30 April 2020

Serba Serbi Ramadhan Di Balik Pandemi


Serba Serbi Ramadhan Di Balik Pandemi

Alhamdulillah, 10 bagian pertama bulan Ramadhan (rahmat Allah swt) sedang kita jalani dengan penuh sukacita dan kehati-hatian karena berada dibalik pandemi covid-19. Bulan Ramadhan adalah bulan yang agung, bulan yang dinanti-nantikan kehadirannya oleh setiap insan yang mengetahui apa-apa yang terkandung dalam bulan Ramadhan, bulan dimana setiap kebajikan dilipatgandakan berkali-kali lipat, bulan yang nilainya sama dengan seribu bulan. Hal ini sesuai dengan Hadits Nabi Muhammad SAW yang berbunyi: Sesungguhnya telah datang padamu bulan yang penuh berkah, dimana Allah mewajibkan kamu berpuasa, ditutup pintu-pintu neraka dan dibelenggu setan-setan. Padanya ada suatu malam yang nilainya lebih berharga dari seribu bulan.
Seseorang yang beritikad dan berniat baik di bulan Ramadhan walaupun ibadahnya sebagain besar dilaksanakan di dalam rumah masing-masing, maka besar sekali peluang untuk bisa melaksanakannya untuk selanjutnya mendapatkan surga, sebab pintu surga telah dibuka lebar-lebar. Sebaliknya kemungkinan masuk neraka akan sangat kecil sebab pintu-pintu neraka telah ditutup rapat-rapat dan tangan-tangan setan telah dibelenggu. Di samping itu, pintu-pintu yang biasanya dijadikan sebagai tempat berkumpul dan bercampurnya laki-laki dan perempuan bukan muhrim yang tidak sesuai dengan syariat juga ditutup rapat-rapat karena adanya wabah yang sedang melanda Indonesia bahkan dunia.
Pada bulan Ramadhan terdapat satu malam yang nilainya sama atau bahkan melebihi nilainya dari seribu bulan yaitu malam Lailatul Qadar. Seribu bulan apabila kita hitung dengan tahun adalah berarti 83 tahun 4 bulan, melebihi usia hidup kebiasaan manusia. Barang siapa yang beribadah pada malam ini, maka nilainya melebihi dari seumur hidupnya (umur kebiasaan). Oleh karena itulah, Nabi selalu berpesan kepada para sahabat-sahabatnya, Intai-intailah di malam-malam ganjil sepuluh terakhir di bulan Ramadhan mudah-mudahan anda akan bertemu dengan malam yang mulia itu.
Satu hal yang sangat utama adalah keutamaan bagi orang yang melaksanakan Puasa Ramadhan itu sendiri. Nabi menjanjikan: Barang siapa yang melaksanakan puasa Ramadhan dengan iman dan perhitungan yang matang, maka Allah SWT akan menghapuskan dosa-dosanya yang telah lalu. Oleh karena itulah, maka tidak salah apabila para ulama menyatakan bahwa bulan Ramadhan adalah bulan pembakar dosa, sebab segala dosa-dosa yang telah lalu akan dibakar seluruhnya dengan mengisi bulan Ramadhan dengan amalan-amalan yang disebut dengan amaliah Ramadhan.
Amaliah Ramadhan juga dapat dilakukan dalam bentuk memberikan buka puasa kepada orang yang berpuasa, tadarrus Al-Quran di rumah masing-masing, memberikan infaq/shodaqah, mengikuti ceramah agama melalui di televisi, siraman rohani di radio dan lain-lain sebagainya. Yang kesemua itu adalah dalam rangka meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT walaupun semuanya kita lakukan di rumah masing-masing, namun semata-mata dengan tujuan yang sangat mulia, yakni memutus penularan virus corona.
Wabah virus Corona mampu mengubah aktivitas penduduk dunia secara mendadak, suasana keramaian yang semula terjadi di seluruh belahan dunia menjadi kesunyian yang mencekam, aktivitas sekolah dan perkantoran berubah menjadi belajar dan bekerja di rumah, perusahaan dan industri terpaksa berhenti sesaat, dan beberapa berdampak lahirnya pemutusan hubungan kerja (PHK), pertumbuhan ekonomi melambat dan berimbas kepada menurunnya kemampuan ekonomi masyarakat khususnya masyarakat kalangan bawah. Bahkan aktivitas keagamaan yang sakral pun yang biasanya dilakukan di tempat ibadah, kini semuanya terpaksa dilaksanakan di rumah. Semua itu dilakukan dalam rangka mencegah penularan virus yang sangat berbahaya bahkan mematikan ini. Karena pola penyebaran virus ini sulit dideteksi sehingga menghindari kontak langsung dengan orang lain pada saat sekarang sangat disarankan. Semua orang mempunyai potensi untuk menularkan virus ini, baik itu Orang Dalam Pemantauan (ODP), Pasien Dengan Pengawasan ( PDP), dan suspek. Bahkan, bisa ditularkan oleh Orang Tanpa Gejala (OTG) yang telah berinteraksi dengan orang yang terpapar virus. Penyakit ini memang tidak memandang strata sosial, pejabat tinggi atau rakyat biasa, ras, negara, bahkan agama, semua memiliki potensi yang sama untuk tertular dan menularkan.
Wabah Corona meskipun menakutkan bahkan mematikan tetapi tetap membawa hikmah yang tidak ternilai harganya. Ada beberapa dampak positif atau hikmah yang muncul antara lain: – Lahirnya kembali kesadaran akan pentingnya peran pendidikan di keluarga, bahwa peran orangtua dalam mendidik anak, adalah kewajiban yang utama dan pertama. – Kedekatan dan keakraban keluarga semakin erat, dalam kondisi biasa, anak-anak kurang mendapat perhatian orangtua karena kesibukan orangtua di luar rumah untuk mencari penghasilan/berusaha. Namun dengan work from home, orang tua dapat menemani anak-anak dan bersama di rumah dalam waktu yang cukup lama. – Kesadaran kebersihan masyarakat semakin membaik dengan lahirnya kesadaran mencuci tangan dan menerapkan pola hidup bersih, bijak pada saat batuk dan bersin serta adanya kerja bakti membersihkan rumah dan lingkungan serta penyemprotan disinfektan di lingkungan. – Adanya kesadaran dari masyarakat bahwa mendidik anak ternyata berat, banyak orangtua selama home learning merasa kesulitan mendampingi anak-anaknya belajar di rumah. Mereka ingin segera kondisi normal sehingga anak-anak bisa kembali ke sekolah dan belajar di sekolah. Demikian pula dengan anak-anak yang merasa belajar di sekolah lebih menyenangkan, karena bisa bertemu dengan kawan-kawan, guru dan lingkungan yang lebih luas. – Guru-guru menjadi akrab dengan teknologi untuk pembelajaran, yang semula belum terbiasa menggunakan berbagai aplikasi dan beberapa tools untuk e-learning atau menggunakan gawai untuk pembelajaran maka sekarang hampir semua guru menjadi akrab menggunakan perangkat tersebut, ada yang menggunakan aplikasi dari Google, ada Zoom Cloud Meeting, web sekolah, WhatsApp group, email dan lain-lain. Tuntutan pelayanan dalam Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) selama Belajar dari Rumah, maka guru mau tidak mau harus menggunakan TIK dalam pembelajaran. – Satu hal yang baik dari adanya musibah corona adalah, munculnya solidaritas sosial yang tumbuh di kalangan masyarakat. Kesadaran berbagi kepada yang membutuhkan muncul di berbagai komunitas dan masyarakat. Ada pesan yang menarik dari peristiwa ini, walaupun fisik berjauhan namun hati dan perhatian selalu dekat. – Para orang tua (kepala keluarga) yang sebelumnya tidak pernah menjadi imam shalat terutama shalat tarawih, maka mau tidak mau harus belajar sehingga bisa menjadi imam, bahkan yang biasanya menjadi imam tarawih menggunakan surat-surat pendek, kini shalat tarawih dengan bacaan 1 (satu) juz per malam sehingga bisa menghatamkan al Qur’an dalam shalat tarawih dan di luar tarawih.
Demikianlah beberapa hikmah yang dapat diambil dengan adanya wabah virus corona. Banyak kejadian yang menyedihkan namun tidak sedikit juga yang memberikan kabar kegembiraan dan kebaikan bagi kehidupan manusia pada masa mendatang. Yang utama bagi kita semua sekarang adalah, tetap berpikir positif, menjaga kesehatan, menggunakan masker jika keluar, jaga jarak dan lebih baik di rumah, serta peduli dengan masyarakat yang membutuhkan.
Marilah kita semua meningkatkan ketaatan di Bulan Ramadhan ini dengan cara yang istimewa karena sesungguhnya Allah swt juga telah memberikan keistimewaan yang berbeda jika dibandingkan dengan 11 bulan lainnya. Kalau itu semua tidak dilakukan, maka kita akan masuk dalam golongan orang yang merugi. Dan janganlah kita terpedaya dengan berbagai macam kesenangan dan tipu daya dunia yang sifatnya hanya sesaat karena kehidupan abadi telah menanti kita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PEMBUATAN VIDEO PEMBELAJARAN