اَللهُ
أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ
اَللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرْ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ
لِلّٰهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً، لَاإِلٰهَ إِلَّا
اللهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ
وَحْدَهُ، لاَإِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ
اْلحَمْدُ.
اَلْحَمْدُ للهِ
الَّذِىْ جَعَلَ الْاِسْلَامَ طَرِيْقًا سَوِيًّا، وَوَعَدَ لِلْمُتَمَسِّكِيْنَ
بِهِ وَيَنْهَوْنَ الْفَسَادَ مَكَانًا عَلِيًّا. أَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ
اللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةَ مَنْ هُوَ خَيْرٌ مَّقَامًا
وَأَحْسَنُ نَدِيًّا. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا محَمَّدًا عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ الْمُتَّصِفُ بِالْمَكَارِمِ كِبَارًا وَصَبِيًّا. اَللَّهُمَّ
فَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ وَكَانَ
رَسُوْلاً نَبِيًّا، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الَّذِيْنَ يُحْسِنُوْنَ
إِسْلاَمَهُمْ وَلَمْ يَفْعَلُوْا شَيْئًا فَرِيًّا، أَمَّا بَعْدُ، فَيَا
أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ، اُوْصِيْنِيْ نَفْسِىْ وَإِيَّاكُمْ
بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.
Kaum muslimin yang berbahagia!
Hari ini, kita kembali menjadi saksi betapa
luasnya kasih-sayang Allah Azza wa Jalla kepada kita semua.
Pagi hari ini, kita kembali merasakan betapa besarnya rahmat dan ampunan-Nya
untuk kita semua. Dosa demi dosa kita kerjakan nyaris sepanjang hari. Perintah
demi perintah-Nya hampir kita abaikan setiap saat. Tapi lihatlah, Allah Azza
wa Jalla yang Maha Pengasih itu tidak pernah bosan memberikan
kesempatan demi kesempatan kepada kita untuk bertaubat dan kembali pada-Nya.
Allah Azza wa Jalla yang Maha Penyayang itu tidak pernah
menutup pintu ampunan-Nya yang luas untuk kita semua.
Allahu akbar, Allahu akbar, la ilaha illaLlahu
Allahu akbar walillahilhmad
Kaum muslimin yang berbahagia!
Hari Raya Idul Adha adalah kisah tentang sebuah
keluarga mulia yang diabadikan oleh Allah Azza wa Jalla untuk
peradaban manusia. Itulah kisah keluarga Ibrahim ‘alaihissalam.
Melalui kisah keluarga Ibrahim ‘alaihissalam itu, Allah Ta’ala ingin
menunjukkan kepada kita betapa pentingnya posisi keluarga dalam membangun
sebuah peradaban yang besar. Sebuah masyarakat yang bahagia dan sejahtera,
tidak hanya di dunia, namun juga di akhirat. Sebuah masyarakat tidak akan bisa
menjadi bahagia dan sejahtera jika masyarakat itu gagal dalam membangun
keluarga-keluarga kecil yang ada di dalamnya.
Dan jika kita berbicara tentang keluarga, maka
itu artinya kita juga akan berbicara tentang salah satu unsur terpenting
keluarga yang bernama: Anak. Dalam kisah keluarga Ibrahim ‘alaihissalam,
sang anak itu “diperankan” oleh sosok Isma’il ‘alaihissalam. Inilah
sosok anak teladan sepanjang zaman yang kemudian diangkat menjadi seorang nabi
oleh Allah Azza wa Jalla. Bahkan yang luar biasanya adalah
melalui keturunan Isma’il ‘alaihissalam inilah kemudian lahir
sosok nabi dan rasul paling mulia sepanjang sejarah manusia bahkan alam
semesta, yaitu: Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam!
Allahu akbar, Allahu akbar, La ilaha illaLlahu
Allahu akbar walillahil hamd…
Kaum muslimin rahimakumullah!
Saya kira hampir semua dari kita mengikuti
bagaimana anak-anak remaja kita yang bergabung dalam geng-geng motor mulai
berani melakukan tindakan-tindakan anarkis yang tidak pernah diduga sebelumnya.
Kita semua juga nyaris menyaksikan setiap hari di sudut-sudut jalan raya,
bagaimana anak-anak kita dieksploitasi dan diperalat menjadi anak jalanan,
mengemis dan meminta-minta menggunakan baju yang lusuh dan kotor.
Saya kira kita juga tahu hasil-hasil survey
mutakhir yang menunjukkan bagaimana jumlah ABG yang hamil di luar nikah terus
meningkat dalam jumlah yang sangat memprihatinkan. Dan itu semua barulah
segelintir masalah dan problem anak-anak kita di masa kini… Wallahul
musta’an.
Allahu akbar Allahu akbar La ilaha illaLlah
Allahu akbar walillahilhamd…
Kaum muslimin yang dimuliakan Allah!
Harus kita akui dengan jujur bahwa salah satu
penyebab utama terjadinya ini semua adalah orangtua itu sendiri. Tidak sedikit
Orangtua yang terjebak dalam dua sikap ekstrem yang saling bertolak belakang:
sikap yang memanjakan terlalu berlebihan dan sikap pengabaian yang
menelantarkan anak-anak. Ada orangtua yang menganggap bahwa kasih sayang kepada
anak harus ditunjukkan dengan pemberian dan pemenuhan segala keinginannya.
Bahkan ada juga orangtua yang memanjakan anak dengan segala fasilitas untuk
mengangkat gengsinya sendiri sebagai orangtua! Pada sisi yang lain, tidak
sedikit orangtua yang tidak peduli dengan anak-anaknya. Atau menunjukkan
kepedulian dengan melakukan kekerasan demi kekerasan kepada anak.
Karena itu, di hari yang penuh berkah ini,
marilah kita berhenti sejenak, membuka hati untuk sejenak belajar dari ayahanda
para nabi dan rasul, Nabiyullah Ibrahim ‘alaihissalam. Belajar
tentang betapa pentingnya nilai keluarga kita, tentang betapa pentingnya nilai
seorang anak bagi orangtuanya di dunia dan akhirat.
Allahu akbar Allahu akbar Allahu akbar la ilaha
illaLlahu Allahu akbar, Allahu akbar walillahil hamd…
Para ayah dan bunda yang dimuliakan Allah!
Pelajaran pertama dari kisah Ibrahim ‘alaihissalam adalah
bahwa untuk mendapatkan anak yang shaleh, maka orangtua terlebih dahulu
berusaha menjadi orang yang shaleh. Karena siap menjadi orangtua artinya siap
menjadi teladan untuk keluarga, bukan sekedar memberi makan dan mencukupi
kebutuhan anak.
Keberhasilan Ibrahim ‘alaihissalam mendapatkan
karunia anak shaleh seperti Isma’il ‘alaihissalam adalah karena
beliau sendiri berhasil mendidik dan membentuk dirinya menjadi seorang hamba
yang shaleh. Allah Azza wa Jalla menegaskan:
قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ
حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ
“Sungguh telah ada untuk kalian teladan yang
baik dalam diri Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya.” (QS. al-Mumtahanah:
4)
Pujian Allah Azza wa Jalla untuk
Ibrahim ‘alaihissalam ini tentu saja didapatkannya setelah ia
berusaha dan berusaha menjadi sosok pribadi yang dicintai oleh Allah Azza
wa Jalla. Pertanyaannya sekarang untuk kita semua adalah: siapakah di
antara kita yang sejak awal menjadi orangtua sudah berusaha untuk belajar dan
berusaha menjadi orangtua yang shaleh? Apakah kesibukan kita menshalehkan
pribadi kita sudah menyamai kesibukan kita mengurus rezki dan urusan dunia
lainnya? Prof. Dr. Abdul Karim Bakkar, seorang pakar pembinaan anak dan
keluarga menegaskan: “Tarbiyah dan pembinaan keluarga yang kita capai itu
adalah gambaran tentang bagaimana pembinaan pribadi kita sendiri!”
Allahu akbar, Allahu akbar, La ilaha illaLlahu
Allahu akbar, Allahu akbar walillahilhamd
Ma’asyiral muslimin rahimahukumullah!
Pelajaran kedua dari Nabi Ibrahim ‘alaihissalam adalah
jika ingin memiliki anak yang shaleh, maka bersungguh-sungguhlah meminta dan
mencita-citakannya dari Allah Azza wa Jalla. Allah Ta’alamengabadikan
doa-doa Nabi Ibrahim ‘alaihissalam tentang itu di dalam al-Qur’an:
رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ
“Tuhanku, karuniakanlah untukku (seorang anak)
yang termasuk orang-orang shaleh.” (al-Shaffat: 100)
رَبِّ اجْعَلْنِى مُقِيمَ
الصَّلَوٰةِ وَمِن ذُرِّيَّتِى رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ
دُعَآءِ
“Ya Tuhanku, jadikanlah aku orang yang
menegakkan shalat, juga dari keturunanku. Ya Tuhan kami, kabulkanlah doaku.” (Ibrahim:
40)
Kaum muslimin yang berbahagia!
Mungkin banyak di antara kita yang sekedar
“mau” memiliki anak yang shaleh. Tapi siapa di antara kita yang sungguh-sungguh
berdoa memintanya kepada Allah dengan kelopak mata yang berderai air mata?
Siapa di antara kita yang secara konsisten menyelipkan doa-doa terbaiknya untuk
keluarga dan anak-anaknya?
Allahu akbar, Allahu akbar La ilaha illaLlahu
Allahu akbar wa lillahilhamd…
Jika kita memang sungguh-sungguh bercita-cita
mendapatkan anak shaleh, maka kita harus berpikir dan berusaha sungguh-sungguh
pula mencari jalannya, sama bahkan lebih dari saat kita bercita-cita ingin
mempunyai penghasilan yang besar, rumah tinggal impian dan kendaraan idaman
kita. Berikut ini beberapa hal yang sungguh-sungguh harus kita jalankan untuk
mewujudkan impian “anak shaleh” tersebut:
Pertama, konsisten mencari rezki yang halal
untuk keluarga:
Dalam pandangan Islam, apa yang dikonsumsi oleh
tubuh manusia akan berpengaruh terhadap perilakunya. Karena itu, Islam
mewajibkan kepada setiap orangtua untuk memberikan hanya makanan halal yang
diperoleh melalui harta yang halal kepada anak-anak mereka. Bahkan nafkah yang
halal untuk keluarga akan dinilai sebagai sedekah. Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallambersabda:
إِنَّ الْمُسْلِمَ إِذَا أَنْفَقَ عَلَى
أَهْلِهِ كَانَتْ لَهُ صَدَقَةً
“Sesungguhnya seorang muslim itu jika ia
memberi nafkah kepada keluarganya, maka itu akan menjadi sedekah untuknya.” (HR. Ibnu
Hibban dan dishahihkan oleh al-Albani)
Usaha memberikan nafkah yang halal tentu saja
menjadi tantangan tersendiri bagi orangtua. Dan untuk itu, kita harus selalu
mengingat peringatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang
tantangan tersebut. Beliau bersabda:
يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ لاَ
يُبَالِي الْمَرْءُ مَا أَخَذَ مِنْهُ أَمِنَ الْحَلاَلِ أَمْ مِنْ الْحَرَامِ
“Akan datang kepada manusia suatu zaman di mana
seseorang tidak lagi peduli apa yang ia kumpulkan; apakah dari yang halal atau
dari yang haram?” (HR. al-Bukhari)
Apakah kita termasuk yang disebutkan
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits ini?
Orang yang tidak peduli dari mana mengais dan membawa pulang nafkah untuk
keluarga; apakah itu dari hasil suap, korupsi dan manipulasi seperti yang
sekarang ini sedang menjadi trend sebagian pejabat di negeri ini?! Semoga saja
tidak, karena nafkah yang tidak halal yang tumbuh menjadi daging dalam tubuh.
Dan Rasulullah telah berpesan:
لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ لَحْمٌ
نَبَتَ مِنَ السُّحْتِ، النَّارُ أَوْلَى بِهِ
“Tidak akan masuk surga daging tumbuh dari
harta haram, karena neraka lebih pantas untuknya.”(HR.
al-Tirmidzi dengan sanad yang shahih)
Allahu akbar, Allahu akbar, la ilaha illaLlahu
Allahu akbar walillahilhamd…
Kaum muslimin yang dimuliakan Allah!
Yang kedua, memberikan kasih sayang kepada anak
tapi tidak memanjakannya:
Pada hari ini, seiring dengan perkembangan
teknologi yang nyaris tak terbendung, kita sudah tidak aneh lagi melihat
anak-anak yang dibekali oleh para orangtua dengan peralatan-peralatan
komunikasi yang bisa apa saja, termasuk mengakses tayangan-tayangan pornografi.
Di samping dampak lain seperti kecanduan game dan semacamnya yang semakin
merenggangkan hubungan komunikasi antara anak dan orangtua. Ini adalah satu
contoh kasus di mana mungkin saja kita menganggap itu sebagai bukti kasih
sayang kita kepada mereka.
Namun marilah memikirkan dengan jernih bahwa
bukti cinta dan sayang kita yang sesungguhnya kepada mereka adalah dengan
berusaha menyelamatkan mereka dari api neraka. Allah Ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا
أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ
“Wahai orang-orang yang beriman! Jagalah diri
dan keluarga kalian dari api nerakan yang bahan bakarnya adalah manusia dan
batu…” (al-Tahrim:
6)
Apakah Anda rela membiarkan anak-anak Anda
terpanggang di dalam kobaran api neraka? Apakah kita rela membiarkan anak-anak
yang kita sayangi itu menjadi bahan bakar neraka Allah?Na’udzu billah min
dzalik.
Kaum muslimin rahimakumullah!
Para ayah dan bunda yang berbahagia!
Selanjutnya yang ketiga
adalah terus belajar dan belajar menjadi orangtua yang shaleh dan cakap:
Apakah kita sudah mengetahui semua panduan dan
petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam
mendidik anak? Apakah kita sudah memahami bagaimana menghadapi karakter anak
kita yang berbeda-beda itu? Kita tidak dilarang mempelajari konsep pendidikan
anak dari siapa saja, tapi selalu ingat bahwa konsep pendidikan dan pembinaan
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah yang terbaik
dan yang wajib untuk kita jalankan. Tentu saja kita tidak lupa untuk meneladani
jejak para sahabat Nabi dan Ahlul bait beliau secara benar, dan tidak
berlebih-lebihan.
Cobalah kita renungkan betapa banyaknya hal yang
harus kita pelajari sebagai orangtua. Karenanya sesibuk apapun urusan dunia
kita, kita harus menyediakan waktu untuk belajar menjadi orangtua yang shaleh
dan cakap. Itulah harga yang harus kita bayar untuk menyelamatkan
keluarga kita dari kobaran api neraka yang membara.
Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, La
ilaha illaLlahu Allahu akbar walillahil hamd…
Kaum muslimin yang berbahagia!
Mengapa kita harus benar-benar serius merancang
kehadiran anak shaleh di dalam rumah tangga kita? Menjawab pertanyaan itu,
marilah merenungkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ini:
إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ
عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةِ أَشْيَاءَ: مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ
عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
“Apabila seorang insan meninggal dunia, akan
terputuslah seluruh amalnya kecuali dari 3 hal: dari sedekah jariyah, atau dari
ilmu yang bermanfaat, atau anak shaleh yang berdoa untuknya.”(HR. Abu Dawud
dan dishahihkan oleh al-Albani)
Melalui hadits ini, Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam mengisyaratkan bahwa anak yang shaleh adalah
investasi yang tak ternilai harganya. Anak yang shaleh adalah pelita yang tak
padam meski kita telah terkubur dalam liang lahat. Anak yang shaleh adalah
sumber pahala yang tak putus meski tubuh kita telah hancur berkalang tanah. Sebaliknya,
anak-anak yang tidak shaleh kelak akan menjadi sumber bencana bagi kehidupan
kita para orangtua di akhirat, wal ‘iyadzu billah.
Allahu akbar, Allahu akbar walillahil hamd…
Kaum muslimin yang berbahagia!
Namun jika kita merasa gagal setelah
mengerahkan upaya sungguh-sungguh untuk menghadirkan sosok anak shaleh dalam
rumah kita, janganlah kita berputus asa kepada Allah Azza wa Jalla.
Dalam kondisi putus asa seperti itu, kita harus belajar dari kesabaran dan
keteguhan Nabi Nuh‘alaihissalam yang terus mengajak anaknya ikut
bersamanya, meski kemudian anaknya memilih untuk durhaka kepada Allah Ta’ala hingga
akhir hayatnya.
Kesabaran juga hal paling mendasar yang harus
kita miliki dalam mengarungi bahtera rumah tangga. Maraknya kasus perceraian
adalah bukti bahwa banyak orangtua yang egois memikirkan dirinya sendiri dan
lupa bahwa anak-anak sangat membutuhkan sebuah keluarga yang utuh. Karenanya,
bersabarlah karena Allah selalu bersama dengan orang-orang yang sabar.
Selanjutnya kepada para pemilik dan pelaku
media, ingatlah bahwa media-media yang Anda miliki dan kelola telah terbukti
sebagai alat paling efektif menyampaikan kebaikan dan keburukan. Ingatlah,
jika Anda mencari nafkah dengan cara menyebarkan nilai-nilai kebatilan melalui
media, maka itu akan menjadi nafkah haram untuk diri dan keluarga Anda.
Kaum muslimin yang dimuliakan Allah!
Di penghujung khutbah ini, marilah kita berdoa:
mudah-mudahan semua ibadah yang kita lakukan mendapatkan
ridha dari Allah SWT.
بَارَكَ
اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ فِى
اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، اِنَّهُ هُوَ الْبَرُّ الرَّؤُوْفُ
الرَّحِيْمُ
اَللهُ
أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ
اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرْ كَبِيْرًا
وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً، لَاإِلٰهَ
إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَأَعَزَّ جُنْدَهُ
وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ، لاَإِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ
أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ اْلحَمْدُ.
الحَمْدُ
لِلّٰهِ الْمَلِكِ الدَّيَّانِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ
سَيِّدِ وَلَدِ عَدْنَانَ، وَعَلَى اٰلِهِ وَصَحْبِهِ وَتَابِعِيْهِ عَلَى مَرِّ
الزَّمَانِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ الْمُنَـزَّهُ
عَنِ الْجِسْمِيَّةِ وَالْجِهَةِ وَالزَّمَانِ وَالْمَكَانِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا
مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ كَانَ خُلُقَهُ الْقُرْآنُ، أَمَّا
بَعْدُ. فَيَاأَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ
فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.
فَقَالَ اللهُ
تَعَالَى إِنَّ اللهَ وَ مَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا
الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَ سَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا
.اَللّٰهُمَّ
صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ
كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا
إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَاإِبْرَاهِيْمَ فِي الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ
حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ وَارْضَ عَنِ
الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ. وَعَنْ أَصْحَابِ نَبِيِّكَ أَجْمَعِيْنَ.
وَالتَّابِعِبْنَ وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ وَ تَابِعِهِمْ إِلٰى يَوْمِ الدِّيْن
اَللّٰهُمَّ
اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ.
اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالطَّاعُوْنَ
وَالْأَمْرَاضَ وَالْفِتَنَ مَا لَا يَدْفَعُهُ غَيْرُكَ عَنْ بَلَدِنَا هٰذَا
إِنْدُوْنِيْسِيَّا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَا
رَبَّ الْعَالَمِيْنَ.
Ya Allah, Engkaulah Tuhan yang menciptakan
kami, Engkaulah satu-satuNya yang berhak untuk kami sembah…Hari ini kami datang
mengetuk pintu ampunanMu. Hari ini kami hadir bersimpuh dengan peluh-peluh dosa
yang melekat di tubuh kami yang lemah ini. Ya Allah, betapa kami sering lupa
bahwa kehidupan dunia ini sangat singkat, hingga kami pun jatuh dan jatuh lagi
dalam kedurhakaan terhadap perintahMu. Ya Allah, ampunilah kami, ampunilah
kami, ampunilah kami. Ya Allah, jika Engkau menutup pintu ampunanMu yang agung,
kepada siapa lagi kami harus mencari ampunan…
Ya Allah, ya Rabbana, dari bumi khatulistiwa
ini, perkenankan doa kami untuk saudara-saudara muslim kami yang terjajah dan
tertindas di berbagai belahan bumiMu. Ya Rabbana, berikan keteguhan dan
kesabaran kepada saudara-saudara kami di Syiria, Mesir, Palestina, Irak,
Myanmar dan di manapun mereka yang tertindas… Kerahkan bala tentaraMu di alam
semesta ini untuk meluluhlantakkan para penindas mereka sehancur-hancurnya…
Lindungilah kehormatan mereka… Jadikan mereka yang gugur sebagai syuhada’ yang
selalu hidup di sisiMu… Segerakan pertolonganMu untuk mereka, Ya Rabbal
‘alamin…
Ya Allah, ya Rabbana, di sisa-sisa hidup kami
ini, berikanlah kekuatan kepada kami untuk selalu berbakti dan menjadi anak
yang shaleh untuk ayah-bunda kami. Jika mereka masih hidup, izinkanlah kami
untuk berkhidmat dan melayani mereka dengan sebaik-baiknya di sisa-sisa usia
mereka… Jika ayah-bunda kami telah tiada, maka izinkanlah kami untuk menjadi
sisa-sisa kebaikan mereka yang terus-menerus menjadi ladang kebaikan penerang
alam kubur mereka… Ya Allah, ampuni, ampuni, ampuni durhaka kami kepada
ayah-bunda kami…
Ya Allah, ya Rabbana, berikan kami kekuatan dan
kemampuan untuk menjadi orangtua yang terbaik untuk putra-putri kami… Hanya
Engkau satu-satuNya yang dapat memberikan kekuatan untuk mendidik mereka dengan
sebaik-baiknya… Ya Allah, jadikan anak-anak kami sebagai penyejuk hati kami,
yang selalu mendoakan kami saat kami sendiri dalam kegelapan alam kubur… Ya
Allah, karuniakan kepada kami anak-anak yang mencintai al-Qur’an dan Sunnah
NabiMu…
Ya Allah, selamatkan negeri ini dari
pemimpin-pemimpin yang zhalim… Selamatkan negeri ini dari kerakusan para
koruptor yang tidak bertanggung jawab… Karuniakan untuk kami para pemimpin yang
adil dan mencintai SyariatMu… Izinkan kami untuk menikmati indahnya negeri ini
di bawah naungan SyariatMu yang Maha Adil…
Ya Allah
perkenankanlah kami untuk sampai ke Mekkah, Madinah, dan Arafah untuk menjadi
tamu-Mu menjalankan ibadah haji dan umroh.
Ya Allah, Zat Yang Maha Mengabulkan doa
kabulkanlah doa kami, penuhilah permintaan kami, kamilah hamba-Mu yang lemah,
harapan kami hanya kepadaMu, Engkau Maha Mendengar, Engkaulah Penguasa
satu-satunya Yang Haq, Engkaulah sebaik-baik Pemberi yang diharap.
رَبَّنَا
اٰتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِي الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ
النَّارِ
عِبَادَ اللهِ
اِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ
وَالْمُنْكَرِ. يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ
الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ. وَ اشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ. وَلَذِكْرُ
اللهِ اَكْبَرُ