15 Mei 2020

Ketika Bukumu Ditolak Penerbit Mayor


Ketika Bukumu Ditolak Penerbit Mayor
oleh: Hasanuddin

Nara Sumber:
-       Wijaya Kusumah (Omjay)
Materi:
-       Ketika Bukumu Ditolak Penerbit Mayor
Waktu:
-       Jum’at, 22 Ramadhan 1441 H/15 Mei 2020 (13.00-15.00 WIB)

Sebenarnya materi kali ini akan disampaikan oleh Bapak Edi Arham sesuai jadwal, akan tetapi beliau berhalangan hadir karena ada rapat mendadak, maka materi kali ini Omjay yang langsung menjadi nara sumbernya dengan tema yang sama, yaitu “Ketika Bukumu Ditolak Penerbit Mayor”.
Sebelum Omjay memulai membagi pengalamannya, ia terlebih dahulu menyapa bapak/ibu guru dengan mengatakan “selamat siang guru hebat Indonesia” dan mengungkapkan perasaannya dengan mengatakan “senang rasanya bisa berbagi pengalaman dan pengetahuan kepada anda semuanya siang hari ini”.
Omjay sapaan akrabnya pernah merasakan kesedihan ketika buku yang ditulis ditolak oleh penerbit yang menyebabkan makan tak enak dan tidur pun tidak nyenyak. Sakitnya tuh disini (sambil mengelus dada) dan lebih baik sakit gigi daripada sakit hati. Namun, perlu kita ketahui bahwa Omjay adalah orang yang pantang menyerah. Ketika naskahnya ditolak penerbit lantas tidak putus asa dan diterima dengan lapang dada serta menerimanya dengan senyuman meskipun terasa pahit. Berkali-kali kita gagal, maka hendaknya lekas bangkit dan cari akal. Berkali kita jatuh, maka hendaknya lekas berdiri dan jangan mengeluh. Jadilah guru tangguh dan berhati cahaya.
Kegagalan adalah awal dari sukses yang tertunda. Gembirakan dirimu dengan terus belajar kepada orang-orang yang sukses menerbitkan bukunya. Ketika buku ditolak penerbit, maka segera perbaiki tulisan dan baca kembali. Kemudian meminta beberapa teman yang dipercaya memiliki kemampuan untuk memberikan masukan sehingga hasilnya menjadi lebih baik dari sebelumnya dan lebih enak dibaca. Dengan demikian, sakit hati yang terasa sebelumnya karena ditolak penerbit, sedikit tidak bisa terobati.
Ibarat seorang mahasiswa S1 yang skripsinya ditolak mentah-mentah oleh pembimbing. Ibarat mahasiswa S2 yang tesisnya ditolak oleh pembimbing, dan ibarat mahasiswa S3 yang ditolak proposal disertasinya. Omjay merasa berterima kasih kepada penerbit yang menolak buknya. Dengan begitu buku yang disusunnya menjadi layak dibaca dan dijual ke hadapan pembaca. Coba, seandainya tidak ditolak mungkin banyak yang tidak laku karena isinya kurang menarik di hati pembaca.
Dengan ditolaknya buku oleh penerbit, maka bisa menjadi penyemangat untuk banyak belajar dan berusaha memperbaikinya menjadi lebih baik dan lebih layak untuk dibaca walaupun dalam memperbaikinya membutuhkan waktu yang lama dan harus disertai dengan sikap pantang menyerah. Di samping itu, perbanyak kunjungan ke toko-toko buku dan membaca buku best seller. Dari sanalah akhirnya akan mengetahui rahasia buku mereka laris dibaca oleh para pembaca. Ibarat perahu yang sudah berlayar tentu pantang untuk kembali ke pelabuhan. Jalan terus sampai tujuan walaupun banyak hambatan menghadang. Tidak ada nakhoda ulung yang tidak melalui lautan yang berombak ganas. Justru disitulah keahliannya teruji.
Ketika buku ditolak penerbit, maka teruslah belajar menulis dan jangan berhenti menulis. Ketika anda terus menulis, maka tulisanmu akan semakin tajam dan nendang. Pasti tulisanmu akan layak jual dan pasti tulisanmu akan banyak dibaca orang. KUNCI-nya cuma satu, yaitu MAU BELAJAR DAN PANTANG MENYERAH.
Perbaiki dan terus perbaiki buku yang ditolak sehingga penerbit mau menerbitkan bukumu tanpa keluar uang sepeserpun. Andapun akan tersenyum ketika royalty bukumu mencapai angka yang fantastis. Puluhan bahkan ratusan juta rupiah akan diperoleh jika bukumu laku dijual.
Semoga bisa menjadi inspirasi dan motivasi bagi bapak/ibu guru semuanya yang belum mau menulis, apalagi yang sudah menulis dan ditolak penerbit untuk diterbitkan.  
  


1 komentar:

PEMBUATAN VIDEO PEMBELAJARAN