BERBAGI PENGALAMAN MENJADI PEMENANG INOBEL
Oleh: Hasanuddin
Alhamdulillah,
dipanjatkan puji syukur kehadirat Allah swt yang telah memberikan kesehatan dan
kesempatan kepada penulis khususnya sehingga bisa mengikuti perkuliahan online
selama bulan Ramadhan, selama Pandemi Covid-19, dan selama WFH (Work From
Home).
Shalawat dan
salam semoga selalu tercurahkan kepada Nabi Muhammad saw beserta keluarga,
sahabat, dan pengikutnya yang setia melaksanakan ajarannya dan mudah-mudahan
kita semua mendapatkan syafaatnya di yaumil akhir.
Adapun jadwal,
narsum, dan tema kita pada hari ini adalah sebagai berikut:
No
|
Hari/Tanggal
|
Nara Sumber
|
Tema
|
1
|
Selasa,
19 Ramadhan 1441 H/ 12 Mei 2020 M
|
Arif Darmadiansah (Alor NTT)
|
Berbagi Pengalaman Menjadi Pemenang Inobel
|
Pemateri kita kali ini, yaitu Bapak Arif
Darmadiansah. Ia asalnya dari Solo akan tetapi mengabdikan dirinya di Alor Nusa
Tenggara Timur (NTT). Ia mengajar di sekolah yang disebut dengan 3T, akan
tetapi tidak menyurutkan langkahnya untuk bisa berprestasi. Sekolahnya ada di
atas perbukitan sehingga sulit dijangkau dan belum banyak fasilitas yang
tersedia, belum ada listrik, dan sebagainya.
Dengan keterbatasan fasilitas dan sarana prasarana sekolah,
bapak arif tidak kehabisan akal dalam membina dan mendidik peserta didik supaya
menjadi anak yang cakap dan cerdas serta memiliki motivasi dan semangat yang
tinggi dalam belajar. Agar anak memiliki motivasi dan semangat yang tinggi
dalam belajar, diperlukan inovasi dari seorang guru. Hal itulah yang dilakukan
oleh pak arif di sekolahnya yang terpencil dengan membuat media pembelajaran
sederhana dari tutup mika tutup CD bekas yang diperoleh dari temannya. Bahan-bahan
yang sangat sederhana tersebut dirancang pak arif sebagai pengganti proyektor.
Sebelum mengikuti perlombaan dan menjadi pemenang, pak arif
melakukan berbagai inovasi dalam pembelajarannya sehingga tidak membosankan
peserta didik. Ide inovasi itu muncul dari sebuah masalah yang dihadapinya di
sekolah yang sudah barang tentu banyak masalah. Dan dari ide itu kemudian
dipikirkan kira-kira mampu dan bisa tidak diterapkan di sekolah dengan kondisi
sekolah yang serba kurang fasilitas, tidak ada listrik, sinyal telp, apalagi
yang namanya internet. Kemudian mengembangkan ide tersebut menjadi sebuah
produk yang bisa berupa media, bahan ajar, dan lain sebagainya.
Setelah semuanya selesai dan diaplikasikan dalam
pembelajaran kemudian ia menuliskannya menjadi sebuah karya ilmiah dan bersiap-siap
untuk mengikuti kompetisi. Karya ilmiah dapat berupa penelitian tindakan kelas,
eksperimen atau pengembangan (R&D). Dalam mengikuti perlombaan, ada
beberapa syarat administrasi yang diminta misalkan surat peryataan aktif
mengajar, surat bukan kepala sekolah, dan lainnya. Tahap pertama seleksi administrasi
kemudian dilakukan penilaian proposal penelitian. Apabila lolos maka akan
mendapatkan undangan bimtek dari kemendikbud, setelahnya melakukan penelitian
pelaksanaan di sekolah dan mengirim kembali ke portal sebagai laporan akhir
penelitian, dilakukan seleksi dan didapatkan peserta finalis yang akan kembali
diundang untuk mempresentasikan hasil karya ilmiahnya. Untuk jenjang SMA ada 3
bidang, ayitu SMA, SMK dan sekolah inklusi.
Untuk jenjang dikdas kalau tidak
salah langsung mengirim laporan hasil penelitiannya. bidangnya ada IPA, SOSHUM dan
lainnya. Pada tahun 2016 diambil 100 peserta yang lolos sebagai finalis. SMA 50
dan SMK 50, waktu itu belum ada inklusi. Tahun 2018 format dibedakan kembali,
ada kategori utama bagi peserta yang pernah juara, madya yang pernah masuk
finalis namun belum juara dan pemula bagi yang pertama kali mengikuti. Tes yang
dilakukan saat babak final meliputi tes tertulis, tes presentasi dan laporan
hasil penelitian. Tes tertulis berisi
soal peadagogik pilihan ganda 100 soal.
Kembali pada pengalamannya dalam
membuat media pembelajaran sederhana. Sekolahnya pak arif berada di ujung Alor,
di puncak perbukitan, berbatasan langsung dengan negara tetangga Timur Leste
yang dipisahkan oleh selat. Ke Dili lebih dekat daripada ke Kupang bila naik
kapal atau pesawat. Minimnya sarana prasarana membuat kegelisahan dan tantangan
untuk berbuat lebih baik. Tahun 2016 itu terinspirasi dari sebuah proyektor
hologram 3d, ia ingin menjelaskan invertebrata tapi anak-anak tidak punya
gambaran sama sekali. Agar pembelajarannya menjadi menarik, ia mencoba membuat
media sederhana. Pertama terbuat dari mika tutup CD bekas itu, yang dibentuk
seperti prisma sebagai tempat hologramnya dan HP android sebagai penayang video
atau gambarnya. Mika CD tersebut ia dapatkan dari teman guru. Namun, setelah
lolos masuk finalis kemudian ia menggantinya dengan akrilik. Beli di toko
harganya 30 ribu seukuran kertas A4. Tampilannya lebih jelas, gambarnya juga detail
dan tidak kusam dengan menggunakan metode pengembangan (R&D) dalam
penelitiannya.
Tahun 2018, sudah punya gambaran dan pengalaman sebelumnya. Dengan demikian, ia menjadi lebih siap dengan
apa yang harus dilakukan. Media tersebut diberi nama Millea (mikroskop lensa laser tenaga surya). Ide
tersebut diperoleh saat mau pembelajaran struktur tumbuhan. Tidak ada mikroskop
untuk pengamatan padahal biologi 40 persen praktek di lab yang membutuhkan alat,
salah satunya yaitu mikroskop. Media ini juga sederhana, yaitu HP yang
ditambahi lensa laser bekas mainan anak-anak yang biasa dipakai untuk
sorot-sorot itu. sehingga perbesarannya bertambah, sudah cukup untuk dapat
melihat struktur anatomi tumbuhan. Walaupun belum maksimal namun ada hal baru
yang anak dapat. Dari 2 ide itu, ia sangat beruntung mendapatkan nomor juara.
Ia beranggapan bahwa hal itu karena dewan juri mungkin merasa
kasian melihatnya sebagai guru kampung yang jauh-jauh datang ke Ibukota untuk
belajar. Dari awal niatnya hanya untuk belajar, bukan untuk ikut kompetisi. Itulah
sedikit pengalaman guru hebat yang berasal dari daerah dan sekolah terpencil
(3T) tetapi bisa menjadi pemenang.
Mudah-mudahan pengalaman Bapak Arif
yang sangat inspiratif tersebut dapat kita ikuti dan laksanakan di sekolah
masing-masing guna membangkitkan gairah siswa untuk belajar, meningkatkan
prestasi siswa, dan yang paling penting mampu mengubah prilaku siswa menjadi
lebih baik.


