20 Oktober 2023
HARI KESAKTIAN PANCASILA, GURU BISA APA?
HARI KESAKTIAN PANCASILA, GURU BISA APA?
1 Oktober ditetapkan sebagai hari kesaktian Pancasila. Hal itu tercantum dalam Surat Keputusan
Menteri/Panglima Angkatan Darat tanggal 17 September 1966 (Kep 977/9/1966). Peringatan ini
merupakan penghormatan untuk seluruh pahlawan yang gugur dalam melaksanakan tugasnya
melindungi Pancasila. Kemudian, Kesaktian Pancasila pun bermakna sebagai usaha
membentengi peran Pancasila sebagai dasar negara dan ideologi bangsa.
Menjaga keutuhan Pancasila adalah tanggung jawab bersama. Lantas bagaimana peran guru
dalam memelihara nilai-nilai Pancasila? Sudah pasti guru tidak hanya memainkan peran sentral
dalam pembelajaran bahkan menjadi jauh lebih vital dalam menanamkan nilai-nilai pancasila
untuk para peserta didiknya. Sistem pendidikan Nasional melalui Kurikulum Merdeka ini
memandatkan para pendidik untuk membangun dan menanamkan karakter pada pribadi
peserta didik berdasarkan nilai-nilai pancasila.
Bagaimana caranya? Guru menjadi panutan, karena murid belajar dari gurunya. Apapun yang
guru lakukan di depan murid, mereka akan menyerapnya. Dalam kehidupan murid, sebagian
besar waktunya digunakan untuk berinteraksi dengan lingkungan sekolah. Mereka akan
banyak sekali berkomunikasi dengan guru. Dengan disadari atau tidak, murid akan belajar
dari sikap, ucapan, dan perilaku gurunya. Apabila guru ingin menanamkan nilai-nilai
Pancasila, maka nilai-nilai tersebut harus sudah tertanam dalam dirinya. Satu hal yang
sangat penting: pendidik harus melakukan apa yang diajarkannya.
Sebagai pendidik, sudahkah kita mengambil peran dalam menjaga keutuhan Pancasila?
Apakah nilai-nilai Pancasila sudah tertanam dalam diri kita?
Kita sebagai pendidik mengemban amanah yang mulia untuk menjaga Pancasila dan
keutuhan bangsa dan negara. Oleh karena itu, mari kita ‘Bangkit Bergerak Bersama
Pancasila’.
Selamat Hari Kesaktian Pancasila
1 Oktober 2022
Yuk kita refleksi!
Keep learning, keep sharing, keep inspiring, and write your legacy!
Capri Anjaya
Ketua AISEI Komunitas Pendidik Indonesia
Asep Dedeh Permana
TIM AISEI Komunitas Pendidik Indonesia
KUNCI SUKSES MENGELOLA SATUAN PENDIDIKAN
KUNCI SUKSES MENGELOLA SATUAN PENDIDIKAN
Covid 19 memang telah membuat banyak perubahan dan dampak diberbagai bidang
termasuk bidang pendidikan. Banyak sekolah swasta yang harus merumahkan guru-
gurunya karena untuk bisa tetap menjalankan kegiatan belajar mengajar. Banyak
investasi baru harus diambil sekolah untuk memastikan teknologi terimplementasi
dengan sempurna sehingga akan memudahkan kegiatan belajar baik secara daring
maupun luring. Alhamdulillah belakang ini sejak diperbolehkan luring 100% maka
sekolah mulai marak siap kedatangan para siswa. Siap secara sarana prasarana
juga harus didukung oleh pemimpin atau kepala sekolah yang memiliki kemampuan
atau kompetensi yang baik. Kompetensi menurut SK Mendiknas No. 45/U/2022
menjelaskan ada 5 kompetensi (5K) minimal yang harus dimiliki oleh kepala sekolah,
yaitu kompetensi kepribadian, manajerial, kewirausahaan, supervisi, dan sosial.
Pastinya jika anda KS maka atasan anda merasa anda memiliki potensi tersebut.
Saya jadi teringat waktu saya menjadi Kepala Sekolah di salah satu SPK, Eksekutif
direktur saya, Ng Eng Chin, memastikan kepada saya untuk selalu berusaha dan
jika mau terus sukses untuk mengelola sekolah harus menjalankan 6 hal penting.
Ke enam hal ini saya tulis di buku saya Sekolah Lokal Berkualitas Internasional:
Resep Jitu Mengelola Sekolah International (SPK) (2017 hal. 179).
Mau tahu 6 kunci sukses setelah memiliki 5K?
1. Fokus dan paham tentang pendidikan. Seorang pengelola satuan pendidikan
harus paham tentang pendidikan. Jadi kalau tidak paham ya harus belajar dulu.
2. Membangun sistem dan struktur. Dengan adanya pembagian kerja dan panduan
yang jelas diyakini akan membantu sekolah menjadi
3. Mengangkat dan menempatkan staf dengan tepat. Mengelola Pendidikan menjadi
sesuatu yang tidak boleh dianggap sepele. Jangan karena pemilik yayasan memiliki
anak yang baru lulus ujuk-ujuk menduduki posisi tertinggi di sekolah. Atau mumpung
punya wewenang dengan seenak-enaknya mengangkat saudara atau teman yang
tidak memiliki kompetensi. wah ini menjadi resep kemunduran sekolah.
4. Membangun kapasitas/kemampuan staff. Pengembang diri untuk staff merupakan
investasi yang harus dikeluarkan pengelola sekolah. Dengan terus membangun
kompetensi staff, peserta didik akan mendapat manfaatnya.
5. Menetapkan standar yang tinggi. Kadang kita terlalu puas dengan memenuhi
standar minimum dan ini kadang menjadi faktor penghambat sekolah untuk maju.
6. Memanfaatkan sarana dan sumber daya. Penting seorang pemimpin untuk dapat
memanfaatkan keberadaan tidak hanya SDM dan fasilitas yang ada di sekolah tapi
juga orang tua, lingkungan sekitar untuk membantu pendidikan/
Kalau Anda pengelola satuan pendidikan apakah ini telah memenuhi 5K? Atau ada
kompetensi lain?
Yuk kita refleksi diri!
Keep learning, keep sharing, keep inspiring, and write your legacy!
Capri Anjaya
Ketua AISEI Komunitas Pendidik Indonesia
AISEI proudly presents AISEI InspirAction
AISEI proudly presents AISEI InspirAction
Tantangan masa depan yang dihadapi oleh para siswa semakin beragam dan kompleks. Tidak hanya dibutuhkan pengetahuan akademik yang kuat, tetapi juga keterampilan, sikap, dan kemampuan untuk beradaptasi dengan perubahan yang cepat.
Bagaimana Guru dengan Kurikulum Merdeka ini dapat membantu dalam mempersiapkan siswa untuk menghadapi tantangan masa depan dan menjadi pemimpin yang berpengaruh?
Dalam webinar ini, Dr. Itje Chodidjah, M.A. akan berbagi wawasan mendalam bagaimana guru dapat menjadi agen perubahan yang memberdayakan siswa untuk menghadapi tantangan masa depan.
Yuk temukan jawabannya disini ????????????
Webinar: "The Future of Education: Transformational Teachers in Kurikulum Merdeka"
????? Selasa, 1 Agustus 2023
? 19.00-20.30 WIB.
????Live via zoom.
Kegiatan FREE untuk member AISEI . Biaya pendaftaran Non-Member: 200rb
Link Pendaftaran
https://bit.ly/Aisei-InspirAction2023
Belum jadi member AISEI? Daftar sekarang di https://aisei.id/register PROMO GRATIS pendaftaran sampai Desember 2023.
(Mohon cek kotak masuk di email Anda setelah melakukan registrasi)
Setelah melakukan pendaftaran keanggotaan AISEI, silakan mendaftar gratis workshop ini.
FB: https://www.facebook.com/aiseiindonesia/
IG AISEI: https://instagram.com/aisei.id?igshid=YmMyMTA2M2Y=
GROWTH MINDSET (POLA PIKIR BERKEMBANG)
GROWTH MINDSET (POLA PIKIR BERKEMBANG)
Apa itu growth mindset atau pola pikir berkembang? Carol Dweck (2006) pertama kali
mengenalkan dua istilah pola pikir yaitu growth mindset dan fixed mindset lewat bukunya
yang berjudul Mindset: The New Psychology of Success. Growth mindset adalah pemikiran
atau keyakinan bahwasanya kemampuan dasar yang dimiliki seseorang dapat dikembangkan
dan ditingkatkan.
Dalam konteks pendidikan di sekolah, siswa yang memiliki growth mindset adalah siswa
yang akan selalu percaya bahwa bakat yang dimilikinya akan selalu dapat dikembangkan.
Bagaimana cara mengembangan bakat tersebut? Di sekolah, ini dapat dikembangkan
dengan bantuan guru yang pada waktu mentransfer pengetahuan harus juga mendidik
siswanya. Maksudnya waktu mengajar matematika atau Bahasa Inggris atau apapun
bidang studinya, guru harus memastikan siswanya untuk selalu berpikir positif, bekerja
keras, menggunakan strategi yang tepat saat belajar atau menyelesaikan pekerjaan
sekolah, hingga mendengarkan masukan atau pendapat dari teman lain. Guru jangan
terlena dengan transfer ilmunya saja, tapi yang lebih penting adalah proses
mendapatkannya. Jadi jika anak menyontek tugas individunya, maka guru harus
memberi 'pendidikan' terhadap siswa tersebut sehingga mereka mengerti bahwa
menyontek perbuatan yang tidak diperbolehkan dan jika terus didiamkan akan
berdampak buruk untuk masa depannya.
Guru dengan pola pikir berkembang ini mengerti bahwa bakat yang dimiliki siswanya
sejak lahir adalah hanya sebuah permulaan dan tidak akan menjadi patokan untuk
kesuksesan siswanya. Guru harus terus menginspirasi agar siswa terus mau belajar
dan tidak takut untuk terus mencoba walaupun pernah gagal. Kegagalan akan
dijadikan moment untuk merefleksi diri dan siswa dituntut untuk selalu menjadi lebih
baik dari sebelumnya (bukan dibandingkan dengan temannya).
Jadi ada 2 hal yang mendasar harus ditanyakan, yaitu (1) apakah kita sebagai guru
sudah memiliki pola pikir berkembang? dan (2) apakah kita sebagai guru sudah
menerapkan pola pikir berkembang?
Yuk kita refleksi..
Keep learning, keep sharing, keep inspiring, and write your legacy!
Capri Anjaya
Ketua AISEI Komunitas Pendidik Indonesia
-
RPP Qur’an Hadis MI Sesuai KMA 183 Revisi Terbaru disusun sebagai referensi bagi guru Qur’an Hadis tingkat MI dalam menyusun rencana ...
-
RKT RKTS dan RKJM RKT dikenal juga dengan Rencana Kerja Tahunan. Sama dengan RKT ada juga yang menggunakan istilah RKTS atau Rencana K...