan menjadi Rencana Aksi atau
Action Plan, tugas yayasan hanya menindaklanjuti semua yang ada di
Action Plan dengan segala sumber daya menuju semua yang telah sama sama
disepakati. Jika komite ini berjalan maka akan berguna bagi keperluan
lain misalnya akreditasi. Dengan komite, guru terbiasa bekerja sama dan
saling menghargai keahlian serta minat rekan sesama guru. Berikan waktu
yang cukup bagi guru untuk melakukan rapat dan melakukan perencanaan.
2. Sebagai detail dari point 1, ada baiknya sekolah membuat komite disiplin yang terdiri dari guru
yang akan meninjau semua peraturan yang berkenaan dengan disiplin guru
dan siswa. Dengan demikian timbul kesadaran untuk disiplin dari dalam
diri sendiri dikarenakan yang menghasilkan aturan adalah rekannya
sendiri. Diharapkan dengan ini guru yang malas menjadi hilang diganti
dengan guru yange kesadaran nya bangkit akibat situasi yang memaksanya
untuk berubah.
3. Terapkan prinsip ON TIME dan FULL TIME.
Sekolah tidak perlu memotong gaji guru saat ia telat dan sebaliknya
tidak perlu membayar saat guru lembur atau ikut pelatihan. Dengan
demikian guru terlatih untuk mengelola waktunya dengan baik sambil
tanamkan kesadaran untuk memberitahukan kepada atasan saat ia telat
sampai ke sekolah. Lazimnya seseorang jika terlambat ia akan mempunyai
penyebab dan alasan. Kepala sekolah yang mumpuni akan mengenali mana
alasan yang bisa dimaklumi dan mana alasan yang mengada-ada. Jika
keterlambatan sudah cukup sering dan banyak, kepala sekolah bisa
memanggil dan bertanya hal yang menyebabkan keterlambatan.
4. Latih dan berdayakan guru.
Guru yang baik ia akan senang ikut pelatihan bahkan dengan uang
sendiri, sekolah yang belum sadar malah akan memotong guru tersebut
dengan alasan tidak masuk kerja. Dengan demikian sekolah perlu
mengetahui pelatihan apa yang ingin diikuti guru. Kirim mereka jika dana
tersedia lalu minta mereka berbagi dengan rekan rekannya di sekolah.
Berikan dua jenis pelatihan secara rutin dan terjadwal, pelatihan
pedagogi yang berisi strategi, pendekatan, metode sampai teknik
pembelajaran bagi semua guru dan pelatihan yang sifatnya khusus (sesuai
matpel). Jika Ada kesempatan untuk mengirim guru ke pelatihan dalam dan
luar negeri, minta ia menulis letter of interest semacam surat singkat
mengapa ia yang layak dipilih untuk diberangkatkan. Bantu guru untuk
bisa punya pergaulan di luar sekolah, dukung mereka agar berprestasi di
luar sekolah dan saat yang sama bagus cara mengajarnya di dalam sekolah.
5. Yayasan hadir sebagai sosok yang punya prinsip sekaligus pantang memanjakan guru.
Saya menyaksikan sekolah swasta yang guru nya dimanjakan sedemikian
rupa dengan fasilitas, seragam dan penghasilan, dan tetap ditinggal oleh
guru gurunya saat ada lowongan PNS dibuka. Guru sebenarnya tidak perlu
dimanjakan namun selalu berikan mereka tantangan. Tantangan yang
dimaksud adalah tantangan untuk melakukan pembelajaran kreatif, membuat
event pendidikan yang bermakna, mengikuti lomba yang bagi siswa atau
dirinya (guru berprestasi, karya tulis dan lain lain). Hak seorang guru
until punya penghasilan yang pasti (naik penghasilan nya setiap tahun
mengikuti inflasi serta dibayar tepat waktu.
6. Yayasan bisa terapkan prinsip 70/20/10 dalam berinovasi.
70 persen tenaga dan sumber daya untuk meningkatkan kualitas atau semua
hal yang sudah ada dan terjadi. 20 persen untuk menelaah market atau
kebutuhan/trend dari kompetitor atau lembaga pendidikan sejenis serta 10
persen untuk mengimplementasikan hal yang benar-benar baru.
7.
Bentuk lembaga audit internal sekolah yang tugasnya menelaah inovasi
dan kebijakan yang dihasilkan oleh sekolah lewat komite yang dibentuk.
Dengan demikian semua inovasi menjadi terkontrol dan ditelaah ulang
penyebabnya jika ada kemandekan. Lembaga internal ini sifat nya hanya
bertanya, mencari tahu dan mengumpulkan data. Untuk kemudian sekolah
mempunyai pengalaman dalam mengelola perubahan dan menjaga komitmen
dalam berinovasi.
8.
Bersikap terbuka dan berikan selalu guru informasi terkini dalam kaitan
dengan keuangan serta anggaran sekolah pertahun ajaran.
Momentum nya bisa saat rapat tahun ajaran baru. Biarkan guru sadar bahwa
keuangan yayasan bergantung pada seberapa bagusnya ia mengajar dan
mendidik. Tentunya bukan dalam pemaparan yang detail dikarenakan seorang
guru juga tidak akan terlalu kritis mengurusi keuangan yayasan sekolah
nya. Guru yang profesional cukup senang saat ia tahu bahwa hak siswanya
dipenuhi (melalui uang kegiatan) dan semua keperluan dirinya dalam
mengajar dipenuhi oleh yayasan.
9. Minta guru menjadi mentor bagi sesamanya, hilangkan sekat guru baru dan guru lama, guru senior dan guru kemarin sore.
Semua guru adalah sumber ilmu bagi guru lainnya. Sekolah sering tidak
sadar bahwa sumber ilmu ada di dalam lingkungan sekolah mereka sendiri.
Buat sesi sharing, kuliah online di internal sekolah sampai book club
yang membuat guru sadar bahwa dirinya adalah pembelajar.
10. Posisikan kepala sekolah sebagai sosok pemimpin nya para pembelajar (lead of learner).
Kepala sekolah memang menjado sosok perpanjangan tangan yayasan, namun
tetapi ia adalah sosok mandiri dan pemimpin yang punya kewajiban menjadi
rekan kerja dan diskusi yayasan dalam mengelola perubahan dan mencapai
visi dan misi. Peran kepala sekolah adalah membina guru, berkomunikasi
dengan baik kepada orang tua siswa sampai memastikan semua elemen di
sekolah bisa berproses dengan baik sebagai pembelajar.
Tugas
yayasan memberikan kepercayaan penuh, mendampingi sekaligus menjadi
rekan diskusi yang kritis bagi semua kebijakan yang dilakukan oleh
kepala sekolah. Yayasan terlarang untuk langsung melakukan tindakan
potong kompas hanya karena gerah banyak mendapatkan complain dari orang
tua siswa. Ciri yayasan yang kurang mempercayai kepala sekolah nya
adalah dengan menempatkan jabatan atau orang untuk memberikan info
langsung kepada dirinya. Di sekolah swasta sosok kepala sekolah adalah
sosok jabatan yang paling tinggi. Dibawah dirinya ada bagian HRD,
keuangan dan semua lini operasional kependidikan dan non kependidikan.
Kepala sekolah bertanggung jawab dalam operasional sekolah, bagian non
kependidikan boleh dan harus punya akses langsung kepada yayasan. Namun
kesemuanya dalam kerangka membantu kepala sekolah wujudkan visi dan
misi.
Mengembangkan
guru berarti membuat guru ada dalam kondisi yang siap untuk
berubah.Suasana sekolah jika sebuah perubahan ingin terjadi perlu sebuah
suasana yang positif dan saling percaya dan mendukung. Perubahan tidak
lahir begitu saja, ia perlu landasan, lingkungan, atmosfer serta situasi
yang membuat ide sekecil apapun menjadi berharga untuk diwujudkan.
Sebuah inovasi
bukan lahir begitu saja, ia adalah hasil dari sebuah proses yang
berbasis pada kepedulian dan keinginan semua pribadi di sekolah untuk
bertransformasi. Lazimnya guru sebagai pendidik, jika ia merasa
dipercaya maka ia akan menjadi sosok yang bersedia membela nama baik
sekolah nya, sadar akan posisinya sekaligus rela menjadi agen perubahan.
Diujung semua proses ini, sebuah sekolah swasta akan berkembang menjadi
rujukan karena kualitasnya. Orang tua siswa bahkan tidak perlu dan
tidak mau tahu siapa yayasan yang ada dibalik sekolah tempat ia
menyekolahkan anaknya dikarenakan semua program berjalan dan kualitas
sekolah terjaga. Bagi yayasan sekolah swasta situasi ini akan sangat
baik bagi usahanya di bidang pendidikan karena tinggal merayakan
sekaligus terus memberikan tantangan serta dukungan pada kepala sekolah
dan guru untuk berinovasi sesuai tantangan jaman.
https://gurukreatif.wordpress.com/2019/03/31/10-resep-mengembangkan-guru-agar-mampu-menjadi-guru-yang-inovatif/#more-8111
Tidak ada komentar:
Posting Komentar