25 Juni 2023

Khutbah Idul Adha Kisah Nabi Ibrahim

 

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ 3x لاَاِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلّهِ اْلحَمْدُ، اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ الله بُكْرَةً وَأَصِيْلاً لاَاِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلّهِ اْلحَمْدُ. اَلْحَمْدُ لِلّهِ الَّذِي جَعَلَ لِلْمُسْلِمِيْنَ عِيْدَالْفِطْرِ بَعْدَ صِياَمِ رَمَضَانَ وَعْيدَالاَضْحَى بَعْدَ يَوْمِ عَرَفَةَ. اَشْهَدُ اَنْ لاَاِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمَلِكُ الْعَظِيْمُ اَلاَكْبَر. وَاَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبدُهُ وَرَسُولُهُ سيد الخلائق والبشر. اللَهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ اَلَّذِيْنَ اَذْهَبَ عَنْهُمُ الرِّجْسَ وَطَهَرَ اَمَّابَعْدُ: فَيَا عِبَادَاللهِ اَتَّقُواللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْن

Khatib mengawali khotbah dengan berwasiat kepada diri sendiri dan jamaah untuk senantiasa meningkatkan ketakwaan dan keimanan kepada Allah Swt. dengan menjalankan kewajiban dan menjauhi larangan-Nya. Pada kesempatan ini khatib akan menyampaikan khutbah seputar kisah Nabi Ibrahim as, yang patut diteladani.

Umat Islam pada hari ini merayakan Hari Idul Adha 1444 H (10 Zulhijah). Menyambut momen besar ini, marilah kita mengingat beberapa kisah teladan dari kehidupan Nabi Ibrahim as. Nabi Ibrahim as. merupakan nabi yang termasuk ulul ‘azmi. Itu adalah gelar yang diberikan Allah Swt. kepada rasul-Nya yang punya ketabahan dan kesabaran luar biasa dalam menjalankan tugasnya. Kisah kehidupan dan dakwah Nabi Ibrahim as. dikisahkan dalam Al-Qur’an maupun hadis.

Pertama, Allah Swt. pernah memberikan perintah kepada Nabi Ibrahim as. supaya menempatkan istrinya, Siti Hajar, bersama putranya, Nabi Ismail As., di sebuah lembah yang sunyi dan sepi. Nabi Ibrahim tidak mengetahui alasan Allah memberikan perintah tersebut. Kendati demikian, berkat kepatuhan dan ketakwaan kepada Allah Swt., Nabi Ibrahim tetap menjalankan perintah itu. Beliau rela berkorban meninggalkan anak dan istrinya di sebuah lembah gersang dan tandus.

Siti Hajar dengan ikhlas mendukung perintah Allah Swt. yang disampaikan kepada suaminya tersebut. Padahal, anaknya, Nabi Ismail as., waktu itu masih menyusu. Peristiwa itu termuat dalam firman Allah Swt. Surah Al-Ibrahim ayat 37 sebagai berikut:

رَبَّنَآ اِنِّيْٓ اَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِيْ بِوَادٍ غَيْرِ ذِيْ زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِۙ رَبَّنَا لِيُقِيْمُوا الصَّلٰوةَ فَاجْعَلْ اَفْـِٕدَةً مِّنَ النَّاسِ تَهْوِيْٓ اِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِّنَ الثَّمَرٰتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُوْنَ

Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak ada tanamannya [dan berada] di sisi rumah-Mu [Baitullah] yang dihormati. Ya Tuhan kami, [demikian itu kami lakukan] agar mereka melaksanakan salat. Maka, jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan anugerahilah mereka rezeki dari buah-buahan. Mudah-mudahan mereka bersyukur,” (Al-Ibrahim [14]: 37).

Kedua, Allah Swt. pernah memerintahkan kepada Nabi Ibrahim untuk menyembelih putranya, Ismail melalui mimpi. Awalnya, Nabi Ibrahim as. takut mimpi tersebut datang dari setan. Namun, setelah perintah tersebut datang beberapa kali dalam mimpinya, Nabi Ibrahim yakin bahwa itu adalah wahyu dari Allah Swt. Nabi Ibrahim kemudian menyampaikan kepada Ismail perihal perintah itu. Tanpa membantah sedikitpun, dengan ketakwaan dan keimanannya, Nabi Ismail As. menyetujui perintah Allah Swt. agar Nabi Ibrahim menyembelih dirinya. Kemudian, tepat pada 10 Zulhijah sewaktu Nabi Ismail as. berusia 7 (ada yang berpendapat 13 tahun), Nabi Ibrahim menjalankan perintah untuk menyembelih Nabi Ismail.

Dengan hati yang sedih dan wajah berlinang air mata, keduanya saling mengikhlaskan, demi menjalankan perintah dari Allah Swt. Kejadian itu dapat menjadi contoh ketauladanan luar biasa dari kedua utusan Allah Swt. tersebut. Bahwasannya tidak ada yang lebih mulia dibanding mengikuti perintah-Nya; tidak ada yang lebih nikmat dibanding menjalankan kewajiban, demi mendapat ridha-Nya.

Nabi Ibrahim pun membawa Ismail ke Mina. Kemudian, beliau membaringkan putranya di atas pelipisnya. Pada saat-saat yang dipenuhi kesedihan itu, Ismail mengatakan kepada ayahnya:

“Wahai ayahku! Kencangkanlah ikatanku agar aku tidak lagi bergerak, singsingkanlah bajumu agar darahku tidak mengotori, dan (jika nanti) ibu melihat bercak darah itu niscaya ia akan bersedih, percepatlah gerakan pisau itu dari leherku, agar terasa lebih ringan bagiku karena sungguh kematian itu sangat dahsyat. Apabila engkau telah kembali maka sampaikanlah salam (kasih)ku kepadanya.” (Syekh Muhammad Sayyid Ath-Thanthawi, Tafsir Al-Wasith, [Beirut, Darul Fikr: 2005 M], halaman 3582).

Layaknya seorang ayah pada umumnya, Nabi Ibrahim sempat menjawab ucapan anaknya itu dengan keharuan. Dalam Tafsir Mafatihul Ghaib dituliskan bahwa Nabi Ibrahim saat itu menyampaikan demikian:

"Sungguh, sebaik-baiknya pertolongan adalah engkau wahai anakku dalam menjalankan perintah Allah,” (Imam Fakhruddin Ar-Razi, Tafsir Mafatihul Ghaib, [Beirut, Darul Kutub: 2000 M], juz XXVI, halaman 138).

Nabi Ibrahim tak kuasa menahan isak tangis. Air mukanya menandakan kesedihan, sekaligus tanda keikhlasan atas perintah Allah Swt. Air matanya pun mengalir. Setelah sempat mencium putranya dengan penuh kasih sayang, diambilnya pisau dan hendak menyembelih anaknya dengan penuh keikhlasan. Ismail pun berkata lagi:

“Wahai ayahku! Palingkanlah wajahku hingga tak terlihat olehmu! Karena sungguh, jika melihat wajahku, engkau akan selalu merasa iba. Perasaan iba itu dapat menghalangi kita untuk melaksanakan perintah Allah. Apalagi di depan mataku terlihat kilatan pisau yang sangat tajam, tentu membuatku ketakutan.” (Syekh Abu Ishaq bin Ibrahim Ats-Tsa’labi, Tafsir Ats-Tsa’labi, [Beirut, Darul Ihya’: 2002 M], halaman 1901).

Namun, berkat rahmat dan kasih sayang Allah Swt., Ismail tidak jadi dikurbankan. Saat Nabi Ibrahim hendak menyembelih putranya, Allah Swt. menggantinya dengan seekor domba. Peristiwa Nabi Ibrahim menyembelih Ismail termuat dalam firman Allah Swt. Surah As-Saffat ayat 102-107 sebagai berikut:

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يٰبُنَيَّ اِنِّيْٓ اَرٰى فِى الْمَنَامِ اَنِّيْٓ اَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرٰىۗ قَالَ يٰٓاَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُۖ سَتَجِدُنِيْٓ اِنْ شَاۤءَ اللّٰهُ مِنَ الصّٰبِرِيْنَ فَلَمَّآ اَسْلَمَا وَتَلَّهٗ لِلْجَبِيْنِۚ وَنَادَيْنٰهُ اَنْ يّٰٓاِبْرٰهِيْمُ ۙ قَدْ صَدَّقْتَ الرُّءْيَا ۚاِنَّا كَذٰلِكَ نَجْزِى الْمُحْسِنِيْنَ اِنَّ هٰذَا لَهُوَ الْبَلٰۤؤُا الْمُبِيْنُ وَفَدَيْنٰهُ بِذِبْحٍ عَظِيْمٍ

“Ketika anak itu sampai pada [umur] ia sanggup bekerja bersamanya, ia [Ibrahim] berkata, 'Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Pikirkanlah apa pendapatmu?' Dia [Ismail] menjawab, 'Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan [Allah] kepadamu! Insyaallah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang sabar.' Ketika keduanya telah berserah diri dan dia [Ibrahim] meletakkan pelipis anaknya di atas gundukan [untuk melaksanakan perintah Allah], Kami memanggil dia, 'Wahai Ibrahim, sungguh, engkau telah membenarkan mimpi itu.” Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat kebaikan. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Kami menebusnya dengan seekor [hewan] sembelihan yang besar”.

Dari dua kisah Nabi Ibrahim as. di atas, kita belajar bahwa Allah Swt. memberikan perintah tidak semata-mata untuk mencelakakan makhlukNya. Terdapat berbagai hikmah dibalik suatu kejadian yang menimpa kehidupan kita. Manusia harus senantiasa ikhlas atas segala ketentuan Allah Swt.

Demikianlah khotbah Idul Adha 2023 seputar kisah Nabi Ibrahim As. Semoga apa yang telah disampaikan memberikan kebermanfaatan bagi khatib maupun jemaah sekalian.

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

 

22 Juni 2023

Keutamaan Puasa Hari Arofah Dan Amalan Yang Bernilai Ibadah Hajji Dan Umrah

 الْحَمْدُ للهِ القَوِيِّ المَتِينِ، سُبْحَانَهُ خَلَقَ الإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ، وَهَدَاهُ لِلْمَنْهَجِ القَوِيمِ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيَّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُ اللهِ وَرَسُولُهُ، لَمْ يَزَلْ مُتَوَكِّلاً عَلَى رَبِّهِ، وَاثِقًا بِوَعدِهِ، صَلَّى اللهُ عَلَى سيدنا محمد وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ، وَعَلَى كُلِّ مَنْ اقْتَفَى أَثَرَهُ وَتَرَسَّمَ خُطَاهُ إِلَى يَومِ الدِّينِ. اما بعد: يَاأَيُّهَا الناس اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

Kita saat ini tengah berada pada jum’at pertama dan di hari keenam bulan Dzulhijjah. Berarti sudah  5 hari kita  memasuki bulan Dzulhijjah 1444 H. Dengan demikian kita telah 2 bulan keluar dari madrasah Ramadhan, dan kini bersiap dengan tarbiyah Allah SWT yang lain, yakni madrasah Dzulhijjah. Mengapa disebut madrasah Dzulhijjah? Karena pada bulan ini ada tiga ibadah besar yang sarat dengan nilai-nilai tarbiyah; haji, shalat idul adha dan qurban. Di samping ada pula ibadah sunnah muakkad bagi yang tidak menunaikan haji yakni puasa arafah.

Alhamdulillah Wasyukrulillah Alloh SWT masih meberikan kesempatan hidup menggunakan  kesempatan emas untuk meraih banyak keutamaan di bulan Dzulhijjah. Memperbanyak ibadah sejak tanggal 1 Dzulhijjah merupakan pilihan yang cerdas, sebab banyak hadits yang menjelaskan keutamaannya. Selain ibadah hajji, bisa berupa puasa sunnah hari arofah, memperbanyak shadaqah, berdzikir, do’a, tilawah, dan amal shalih lainnya. Rasulullah SAW bersabda:

مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ فِيهِ أَفْضَلُ مِنْ عَشَرِ ذِي الْحِجَّةِ، قِيلَ: وَلا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ؟ قَالَ: وَلا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ قَالَ :« وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْجِعْ بِشَىْءٍ

“Tidak ada hari-hari di mana amal shalih lebih disukai oleh Allah Azza wa Jalla dari pada hari-hari ini, yakni hari pertama hingga kesepuluh Dzulhijjah.” Para shahabat pun bertanya, “Ya Rasulullah, meskipun dibandingkan dengan berjihad fi sabilillah?” Beliau menjawab, “Memang, meskipun dibandingkan dengan berjihad fi sabilillah, kecuali seorang yang pergi membawa nyawa dan hartanya, kemudian tidak satu pun diantara keduanya itu yang kembali (mati syahid).” (HR. Muslim dan Nasai)

Dalam hadits yang lain Rasulullah SAW bersabda:

مَا مِنْ أَيَّامٍ أَعْظَمَ عِنْدَ اللَّهِ وَلاَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنَ الْعَمَلِ فِيهِنَّ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ الْعَشْرِ فَأَكْثِرُوا فِيهِنَّ مِنَ التَّهْلِيلِ وَالتَّكْبِيرِ وَالتَّحْمِيدِ

Tidak ada hari-hari yang dianggap lebih agung oleh Allah SWT dan lebih disukai untuk digunakan sebagai tempat beramal sebagaimana hari pertama hingga kesepuluh Dzulhijjah ini. Karenanya, perbanyaklah pada hari-hari itu bacaan tahlil, takbir, dan tahmid. (HR. Ahmad)

مَا مِنْ أَيَّامٍ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ أَنْ يُتَعَبَّدَ لَهُ فِيهَا مِنْ عَشْرِ ذِى الْحِجَّةِ يَعْدِلُ صِيَامُ كُلِّ يَوْمٍ مِنْهَا بِصِيَامِ سَنَةٍ وَقِيَامُ كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْهَا بِقِيَامِ لَيْلَةِ الْقَدْرِ

Tidak ada hari-hari yang lebih disukai Allah untuk digunakan beribadah sebagaimana halnya hari-hari sepuluh Dzulhijjah. Berpuasa pada siang harinya sama dengan berpuasa selama satu tahun dan shalat pada malam harinya sama nilainya dengan mengerjakan shalat pada malam lailatul qadar. (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Baihaqi)

Salah satu ibadah yang sangat dianjurkan saat umat Islam berada di bulan Dzulhijjah adalah puasa. Yakni puasa sunah yang dilaksanakan pada hari Arafah dan Tarwiyah. Puasa Tarwiyah adalah puasa sunah yang dikerjakan pada tanggal 8 Dzulhijah. Sedangkan puasa Arafah yakni dilaksanakan pada tanggal 9 Dzulhijjah.

Dan puasa ini sangat dianjurkan bagi orang-orang yang tidak menjalankan ibadah haji. Sedangkan teknis pelaksanaannya sama dengan yang cuman  niat dan waktunya saja yang membedakan dengan puasa lain. Puasa Tarwiyah dan Arafah sangat dianjurkan untuk turut merasakan nikmat yang sedang dirasakan oleh para jamaah haji yang sedang menjalankan ibadah di Tanah Suci.   Sebagai catatan, jika terjadi perbedaan dalam penentuan awal bulan Dzulhijjah antara pemerintah Arab Saudi dan Indonesia, maka umat Islam Indonesia melaksanakan puasa Arafah dan Tarwiyah sesuai dengan ketetapan pemerintah setempat. Ini didasarkan pada perbedaan posisi geografis semata.

Puasa ini disunnahkan bagi kita yang tidak sedang mengerjakan haji. Adapun bagi mereka para jamaah haji, mereka tidak diperbolehkan berpuasa. Saat itu karena mereka harus wukuf di Arafah. Dengan demikian, keutamaan hari Arafah bisa dinikmati oleh orang yang sedang berhaji maupun yang tidak sedang berhaji.

Keutamaan puasa Arafah ini diriwayatkan oleh Abu Qatadah r.a.:

سُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ فَقَالَ «يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ وَالْبَاقِيَةَ »

Rasulullah SAW pernah ditanya tentang puasa hari Arafah, beliau menjawab, “Puasa itu menghapus dosa satu tahun yang lalu dan satu tahun berikutnya.” (HR. Muslim)

Subhaanallah, luar biasa. Mendengar keutamaan puasa Arafah ini, pantaslah bila pada hari Arafah itu banyak orang yang dibebaskan Allah SWT dari siksa neraka.

مَا مِنْ يَوْمٍ أَكْثَرَ مِنْ أَنْ يُعْتِقَ اللَّهُ فِيهِ عَبْدًا مِنَ النَّارِ مِنْ يَوْمِ عَرَفَةَ

Tidak ada satu hari yang pada hari itu Allah membebaskan para hamba dari api neraka yang lebih banyak dibandingkan hari Arafah. (HR. Muslim)

Lalu bagaimana dengan kita yang di bulan Dzulhijjah 1443 H ini belum mampu menunaikan haji? Masih ada banyak amal sholeh dan amalan mulia lain yang kita kerjakan bahkan bernilai seperti pahala ibadah hajji.

Allah Ta’ala dengan hikmah-Nya telah mensyariatkan beberapa amal ibadah yang jika dilakukan oleh seorang hamba, maka pahalanya dapat menyamai pahala haji ataupun umrah. Amalan-amalan yang perlu untuk kita ketahui, lalu kita amalkan. Sehingga bisa menjadi tabungan amal kita di akhirat nanti.

Perlu kita garis bawahi, maksud dari amalan-amalan yang setara dengan ibadah haji ini adalah setara dalam hal pahala dan balasan, bukan pada pengesahan, pencukupan, dan pengguguran kewajiban sebuah ibadah. Kewajiban haji tidak akan gugur dari seseorang yang telah mampu serta tidak memiliki penghalang, meskipun ia telah melakukan amalan-amalan yang pahalanya setara dengan ibadah haji ini.

Saat seseorang benar-benar sudah tidak mampu melaksanakan ibadah haji karena adanya penghalang, baik itu karena sakit, adanya wabah, ataupun penghalang-penghalang lainnya, maka melakukan amalan-amalan yang pahalanya setara dengan pahala ibadah haji ini lebih ditekankan untuk dilakukan. Lalu, amalan apa saja yang akan memberikan seorang hamba pahala yang setara dengan pahala ibadah haji ini?

Pertama: Niat yang tulus untuk menunaikan ibadah haji

Niat yang tulus memiliki kedudukan yang sangat penting dalam ibadah seorang hamba. Diriwayatkan dari sahabat Jabir radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,

كُنَّا مع النَّبيِّ صَلَّى اللَّهُ عليه وَسَلَّمَ في غَزَاةٍ، فَقالَ: إنَّ بالمَدِينَةِ لَرِجَالًا ما سِرْتُمْ مَسِيرًا، وَلَا قَطَعْتُمْ وَادِيًا، إلَّا كَانُوا معكُمْ؛ حَبَسَهُمُ المَرَضُ. وفي رواية: إلَّا شَرِكُوكُمْ في الأجْرِ

“Kami berada bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam suatu peperangan. Kemudian beliau bersabda, ‘Sesungguhnya di Madinah itu ada beberapa orang lelaki yang kalian tidaklah menempuh suatu perjalanan dan tidak pula menyeberangi suatu lembah, melainkan orang-orang tadi ada besertamu (yakni sama-sama memperoleh pahala). Mereka itu terhalang oleh sakit (maksudnya uzur karena sakit, sehingga andaikan tidak sakit pasti ikut berperang).” Dalam salah satu riwayat dijelaskan, “Melainkan mereka (yang tertinggal dan tidak ikut berperang) berserikat denganmu dalam hal pahala.” (HR. Muslim no. 1911)

An-Nawawi rahimahullah mengatakan, “Di dalam hadis ini terdapat keutamaan niat untuk melakukan kebaikan. Dan sesungguhnya bagi siapapun yang berniat ikut berperang ataupun melakukan amal kebaikan lainnya, lalu ia mendapati uzur yang menghalanginya (dari melakukan amal tersebut), maka ia tetap mendapatkan pahala atas apa yang telah ia niatkan.” (Syarh Shahih Muslim)

Kedua: Menjaga salat lima waktu secara berjemaah di masjid

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَن خرَجَ مِن بيتِه متطهِّرًا إلى صلاةٍ مكتوبةٍ، فأجْرُه كأجرِ الحاجِّ المُحرِمِ، ومَن خرَجَ إلى تسبيحِ الضُّحى لايُنصِبُه إلَّا إيَّاهُ، فأجْرُه كأجرِ المُعتمِرِ، وصلاةٌ على أثَرِ صلاةٍ لا لَغْوَ بينَهما كتابٌ في عِلِّيِّينَ

“Barangsiapa keluar dari rumahnya dalam keadaan bersuci untuk salat wajib berjemaah, maka pahalanya seperti pahala orang yang berhaji dan sedang berihram. Dan siapa saja yang keluar untuk salat sunah Duha yang dia tidak melakukannya kecuali karena itu, maka pahalanya seperti pahala orang yang berumrah. Dan (yang melakukan) salat setelah salat lainnya, tidak melakukan perkara sia-sia antara keduanya, maka pahalanya ditulis di ‘illiyyin (kitab catatan amal orang-orang saleh).” (HR. Abu Daud no. 558)

Ketiga: Umrah di bulan Ramadan

            Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam baru saja kembali dari hajinya, beliau bertanya kepada Ummu Sinan Al-Anshariyyah radhiyallahu ‘anha,

ما مَنَعَكِ مِنَ الحَجِّ؟

“Apa yang menghalangimu untuk menunaikan haji?”

Perempuan tersebut menjawab,

أبو فُلَانٍ -تَعْنِي زَوْجَهَا- كانَ له نَاضِحَانِ، حَجَّ علَى أحَدِهِمَا، والآخَرُ يَسْقِي أرْضًا لَنَا

“Bapak si fulan, yang ia maksud suaminya, memiliki dua ekor unta yang salah satunya sering digunakan untuk menunaikan haji, sedangkan unta yang satunya lagi digunakan untuk mencari air minum buat kami.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun bersabda,

فإنَّ عُمْرَةً في رَمَضَانَ تَقْضِي حَجَّةً -أوْ حَجَّةً مَعِي-.

“Umrah pada bulan Ramadan sebanding dengan haji atau haji bersamaku.” (HR. Bukhari no. 1863 dan Muslim no. 1256)

Keempat: Zikir setelah salat

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu mengisahkan,

“Ada orang-orang miskin datang menghadap Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Mereka berkata, ‘Orang-orang kaya itu pergi membawa derajat yang tinggi dan nikmat yang tiada hingga. Mereka (orang-orang kaya) salat sebagaimana kami salat, puasa sebagaimana kami puasa. Namun, mereka memiliki kelebihan harta sehingga bisa berhaji, berumrah, berjihad, serta bersedekah.’ Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam lantas bersabda, ‘Maukah kalian aku ajarkan suatu amalan yang dengan amalan tersebut kalian akan mengejar orang yang mendahului kalian dan dengannya menjadi terdepan dari orang yang setelah kalian. Dan tidak ada seorang pun yang lebih utama daripada kalian, kecuali orang yang melakukan hal yang sama seperti yang kalian lakukan. Kalian bertasbih, bertahmid, dan bertakbir di setiap akhir salat sebanyak tiga puluh tiga kali.’

(Abu Hurairah mengatakan), “Kami pun berselisih. Sebagian kami bertasbih tiga puluh tiga kali, bertahmid tiga puluh tiga kali, bertakbir tiga puluh empat kali. Aku pun kembali padanya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Ucapkanlah subhanallah wal hamdulillah wallahu akbar, sampai tiga puluh tiga kali.’” (HR. Bukhari no. 843)

 

Kelima: Menghadiri majelis ilmu dan mengajarkannya

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَن غدا إلى المسجدِ لا يُرِيدُ إلَّا أن يتعلَّمَ خيرًا أو يُعلِّمَه كان له كأجرِحاجٍّ تامًّا حجَّتُه

“Barangsiapa berangkat ke masjid, tidak ada yang ia inginkan kecuali untuk mempelajari satu kebaikan atau mengetahui ilmunya, maka ia akan mendapatkan pahala haji yang sempurna.” (HR. Thabrani 8: 111 dan dihukumi hasan sahih oleh Syekh Albani dalam kitabnya Shahih At-Targib)

Memahami kemuliaan zulhijjah serta amalan dan ibadah yang dianjurkan dibulan zulhijjah inilah seharusnya tertanam kuat dalam jiwa kita dan menjadi pemicu bagi kita untuk terus meningkatkan ketaqwaannya.

Demikianlah amal-amal khusus selama bulan Dzulhijjah. Semoga Dzulhijjah 1444 H. ini semakin mendekatkan kita kepada Allah SWT sehingga kita memperoleh ridha, rahmat, dan ampuan-Nya. Dan memperoleh kemuliaan-kemuliaan dibulan Zulhijah serta terhindar dari segala bencana dan musibah selamat bahagia didunia lebih-lebih diakhirat kelak Amin ya Robbal’alamin.

 باَرَكَ اللهُ لِيْ وَلكمْ فِي القُرْآنِ العَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيّاكُمْ بِالآياتِ والذِّكْرِ الحَكِيْمِ.  إنّهُ تَعاَلَى جَوّادٌ كَرِيْمٌ مَلِكٌ بَرٌّ رَؤُوْفٌ رَحِيْمٌ

29 Mei 2023

Membangun Masa Depan Bersama Guru Juara

 REVISI SERTIFIKAT 32JP SD/MI SUDAH TERKIRIM
18-21 MEI 2023

Salam Guru Juara
Bapak Hasanuddin, QH., M. Pd. I.
--- --- ---
Terimakasih telah berpartisipasi dalam kegiatan kami. semoga silaturahmi dalam rangka pembelajaran ini terus kita jalin. Berikut kami lampirkan terkait fasilitas kegiatan:
... ... ...
1️⃣ SERTIFIKAT
https://drive.google.com/file/d/1jNYfWJ7mJhhnv4vMbSwD1rRlmfsggqj8/view?usp=drivesdk

2️⃣ FASILITAS & MATERI
https://drive.google.com/drive/folders/1Uf5NBeM0cSbO8UVCF8tqIOVNGSRtVWH9?usp=sharing
___
NOTE :
Jika link diatas belum aktif atau tidak bisa diklik silahkan bisa kirim pesan ini ke saya kembali atau bisa menyimpan nomor ini terlebih dahulu dengan nama GURUJUARA
___
☎️ Forum Diskusi Sertifikat:
t.me/RekanAyuTri_Gurujuara/15

23 Mei 2023

Penguatan Kompetensi Penceramah, Kemenag: Tekankan Pesan-pesan Kebangsaan dalam Dakwah

 

Jakarta, Bimas Islam -- Koordinator Fungsi Dakwah dan Hari Besar Islam, Kementerian Agama, Lubenah menyampaikan, program Penguatan Kompetensi Penceramah Agama Islam dimaksudkan untuk memberi jaminan kepada masyarakat terkait pelayanan bimbingan agama. Para pendakwah, menurutnya, memegang peranan penting dalam menyampaikan pesan-pesan kebangsaan dan persatuan.
 
Hal itu disampaikannya pada kegiatan Bimbingan Teknis Penguatan Kompetensi Penceramah Agama Islam, Senin, (22/5/2023) di Jakarta.
 
Lubenah mengatakan, Indonesia merupakan bangsa dengan tingkat religiositas yang sangat tinggi. Sehingga, segala sesuatu yang disampaikan para dai sangat memengaruhi masyarakat. 
 
"Di sinilah pesan-pesan kebangsaan tentang pentingnya toleransi, persaudaraan, persatuan dan kesatuan di tengah perbedaan, penting ditekankan dalam aktivitas dakwah," ungkapnya.
 
Melihat kondisi tersebut, menurut Lubenah, dibutuhkan penguatan wawasan kebangsaan di kalangan penceramah. "Kita memerlukan para penceramah yang memiliki kedalaman ilmu agama, sekaligus kedalaman wawasan kebangsaan dan kebudayaan," ujarnya.
 
"Sehingga, ceramah-ceramah yang digaungkan di tengah masyarakat adalah ceramah yang sudah didasari pengetahuan yang mumpuni dan kontemplasi mendalam, terkait bagaimana membangun pemahaman agama yang moderat. Pemahaman agama yang berbuah sikap beragama yang santun, bersahabat, toleran, membawa kebaikan, dan merepresentasikan Islam Rahmatan lil alamin," sambungnya.
 
Ia menuturkan, wawasan kebangsaan dapat ditunjukkan dengan mengenal, memahami, dan menghargai berbagai tradisi, budaya, dan kearifan lokal di tengah masyarakat. Menurutnya, dengan wawasan tersebut, kecintaan seorang dai pada tanah airnya akan semakin kuat.
 
Bimbingan Teknis Penguatan Kompetensi Penceramah Agama Islam ini digelar selama tiga hari, Senin-Rabu (22-24/05/2023) di Jakarta, dihadiri 80 peserta perwakilan Organisasi Masyarakat Islam seluruh Indonesia.
 

Jaga Kerukunan, Dirjen Bimas Islam Harap Penceramah Bawa Pesan Moderat

 

Jakarta, Bimas Islam -- Dirjen Bimas Islam, Kamaruddin Amin berharap, para penceramah bisa membawa pesan-pesan moderat kepada masyarakat.
 
Ia mengatakan, penceramah bisa mengisi ruang di tengah umat dan mengajak masyarakat untuk menjaga kerukunan.
 
Hal itu disampaikannya pada kegiatan Bimbingan Teknis Penguatan Kompetensi Penceramah Agama Islam Senin (22/05/2023) di Jakarta.
 
"Kita ingin bisa mengisi ruang-ruang spritualitas umat dengan pencerahan keagamaan yang wasathiyah," tuturnya.
 
Ia juga berharap, melalui penguatan kompetensi penceramah agama, akan tercipta toleransi dan moderasi di tengah-tengah masyarakat.
 
"Kami berharap, setelah mengikuti kegiatan ini, kita bisa bersama-sama untuk menyampaikan pesan-pesan agama yang wasathiyah, pesan agama yang moderat, toleran, dan menghargai perbedaan," harapnya.
 
Kegiatan Bimbingan Teknis Penguatan Kompetensi Penceramah Agama Islam ini digelar selama tiga hari, Senin-Rabu (22-24/05/2023), diikuti 80 peserta perwakilan Organisasi Masyarakat Islam seluruh Indonesia.
 

Dirjen Bimas Islam Minta Penceramah Angkat Tema "Agama dalam Bernegara"

 

Jakarta, Bimas Islam -- Agama menjadi salah satu unsur penting dalam kehidupan bernegara. Namun, keberadaannya belum ditempatkan pada posisi strategis. Karenanya, dibutuhkan penceramah yang dapat mengangkat tema agama dalam kehidupan bernegara pada materi dakwahnya.
 
Demikian disampaikan Dirjen Bimas Islam, Kamaruddin Amin pada kegiatan Bimbingan Teknis Penguatan Kompetensi Penceramah Agama Islam, Senin (22/05/2023) di Jakarta.
 
Menurutnya, Indonesia merupakan negara yang memiliki banyak perbedaan, di antaranya agama, ras, dan suku bangsa. Kamaruddin berharap, penceramah juga bisa memberi pemahaman kepada masyarakat terkait pentingnya toleransi.
 
"Penceramah tidak cukup berdakwah tentang fikih saja, tidak kalah pentingnya adalah bagaimana konsep agama ini bisa menjadi bagian penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara," ucapnya.
 
Ia melanjutkan, agama juga bisa mengambil peran produktif. "Agama bisa mengambil peran secara produktif dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Agama tidak boleh terus menerus berada di pinggir, agama harus berperan sebagai pusat peradaban," ujar Dirjen.
 
Kamaruddin berharap, melalui kegiatan Bimbingan Teknis Penguatan Kompetensi Penceramah Agama Islam ini, penceramah dapat menyampaikan pesan wasathiyah kepada masyarakat, agar kecintaan terhadap negara meningkat, dan kerukunan antarumat tetap terjaga.
 
"Kami berharap, setelah mengikuti kegiatan ini, kita bisa bersama-sama menyampaikan pesan-pesan agama yang wasathiyah, pesan agama yang moderat, toleran, dan menghargai perbedaan," pungkasnya.
 

Waketum PBNU: Para Dai Perlu Bangun Nilai-nilai Moderasi

 

Jakarta, Bimas Islam -- Wakil Ketua Umum PBNU (Pengurus Besar Nahdlatul Ulama), Zulfa Mustafa menyampaikan, peran dai sangat penting bagi masyarakat, karena segala sesuatu yang diungkapkan para dai akan langsung dipercaya.
 
Oleh karena itu, ia berpesan agar para dai mampu membangun nilai-nilai moderasi di masyarakat.
 
Hal itu disampaikannya saat memberi materi 'Konsep Moderasi Dakwah MUI (Majelis Ulama Indonesia)' pada rangkaian kegiatan Bimbingan Teknis Penguatan Kompetensi Penceramah Agama Islam, Senin (22/05/23) di Jakarta.
 
"Para dai ini sangat penting, karena ucapannya didengar oleh masyarakat. Karenanya, para dai berperan penting membangun moderasi di Indonesia," ujarnya.
 
Zulfa mengatakan, dai juga bisa mengambil peran dalam upaya meningkatkan literasi keagamaan. Menurutnya, masyarakat lebih banyak mendapat ilmu keagamaan melalui masjid dan majelis taklim, bukan dengan membaca.
 
"Literasi pengetahuan umat ini paling banyak dari majelis taklim dan masjid, bukan membaca, bukan pendidikan. Maka, peran dai (dalam peningkatan literasi) itu sangat penting," pungkasnya.
atau kunjungi: https://bimasislam.kemenag.go.id/post/berita/waketum-pbnu-para-dai-perlu-bangun-nilai-nilai-moderasi

PEMBUATAN VIDEO PEMBELAJARAN