27 Mei 2024
14 Mei 2024
Enam Pelatihan Di Pintar Kemenag Periode Daftar : 15 - 17 Mei 2024, Pelaksanaan : 18 -22 Mei 2024
ENAM Pelatihan Di Pintar Kemenag Periode Daftar 15 - 17 Mei 2024
Pelaksanaan : 18 - 22 Mei 2024*
1. Pelatihan Microlearning : Membuat Projek P5PPRA - Angkatan II
2. Pelatihan Implementasi Kurikulum Merdeka - Angkatan IX
3. Pelatihan Multimedia Berbasis Web - Angkatan II
4. Pelatihan Deteksi Dini: Tahapan Konflik dan Sistem Deteksi dini Konflik - Angkatan II
5. Pelatihan Numerasi : Ide Praktis Pembelajaran dan Permainan Numerik - Angkatan III
6. Pelatihan Kewirausahaan dan Ekonomi Kreatif di Pesantren - Angkatan II
Jangan lupa daftar ya....!!!!
Enam Pelatihan Di Pintar Kemenag Periode Daftar : 15 - 17 Mei 2024, Pelaksanaan : 18 -22 Mei 2024
https://www.hanapibani.com/2024/05/pelatihan-pintar-kemenag-mei-2024-periode-2.html
21 April 2024
8 Pelatihan Di Pintar Kemenag Periode Daftar 22 - 24 April 2024, Pelaksanaan 25 - 29 April 2024
GRATIS dan RESMI,,
Buruan Daftar yuk...!!!
Pilih salah satu:GRATIS dan RESMI,,
Buruan Daftar yuk...!!!
Pilih salah satu:
1. Pengelolaan Rumah Ibadah (BDK Medan)
2. Anti Perundungan (Anti- Bullying) dan Kekerasan Terhadap Murid (Loka Pekanbaru)
3. Terampil Membuat Makalah Best Practice Pembelajaran (BDK Jakarta)
4. Manajemen Kemasjidan (BDK Semarang)
5. Mahir Hisab Rukyat (BDK Surabaya)
6. Deteksi Dini 1: Analisa Faktor Konflik
7. Implementasi Kurikulum Merdeka
8. Literasi : Pembelajaran Terdiferensiasi dengan Keterampilan Membaca Dekoding dan Pemahaman
Link Daftar Delapan Pelatihan Di Pintar Kemenag Periode Daftar 22 - 24 April 2024, Pelaksanaan 25 - 29 April 2024.
https://www.hanapibani.com/2024/04/pelatihan-pintar-kemenag-periode-daftar-22-april.htm
18 April 2024
Nikmat Tuhan Manakah Yang Kamu Dustakan?
Nikmat Tuhan
Manakah Yang Kamu Dustakan?
الحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ حَرَّمَ الصِّياَمَ أَيّاَمَ الأَعْياَدِ
ضِيَافَةً لِعِباَدِهِ الصَّالِحِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لاَإِلٰهَ إِلاَّاللهُ
لاَشَرِيْكَ لَهُ الَّذِيْ جَعَلَ الجَّنَّةَ لِلْمُتَّقِيْنَ. وَأَشْهَدُ أَنَّ
سَيِّدَناَ وَمَوْلاَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِيْ إِلىَ
الصِّرَاطِ المُسْتَقِيْمِ. اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَباَرِكْ عَلىَ
سَيِّدِنَا مُحَمَّـدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحاَبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ
إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنَ. أَمَّا بَعْدُ .فَيَآأَيُّهَا المُؤْمِنُوْنَ
أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ المُتَّقُوْنَ.
Pada khutbah jumat kali ini, kita akan
membahas satu pertanyaan yang sangat penting. Pertanyaan ini bukan sembarang
pertanyaan, karena datangnya bukan dari manusia atau makhluk lainnya. Melainkan
datang dari penguasa tunggal jagat raya, pencipta semua makhluk dan pengatur
segala sesuatu yaitu Allah Subhanahu Wata’ala, Tuhan kita semua. Pertanyaan
tersebut adalah, “Nikmat Tuhan manakah yang kamu dustakan?” (Fabiayyi aalaai
Robbikumaa tukadzdzibaan). Pertanyaan ini diulang sebanyak 31 kali
terdapat dalam surah Ar Rahman dimulai dari ayat 13 sampai 37.
Tentu kita jadi bertanya-tanya, mengapa
pertanyaan ini diulang-ulang?. Bagi orang yang yang kuat imannya dan cerdas
akalnya, pasti sadar betapa nikmat Allah itu sangat banyak jumlahnya dan
mustahil dapat dihitung walaupun dengan alat komputer secanggih apapun.
Demikian Allah menjelaskan dalam Al Quran surat Ibrahim 14:34 dan surat An Nahl
16:18.
وَءَاتَىٰكُم
مِّن كُلِّ مَا سَأَلْتُمُوهُ ۚ وَإِن تَعُدُّوا۟ نِعْمَتَ ٱللَّهِ لَا
تُحْصُوهَآ ۗ إِنَّ ٱلْإِنسَٰنَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ
Artinya : “Dan Dia telah memberikan
kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika
kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya.
Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).”
(Ibrahim 14: 34)
Coba kita mengingat sebelum kita lahir, ketika berada di alam rahim ibu selama
9 bulan 10 hari. Walaupun kita tinggal di tempat yang sempit tanpa ada
pentilasi udara sedikitpun, tetapi kita merasa aman, nyaman dan nikmat berada
di dalamnya. Demikian juga ketika lahir ke dunia ini, kita bisa melihat apapun
yang kita inginkan, kita bisa mendengar segala macam suara, kita bisa mencium
apa saja, kita bisa bicara dengan lancar, tangan kita bisa memegang segala
sesuatu, kaki bisa melangkah kearah mana saja yang kita mau dan lain-lain masih
banyak lagi. Ini senua nikmat yang tak terhingga banyaknya. Belum lagi kita
punya harta benda seperti rumah, kendaraan, sawah, ladang, kebun dan lain-lain.
Ini adalah nikmat-nikmat yang sangat besar tercurah kepada kita. Sehingga
sangat wajar Allah mempertanyakan nikmat Tuhan nanakah yang kamu dustakan.
Tentu jawabannya tidak ada satu nikmatpun yang kita dustakan.
Diantara maksud pertanyaan tersebut
diulang-ulang, agar manusia terketuk pintu hatinya untuk banyak bersyukur
kepada Allah. Mengakui semua nikmat yang kita terima, lalu dipergunakan nikmat
tersebut pada jalan yang dibenarkan. Bukan untuk hal-hal yang diharamkan
seperti judi, mabuk-mabukan, foya-foya, dugem dan senang-senang secara
berlebihan. Dalam segala apapun nikmat Allah selalu menyertai, bahkan ketika
sakit sekalipun terdapat nikmat tersembunyi yang tidak semua orang menyadarinya
yaitu Allah akan mengampuni dosa-dosa kita, apabila kita bersabar dan tidak
mengeluh. Rasulullah SAW bersabda:
مَا
مِنْ مُسْلِمٍ يُصِيبُهُ أَذًى مِنْ مَرَضٍ فَمَا سِوَاهُ إِلَّا حَطَّ اللَّهُ
بِهِ سَيِّئَاتِهِ كَمَا تَحُطُّ الشَّجَرَةُ وَرَقَهَا
“Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu penyakit dan sejenisnya, melainkan
Allah akan mengugurkan bersamanya dosa-dosanya seperti pohon yang mengugurkan
daun-daunnya.” (HR. Bukhari
dan Muslim)
Perlu
diketahui, jika kita pandai bersyukur kepada Allah walaupun nikmat tersebut
sedikit, niscaya Allah akan menambahi dan memberkahinya. Tetapi jika kita tidak
pandai bersyukur walaupun nikmat tersebut banyak, niscaya Allah akan
menghancurkannya dengan siksa yang sangat pedih, na’udzubillah. (Ibrahim 14:7)
وَإِذْ
تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ
إِنَّ عَذَابِى لَشَدِيدٌ
Artinya: “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan;
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu,
dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.
Mari kita selalu bersyukur dalam
keadaan apapun, agar hidup kita menjadi aman, selamat, bahagia, penuh berkah
dan kelak Allah memasukkan kita kedalam surga yang penuh dengan kenikmatan.
بَارَكَ
اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا
فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ
,وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ
تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا
وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ
الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
اَلْحَمْدُ ِللهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا اَمَرَ. اَشْهَدُ اَنْ
لَا اِلَهَ اِلَّا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ اِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ وَكَفَرَ.
وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَحَبِيْبُهُ وَخَلِيْلُهُ
سَيِّدُ الْإِنْسِ وَالْبَشَرِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى
سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ ومن تبعهم بإحسان الى يوم
المحشر .اَمَّا بَعْدُ، فَيَاأَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ
فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.
فَقَالَ اللهُ تَعَالَى اِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ
عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا
تَسْلِيْمًا. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى
أٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ
وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا
بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ
فْي الْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ
لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَ الْمُسْلِمَاتِ
اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ اِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ
الدَّعْوَاتِ وَقَاضِيَ الْحَاجَاتِ. اَللَّهُمَّ رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوْبَنَا
بَعْدَ اِذْهَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً اِنَّكَ اَنْتَ
الْوَهَّابُ. رَبَّنَا لَا تَجْعَلْ فِى قُلُوْبِنَا غِلًّا لِلَّذِيْنَ اَمَنُوْا
رَبَّنَا اِنَّكَ رَؤُوْفٌ رَّحِيْمٌ. رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ اَزْوَاجِنَا وَ
ذُرِّيّٰتِنَا قُرَّةَ اَعْيُنٍ وَ اجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ اِمَامًا. رَبَّنَا
اٰتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِى الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ
النَّارِ.
عِبَادَ
اللهِ, اِنَّ الله يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَ الْإِحْسَانِ وَ اِيْتَاءِ ذِى
الْقُرْبَى وَ يَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَ الْمُنْكَرِ وَ الْبَغْىِ يَعِظُكُمْ
لَعَلَّكُمْ تَذَّكَّرُوْنَ فَاذْكُرُوْا الله الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَ
اشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَ لَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرُ وَاللهُ
يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ .
Meraih Pahala Berlimpah dengan Puasa Syawal
Meraih Pahala Berlimpah dengan Puasa Syawal
الحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ حَرَّمَ الصِّياَمَ أَيّاَمَ الأَعْياَدِ
ضِيَافَةً لِعِباَدِهِ الصَّالِحِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لاَإِلٰهَ إِلاَّاللهُ
لاَشَرِيْكَ لَهُ الَّذِيْ جَعَلَ الجَّنَّةَ لِلْمُتَّقِيْنَ. وَأَشْهَدُ أَنَّ
سَيِّدَناَ وَمَوْلاَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِيْ إِلىَ
الصِّرَاطِ المُسْتَقِيْمِ. اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَباَرِكْ عَلىَ
سَيِّدِنَا مُحَمَّـدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحاَبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ
إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنَ. أَمَّا بَعْدُ .فَيَآأَيُّهَا المُؤْمِنُوْنَ
أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ المُتَّقُوْنَ. فَقَالَ
اللهُ تَعَالَى: يٰٓاَيُّهَا
الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍۚ
وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌ ۢبِمَا تَعْمَلُوْنَ
Bulan Ramadhan telah berlalu,
namun kenangan indahnya masih terpatri dalam hati kita. Kini, kita memasuki
bulan Syawal, bulan yang penuh dengan kegembiraan dan keutamaan. Salah satu
keutamaan bulan Syawal adalah dianjurkannya untuk melaksanakan puasa sunnah
Syawal selama enam hari.
Dalam hadits riwayat Imam Muslim
menyebutkan anjuran Rasulullah SAW untuk melaksanakan puasa sunnah selama enam
hari di bulan Syawal, setelah kita selesai menjalankan ibadah puasa wajib di
bulan Ramadhan. Keutamaan puasa Syawal ini begitu luar biasa. Puasa enam hari
di bulan Syawal akan dibalas dengan pahala yang setara dengan pahala puasa
selama setahun penuh. Rasulullah SAW bersabda;
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ، كَانَ
كَصِيَامِ الدَّهْر (رواه مسلم)
Artinya:
“Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan kemudian mengikutinya dengan enam
hari di bulan Syawal, maka (pahala puasanya) seperti berpuasa selama setahun.”
Janji pahala yang besar ini
tentunya memiliki makna yang dalam. Puasa Syawal bisa menjadi bentuk
kesempurnaan ibadah puasa Ramadhan. Selama sebulan penuh di Ramadhan, mungkin
kita pernah lalai atau tidak bisa menjalankan puasa dengan sempurna. Puasa Syawal
memberikan kesempatan untuk memperbaiki kekurangan tersebut dan menambah pahala
puasa kita. Ibnu Qudamah dalam kitab al-Mughni, Jilid IV, halaman 438,
memuat hadis lain, dengan periwayat Imam Abu Daud, Tirmidzi, dan Imam Ahmad.
Bersumber dari sahabat Tsauban, Nabi Muhammad SAW bersabda:
مَنْ صَامَ
رَمَضَانَ، شَهْرٌ بِعَشَرَةِ أَشْهُرٍ، وَصَامَ سِتَّةَ أيَّامٍ بَعْدَ الْفِطْرِ،
وَذَلِكَ تَمَامُ سَنَةٍ
Artinya: "Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan
selama sebulan, pahalanya seperti sepuluh bulan, dan siapa yang berpuasa enam
hari setelah Idul Fitri (Syawal), maka ia telah menyempurnakan puasanya selama
setahun," [HR. Ibnu Majah].
Selanjutnya, dalam riwayat dari Ibnu Umar, Rasulullah SAW
bersabda:
مَنْ صَامَ
رَمَضَانَ وَأتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ خَرَجَ مِنْ ذُنُوْبِهِ كَيَوْمِ
وَلَدَتْهُ أُمُّهُ
Artinya: “Barangsiapa yang
berpuasa Ramadhan dan mengikutinya dengan enam hari Syawal, maka dia keluar
dari dosa-dosanya seperti hari dia dilahirkan oleh ibunya."
Dengan demikian, marilah kita
manfaatkan kesempatan emas ini untuk meraih pahala yang besar dan mensucikan
diri dari dosa-dosa dengan menjalankan puasa Syawal selama enam hari setelah
Idul Fitri. Semoga kita menjadi orang yang takwa, yang konsisten beramal
kebajikan pasca Ramadhan.
بارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْاٰنِ
الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَاِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْاٰيَاتِ وَالذِّكْرِ
الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ اِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ
الْعَلِيْمُ. وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ
الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرْهُ اِنَّهُ
هُوَاْلغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Mari Jaga Semangat Beribadah di Bulan Syawwal
Mari Jaga Semangat
Beribadah di Bulan Syawwal
الحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ حَرَّمَ الصِّياَمَ أَيّاَمَ الأَعْياَدِ
ضِيَافَةً لِعِباَدِهِ الصَّالِحِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لاَإِلٰهَ إِلاَّاللهُ
لاَشَرِيْكَ لَهُ الَّذِيْ جَعَلَ الجَّنَّةَ لِلْمُتَّقِيْنَ. وَأَشْهَدُ أَنَّ
سَيِّدَناَ وَمَوْلاَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِيْ إِلىَ
الصِّرَاطِ المُسْتَقِيْمِ. اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَباَرِكْ عَلىَ
سَيِّدِنَا مُحَمَّـدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحاَبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ
إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنَ. أَمَّا بَعْدُ .فَيَآأَيُّهَا المُؤْمِنُوْنَ
أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ المُتَّقُوْنَ.
Dari segi bahasa, kata “Syawal” (شَوَّالُ) berasal dari kata “Syala” (شَالَ) yang memiliki arti “irtafaá”
(اِرْتَفَعَ)
yakni meningkatkan. Makna definisi ini menjadi inspirasi bagi kita untuk terus
meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadah yang selama bulan Ramadhan cenderung
menguat dan meningkat.
Tentu semua itu harus dipadukan dengan spirit bulan Syawal dalam bentuk
peningkatan kuantitas dan kualitas ibadah. Kita harus berusaha sekuat tenaga
agar ‘suntikan’ semangat di bulan Ramadhan bisa ditingkatkan, minimal sama
persis di bulan Syawal. Ada beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk
mempertahankan semangat ibadah kita di bulan Syawal dan bulan-bulan ke depannya
adalah dengan melakukan Muhasabah, Mujahadah, dan Muraqabah.
Muhasabah adalah melakukan introspeksi diri terhadap perjalanan
ibadah di bulan Ramadhan. Muhasabah ini sangat penting karena akan menjadi
pijakan kita untuk melangkah selanjutnya di bulan Syawal. Allah pun sudah
mengingatkan kita untuk senantiasa melakukan evaluasi dengan melihat masa lalu
kita sebagai modal untuk menghadapi masa depan. Hal ini ditegaskan dalam Al-Qur’an Surat Al-Hasyr:
18:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ
مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَۗ اِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌ ۢ بِمَا
تَعْمَلُوْنَ
Artinya: ”Wahai
orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang
memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok, dan bertakwalah
kepada Allah. Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan."
Setelah melakukan muhasabah, selanjutnya kita melakukan mujahadah yakni
bersungguh-sungguh dalam berjuang untuk mempertahankan tren positif ibadah
bulan Ramadhan. Di bulan Syawal ini, kita harus tancapkan tekad untuk terus
melestarikan kebiasaan-kebiasaan positif selama Ramadhan. Perjuangan ini tentu
akan banyak menghadapi tantangan, baik dari lingkungan sekitar kita maupun dari
diri kita sendiri. Oleh karenanya, kita harus memiliki tekad kuat dan benar
agar hambatan dan tantangan yang bisa mengendurkan semangat ibadah kita ini
bisa kita kalahkan.
Allah telah memberikan motivasi pada orang yang bersungguh-sungguh dalam
berjuang sebagaimana firman-Nya dalam Al-Qur’an surat Al-Ankabut ayat 69:
وَالَّذِيْنَ جَاهَدُوْا فِيْنَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَاۗ وَاِنَّ
اللّٰهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِيْنَ
Artinya: “Dan orang-orang yang berjihad
(bersungguh-sungguh) untuk (mencari keridaan) Kami, Kami akan tunjukkan kepada
mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh, Allah beserta orang-orang yang berbuat
baik.”
Setelah bermuhasabah dan bermujahadah, selanjutnya kita
bisa melakukan muraqabah kepada Allah. Muraqabah adalah
upaya kita mendekatkan diri kepada Allah swt. Upaya kita untuk dekat dengan
Allah ini akan memunculkan keyakinan di dalam hati bahwa kita selalu dilihat
dan diawasi oleh Allah swt. Ketika Allah senantiasa mengawasi kita, maka
akan muncul rasa takut untuk melakukan segala hal yang dilarang oleh Allah swt.
Rasulullah saw bersabda:
أَنْ تَعْبـــُدَ اللَّهَ كَأَنَّــكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ
فَإِنَّهُ يَرَاكَ
Artinya: “Hendaknya
engkau menyembah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, sebab meski engkau tidak
melihat-Nya, Dia melihatmu...”
Semakin kuat tekad kita untuk bermuraqabah,
maka secara otomatis akan menjadikan kita sadar bahwa kita sangat lemah dan
miskin amal ibadah sehingga akan muncul kesadaran untuk terus melipatgandakan
ibadah dan kebaikan kita sebagai wujud penghambaan kepada Allah. Semoga kita
bisa melakukan Muhasabah, Mujahadah, dan Muraqabah ini
sehingga hari ini akan lebih baik dari hari kemarin dan hari esok lebih baik
dari hari ini.
بارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْاٰنِ
الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَاِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْاٰيَاتِ وَالذِّكْرِ
الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ اِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ
الْعَلِيْمُ. وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ
الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرْهُ اِنَّهُ
هُوَاْلغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Syawal, Bulan Peningkatan Ibadah
Syawal, Bulan Peningkatan Ibadah
الحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ حَرَّمَ الصِّياَمَ أَيّاَمَ الأَعْياَدِ
ضِيَافَةً لِعِباَدِهِ الصَّالِحِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لاَإِلٰهَ إِلاَّاللهُ
لاَشَرِيْكَ لَهُ الَّذِيْ جَعَلَ الجَّنَّةَ لِلْمُتَّقِيْنَ. وَأَشْهَدُ أَنَّ
سَيِّدَناَ وَمَوْلاَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِيْ إِلىَ
الصِّرَاطِ المُسْتَقِيْمِ. اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَباَرِكْ عَلىَ
سَيِّدِنَا مُحَمَّـدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحاَبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ
إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنَ. أَمَّا بَعْدُ .فَيَآأَيُّهَا المُؤْمِنُوْنَ
أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ المُتَّقُوْنَ.
Seiring
bulan suci Ramadhan terlewati, kita tidak boleh dengan serta merta melupakannya
seolah tiada kebaikan yang membekas dalam diri kita. Kita harus melakukan
muhasabah atau introspeksi diri terhadap semua proses yang telah kita lewati
selama Ramadhan. Sebagai bulan penuh dengan keberkahan dan memotivasi kita
untuk beribadah lebih, kita harus bertanya kepada diri sendiri: Sudahkah kita
maksimal dalam beribadah di bulan Ramadhan baik dari sisi kuantitas maupun
kualitas? Selanjutnya, apakah kita bisa meningkatkan, atau minimal
mempertahankan semangat kita beribadah di bulan-bulan setelah Ramadhan?
Pertanyaan
ini sangat penting sebagai upaya mengingat kekurangan-kekurangan pada masa lalu
untuk diperbaiki pada masa yang akan datang. Allah sudah memerintahkan kita
untuk senantiasa melakukan upaya introspeksi diri dalam proes perjalanan hidup
kita dengan sebuah firman-Nya:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَلْتَنْظُرْ
نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌ ۢبِمَا
تَعْمَلُوْنَ
Artinya:
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap
orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat).
Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu
kerjakan.” (Al-Ḥasyr :18)
Dengan
spirit yang dibawa oleh ayat ini, sudah semestinya kita tidak mengendurkan
semangat kita dalam beribadah dari sisi kuantitas maupun kualitas. Terlebih
memasuki bulan Syawal yang menjadi tonggak pertama perjuangan untuk
mempertahankan dan meningkatkan semangat beribadah pasca-Ramadhan. Hal ini pun
tergambar dari makna kata Syawwal itu sendiri. Dari segi bahasa, kata “Syawal”
(شَوَّالُ) berasal dari
kata “Syala” (شَالَ) yang memiliki
arti “irtafaá” (اِرْتَفَعَ) yakni
meningkatkan. Makna ini seharusnya menjadi inspirasi kita untuk tetap
mempertahankan grafik kualitas dan kuantitas ibadah pasca-Ramadhan.
Peningkatan
amal ibadah ini juga tidak harus dilakukan dengan kuantitas yang dipaksakan
secara tiba-tiba. Namun akan lebih baik jika ibadah dilakukan dengan istiqamah
dan rutin walaupun dalam kuantitas yang sedikit. Istiqamah dalam ibadah ini
telah diingatkan oleh Rasulullah saw dalam haditsnya:
أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
(أَخْرَجَهُ الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ)ـ
Artinya:
“Sebaik-baik perbuatan menurut Allah adalah yang dirutinkan meskipun sedikit”
Bulan
Syawal menjadi momentum tepat untuk menjaga diri dari predikat dan status yang
telah kita raih setelah berjuang di bulan Ramadhan. Selain predikat ketakwaan
yang telah dijanjikan Allah bagi orang-orang beriman yang benar-benar
menjalankan ibadah puasa dengan baik, kesucian diri seperti bayi yang terlahir
kembali ke dunia, juga akan diraih orang yang berpuasa.
Alangkah
mulianya dua status yang didapat seseorang setelah berpuasa di bulan Ramadhan.
Alangkah sayangnya jika status ini tidak dipertahankan dengan baik dan
disia-siakan begitu saja. Sangatlah rugi bagi kita yang tidak bisa
mempertahankan ketakwaan dan kesucian pasca-Ramadhan ini. Ketakwaan sendiri
merupakan status yang paling mulia yang disematkan kepada hamba-Nya di
sisi-Nya. Hal ini ditegaskan dalam Al-Qur’an surat Al-Hujurat Ayat 13:
يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى
وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْاۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ
عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ
Artinya: “Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah
menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan. Kemudian, Kami menjadikan kamu
berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang
paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa.
Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Mahateliti.”.
Selain
menjaga ketakwaan, kesucian diri juga harus dipertahankan, jangan sampai
dikotori kembali oleh perbuatan-perbuatan maksiat yang akan menjauhkan diri
dari Allah swt. Allah menggolongkan orang-orang yang mampu menjaga kesucian
diri sebagai orang yang beruntung dan sebaliknya menyebut orang-orang yang
mengotori kesucian diri sebagai orang yang merugi.
Mudah-mudahan
Allah memberikan kita kekuatan untuk terus dapat menjalankan ibadah dengan semangat
dan memberikan kita kesucian hati dan keistiqamahan dalam beribadah untuk
meraih ridha-Mu.
بارَكَ
اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَاِيَّاكُمْ بِمَا
فِيْهِ مِنَ الْاٰيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ
تِلَاوَتَهُ اِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ
الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَيَا
فَوْزَ الْمُسْتَغْفِرِيْنَ وَيَا نَجَاةَ التَّائِبِيْنَ
اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ أَنْعَمَنَا بِنِعْمَةِ الْاِيْمَانِ
وَالْاِسْلَامِ. وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ خَيْرِ
الْأَنَامِ. وَعَلٰى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْكِرَامِ. أَشْهَدُ اَنْ لَا اِلٰهَ
اِلَّا اللهُ الْمَلِكُ الْقُدُّوْسُ السَّلَامُ وَأَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا
وَحَبِيْبَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَاحِبُ الشَّرَفِ
وَالْإِحْتِرَامِ أَمَّا بَعْدُ. فَيَاأَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ
بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.
فَقَالَ اللهُ تَعَالَى اِنَّ اللهَ وَ مَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ
عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَ
سَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ
وَ عَلٰى أٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا
اِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ
سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فْي الْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
اَللّٰهُمَّ وَارْضَ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ. وَعَنْ
اَصْحَابِ نَبِيِّكَ اَجْمَعِيْنَ. وَالتَّابِعِبْنَ وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ
وَتَابِعِهِمْ اِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ
وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا
الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالطَّاعُوْنَ وَالْاَمْرَاضَ وَالْفِتَنَ مَا لَا
يَدْفَعُهُ غَيْرُكَ عَنْ بَلَدِنَا هٰذَا اِنْدُوْنِيْسِيَّا خَاصَّةً وَعَنْ
سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَارَبَّ الْعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا
اٰتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِي الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ
النَّارِ
عِبَادَ اللهِ اِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ
وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ. يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ
تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ. وَ اشْكُرُوْهُ عَلٰى
نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ. وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرُ
-
RPP Qur’an Hadis MI Sesuai KMA 183 Revisi Terbaru disusun sebagai referensi bagi guru Qur’an Hadis tingkat MI dalam menyusun rencana ...
-
RKT RKTS dan RKJM RKT dikenal juga dengan Rencana Kerja Tahunan. Sama dengan RKT ada juga yang menggunakan istilah RKTS atau Rencana K...
