Serba Serbi Ramadhan Di Balik Pandemi
Alhamdulillah, 10 bagian pertama bulan Ramadhan (rahmat Allah
swt) sedang kita jalani dengan penuh sukacita dan kehati-hatian karena berada
dibalik pandemi covid-19. Bulan Ramadhan adalah bulan yang agung, bulan yang
dinanti-nantikan kehadirannya oleh setiap insan yang mengetahui apa-apa yang
terkandung dalam bulan Ramadhan, bulan dimana setiap kebajikan dilipatgandakan
berkali-kali lipat, bulan yang nilainya sama dengan seribu bulan. Hal ini
sesuai dengan Hadits Nabi Muhammad SAW yang berbunyi: Sesungguhnya
telah datang padamu bulan yang penuh berkah, dimana Allah mewajibkan kamu
berpuasa, ditutup pintu-pintu neraka dan dibelenggu setan-setan. Padanya ada
suatu malam yang nilainya lebih berharga dari seribu bulan.
Seseorang yang beritikad dan berniat baik di bulan Ramadhan
walaupun ibadahnya sebagain besar dilaksanakan di dalam rumah masing-masing,
maka besar sekali peluang untuk bisa melaksanakannya untuk selanjutnya
mendapatkan surga, sebab pintu surga telah dibuka lebar-lebar. Sebaliknya
kemungkinan masuk neraka akan sangat kecil sebab pintu-pintu neraka telah
ditutup rapat-rapat dan tangan-tangan setan telah dibelenggu. Di samping itu,
pintu-pintu yang biasanya dijadikan sebagai tempat berkumpul dan bercampurnya
laki-laki dan perempuan bukan muhrim yang tidak sesuai dengan syariat juga
ditutup rapat-rapat karena adanya wabah yang sedang melanda Indonesia bahkan
dunia.
Pada bulan Ramadhan terdapat satu malam yang nilainya sama
atau bahkan melebihi nilainya dari seribu bulan yaitu malam Lailatul Qadar.
Seribu bulan apabila kita hitung dengan tahun adalah berarti 83 tahun 4 bulan,
melebihi usia hidup kebiasaan manusia. Barang siapa yang beribadah pada malam
ini, maka nilainya melebihi dari seumur hidupnya (umur kebiasaan). Oleh karena
itulah, Nabi selalu berpesan kepada para sahabat-sahabatnya, Intai-intailah di
malam-malam ganjil sepuluh terakhir di bulan Ramadhan mudah-mudahan anda akan
bertemu dengan malam yang mulia itu.
Satu hal yang sangat utama adalah keutamaan bagi orang yang
melaksanakan Puasa Ramadhan itu sendiri. Nabi menjanjikan: Barang siapa yang
melaksanakan puasa Ramadhan dengan iman dan perhitungan yang matang, maka Allah
SWT akan menghapuskan dosa-dosanya yang telah lalu. Oleh
karena itulah, maka tidak salah apabila para ulama menyatakan bahwa bulan
Ramadhan adalah bulan pembakar dosa, sebab segala dosa-dosa yang telah lalu
akan dibakar seluruhnya dengan mengisi bulan Ramadhan dengan amalan-amalan yang
disebut dengan amaliah Ramadhan.
Amaliah Ramadhan juga dapat dilakukan dalam bentuk memberikan
buka puasa kepada orang yang berpuasa, tadarrus Al-Quran di rumah masing-masing,
memberikan infaq/shodaqah, mengikuti ceramah agama melalui di televisi, siraman
rohani di radio dan lain-lain sebagainya. Yang kesemua itu adalah dalam rangka
meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT walaupun
semuanya kita lakukan di rumah masing-masing, namun semata-mata dengan tujuan
yang sangat mulia, yakni memutus penularan virus corona.
Wabah virus Corona mampu mengubah aktivitas penduduk dunia
secara mendadak, suasana keramaian yang semula terjadi di seluruh belahan dunia
menjadi kesunyian yang mencekam, aktivitas sekolah dan perkantoran berubah
menjadi belajar dan bekerja di rumah, perusahaan dan industri terpaksa berhenti
sesaat, dan beberapa berdampak lahirnya pemutusan hubungan kerja (PHK),
pertumbuhan ekonomi melambat dan berimbas kepada menurunnya kemampuan ekonomi
masyarakat khususnya masyarakat kalangan bawah. Bahkan aktivitas keagamaan yang
sakral pun yang biasanya dilakukan di tempat ibadah, kini semuanya terpaksa dilaksanakan
di rumah. Semua itu dilakukan dalam rangka mencegah penularan virus yang sangat
berbahaya bahkan mematikan ini. Karena pola penyebaran virus ini sulit
dideteksi sehingga menghindari kontak langsung dengan orang lain pada saat
sekarang sangat disarankan. Semua orang mempunyai potensi untuk menularkan
virus ini, baik itu Orang Dalam Pemantauan (ODP), Pasien Dengan Pengawasan (
PDP), dan suspek. Bahkan, bisa ditularkan oleh Orang Tanpa Gejala (OTG) yang
telah berinteraksi dengan orang yang terpapar virus. Penyakit ini memang tidak
memandang strata sosial, pejabat tinggi atau rakyat biasa, ras, negara, bahkan
agama, semua memiliki potensi yang sama untuk tertular dan menularkan.
Wabah Corona meskipun menakutkan bahkan
mematikan tetapi tetap membawa hikmah yang tidak ternilai harganya. Ada beberapa
dampak positif atau hikmah yang muncul antara lain: – Lahirnya kembali kesadaran
akan pentingnya peran pendidikan di keluarga, bahwa peran orangtua dalam
mendidik anak, adalah kewajiban yang utama dan pertama. – Kedekatan dan
keakraban keluarga semakin erat, dalam kondisi biasa, anak-anak kurang mendapat
perhatian orangtua karena kesibukan orangtua di luar rumah untuk mencari
penghasilan/berusaha. Namun dengan work from home, orang tua dapat
menemani anak-anak dan bersama di rumah dalam waktu yang cukup lama. –
Kesadaran kebersihan masyarakat semakin membaik dengan lahirnya kesadaran
mencuci tangan dan menerapkan pola hidup bersih, bijak pada saat batuk dan
bersin serta adanya kerja bakti membersihkan rumah dan lingkungan serta
penyemprotan disinfektan di lingkungan. – Adanya kesadaran dari masyarakat
bahwa mendidik anak ternyata berat, banyak orangtua selama home learning merasa
kesulitan mendampingi anak-anaknya belajar di rumah. Mereka ingin segera
kondisi normal sehingga anak-anak bisa kembali ke sekolah dan belajar di
sekolah. Demikian pula dengan anak-anak yang merasa belajar di sekolah lebih
menyenangkan, karena bisa bertemu dengan kawan-kawan, guru dan lingkungan yang
lebih luas. – Guru-guru menjadi akrab dengan teknologi untuk pembelajaran, yang
semula belum terbiasa menggunakan berbagai aplikasi dan beberapa tools untuk e-learning
atau menggunakan gawai untuk pembelajaran maka sekarang hampir semua guru
menjadi akrab menggunakan perangkat tersebut, ada yang menggunakan aplikasi
dari Google, ada Zoom Cloud Meeting, web sekolah, WhatsApp group, email dan
lain-lain. Tuntutan pelayanan dalam Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) selama
Belajar dari Rumah, maka guru mau tidak mau harus menggunakan TIK dalam
pembelajaran. – Satu hal yang baik dari adanya musibah corona adalah, munculnya
solidaritas sosial yang tumbuh di kalangan masyarakat. Kesadaran berbagi kepada
yang membutuhkan muncul di berbagai komunitas dan masyarakat. Ada pesan yang
menarik dari peristiwa ini, walaupun fisik berjauhan namun hati dan perhatian
selalu dekat. – Para orang tua (kepala keluarga) yang sebelumnya tidak pernah
menjadi imam shalat terutama shalat tarawih, maka mau tidak mau harus belajar
sehingga bisa menjadi imam, bahkan yang biasanya menjadi imam tarawih
menggunakan surat-surat pendek, kini shalat tarawih dengan bacaan 1 (satu) juz
per malam sehingga bisa menghatamkan al Qur’an dalam shalat tarawih dan di luar
tarawih.
Demikianlah beberapa hikmah yang dapat diambil dengan adanya
wabah virus corona. Banyak kejadian yang menyedihkan namun tidak sedikit juga
yang memberikan kabar kegembiraan dan kebaikan bagi kehidupan manusia pada masa
mendatang. Yang utama bagi kita semua sekarang adalah, tetap berpikir positif,
menjaga kesehatan, menggunakan masker jika keluar, jaga jarak dan lebih baik di
rumah, serta peduli dengan masyarakat yang membutuhkan.
Marilah kita semua meningkatkan ketaatan di Bulan Ramadhan
ini dengan cara yang istimewa karena sesungguhnya Allah swt juga telah
memberikan keistimewaan yang berbeda jika dibandingkan dengan 11 bulan lainnya.
Kalau itu semua tidak dilakukan, maka kita akan masuk dalam golongan orang yang
merugi. Dan janganlah kita terpedaya dengan berbagai macam kesenangan dan tipu
daya dunia yang sifatnya hanya sesaat karena kehidupan abadi telah menanti
kita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar