25 Juni 2023

Keteladanan Keluarga Nabi Ibrahim AS

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرْ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً، لَاإِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَعَبْدَهُ وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ، لاَإِلهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ اْلحَمْدُ.

الْحَمدُ للهِ رَبِّ العَالَمِين، الْحَمْدُ لِلّهِ الَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَات، وَبِعَفْوِهِ تُغْفَر الذُّنُوبُ وَالسَّيِّئاَت، وَبِكَرَمِهِ تُقْبَلُ العَطَايَا والقُرَبَات، وَبِلُطْفِهِ تُستَر العُيُوبُ وَالزَّلاَّت، اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِي أَمَاتَ وَأَحْيَا، وَمَنَعَ وَأَعْطَى، وَأَرْشَدَ وَهَدَى، وَأَضْحَكَ وَأَبْكَى؛ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لَا نَبِيَّ بَعْدَه. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ بِاَجَلِّ الصَّلَوَاتِ وَاَجْمَعِهَا وَاَزْكَى التَّحِيَّاتِ وَاَوْسَعِهَا وَعلى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ مَنِ اهْتَدَى

أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا النَّاس إتَّقُوا اللهَ جَلَّ وَعَلَى. وَقَالَ اللهُ تَعاَلى عَلَى نَبِيِّهِ قَدِيْمًا. وَاسْمَعُوا نِدَاءَ رَبِّكُمْ لَكُمْ: يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. وقَال تَعالَى:﴿ وَقُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي لَمْ يَتَّخِذْ وَلَدًا وَلَمْ يَكُنْ لَهُ شَرِيكٌ فِي الْمُلْكِ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ وَلِيٌّ مِنَ الذُّلِّ وَكَبِّرْهُ تَكْبِيرًا

Jama’ah dan hadirin yang berbahagia

Pada kesempatan yang berbahagia ini, khotib mengajak kepada semua para hadirin untuk terus meningkatkan ketaqwaan kepada Allah , dengan berusaha mengamalkan perintahNya dan menjauhi larangan-laranganNya.

Pada pagi yang berbahagia ini, sekali lagi kita dipertemukan oleh Allah dengan hari yang syarat dengan makna dan keteladan hidup, hidup di dunia yang mengajarkan untuk meraih kebahagiaan Akhirat. Berkenaan dengan hal ini, tidak ada yang patut kita ucapkan dan lazimkan kecuali memuji Dzat Yang Maha Agung Allah. Allah telah memberikan nikmat, hidayah, sehat bahkan kebahagiaan kepada kita, dan mengabulkan do’a-do’a yang kita sampaikan dan bahkan apa yang kita butuhkan namun belum sempat kita sampaikan kepadaNya, telah Allah berikan kepada kita. Shalawat dan salam senantiasa tercurah pada baginda Nabi Muhammad , yang telah mengajarkan kepada kita bagaimana untuk mengenal, mencintai dan mematuhi perintah Allah . Melalui Beliau juga kita mampu mengenali keluarga dan perjuangan dari Kholilullah Ibrahim AS, yang dalam kisah hidupnya sebagian besar diabadikan dan dijadikan menjadi sebagian syariat Islam.

Para hadirin yang dirahmati Allah

Setiap kali kita berkumpul ditempat yang mulia ini dalam rangkaian pelaksanaan ibadah ‘idul adha, langsung teringat pada kita semua akan sebuah peristiwa besar dan kepada sosok Nabi yang mendapat gelar Khoilullah yaitu Nabi Ibrahim AS dan kehebatan istri beserta anakNya. Sebuah keluarga yang menjadi ikon perjuangan demi tegaknya kalimat Tauhid yang seharusnya kita teladani dan kita banggakan, kemudian dari situ kita usahakan untuk menghadirkan didalam keluarga kita masing-masing yaitu menjadi keluarga yang seiman dan seperjuangan meskipun harus melalui berbagai ujian besar.

Menghayati dan memahami rangkaian ibadah idul adha yang mengingatkan pada kisah yang dialami oleh Nabi Ibrahim AS, paling tidak ada 3 hal yang patut untuk kita teladani, yaitu pengajaran pentingnya membawa keluarga pada ketauhidan yang sesungguhnya, menjadikan qurban sebagai pembuktian ketauhidan sosial, dan menjadikan siti hajar sebagai teladan dan spirit dalam mendidik anak.

Kaum muslimin dan muslimat yang berbahagia.

Pertama, pentingnya mengajarkan tentang tauhid dan mempraktikkan dalam keluarga. Sungguh indah yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim As ketika beliau menginginkan sesutau yaitu anak, beliau mengucapkan dan ucapan beliau kemudian terabadikan dalam firman Allah SWT surat Assafat ayat 100;

رَبِّ هَبْ لِيْ مِنَ الصّٰلِحِيْنَ

“Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang yang saleh”.

Menggantungkan dan menaruh harapan kepada Dzat Yang Maha Kuasa atas setiap apa yang akan dilakukan dan diinginkan menjadi hal prioritas yang harus dilakukan. Begitupun dalam keluarga, antara suami dan istri harus satu visi dan satu keyakinan. Visi suami istri yang kemudian menjadi visi keluarga harus bermuatan nilai dakwah dan kemajuan Islam. Karena manusia dilahirkan adalah untuk menegakkan kalimat Tauhid, bukan untuk berbangga pada hal yang sifatnya duniawi.

Imam al-Qurtubhi dalam tafsirnya menjelaskan tentang firman Allah di atas, bahwa Nabi Ibrahim AS meminta kepada Allah yaitu berupa anak dengan tujuan agar dalam dakwah beliau AS ada kawan. Lebih lanjut dalam do’anya Nabi Ibrahim AS menyebutkan anak yang diminta adalah anak yang sabar, anak yang memiliki sifat sabar. Kemudian Allah  menjawab permohonan Nabinya pada ayat berikutnya :

فَبَشَّرْنَٰهُ بِغُلَٰمٍ حَلِيمٍ

“Maka Kami beri dia khabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar”.

Anak yang sabar itulah yang bernama Ismail AS. Seorang anak yang lahir bermula dari permohonan sang ayah dengan tujuan baik, sehingga lahirlah Ismail AS sebagai sosok yang teruji kesabarannya sebagaimana bunyi permohonan sang ayah kepada RabbNya. Kuat dalam ingatan kita, bahwa kesabaran Ismail AS tercantum dalam firman Allah ketika sang ayah menyampaikan perintah RabbNya untuk menyembelihnya ;

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ ٱلسَّعْىَ قَالَ يَٰبُنَىَّ إِنِّىٓ أَرَىٰ فِى ٱلْمَنَامِ أَنِّىٓ أَذْبَحُكَ فَٱنظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَٰٓأَبَتِ ٱفْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِىٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّٰبِرِينَ

“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”.

Para hadirian yang berbahagia

Sungguh indah dan menyentuh hati kita semua, dimana kita melihat kekompakan ayah dan anak dalam berbakti kepada Rabbnya, beliau membuktikan ketaatan yang totalitas tanpa ada sedikit keraguan dan kekhawatiran. Bukti perjuangan sebuah keluarga yang harmonis dan kompak, antara satu dengan yang lain saling menguatkan, bukan melemahkan, saling memotivasi bukan gembosi.

Begitu berat dan besar baik ujian maupun kesabaran yang telah dibuktikan Nabi Ibrahim AS dan keluarganya khususnya keluarga yang Allah tetapkan mereka tinggal di tanah tandus dan gersang yaitu kota Makkah al-Mukarromah, yang sekarang menjadi tempat yang sangat diperebutkan semua ummat islam dari seluruh penjuru Negeri untuk bisa berkunjung dan beribadah disana.

Hadirin yang dirahmati Allah

Yang kedua, menjadikan qurban sebagai pembuktian ketauhidan sosial. Penyembelihan Qurban yang dilakukan oleh kaum Muslimin tidak terlepas dari peristiwa  yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim AS dan anaknya Ismail AS. Pernahkah kita semua merenungi sebagian dari hikmah pensyariatan penyembelihan qurban?.. diantaranya adalah sebagai pembuktian ketaatan terhadap perintah Allah untuk berani mengeluarkan atau mengorbankan dari sesuatu yang sangat dicintai. Nabi Ibrahim AS kala itu sangat mencintai anaknya, anak yang sudah lama ditunggu-tunggu untuk menegakkan kalimat Tauhid, anak yang dijadikan kawan dalam berdakwah, namun Allah perintahkan untuk menyembelihnya.

Ketika syariat itu sampai kepada kita, bukanlah kita harus menyembelih anak kita, melainkan sesuatu yang sangat kita cintai, mungkin harta, waktu, ilmu atau tenaga. Ikhlas dan siapkah kita untuk mengorbankan sesuatu yang sangat kita cintai semisal waktu atau harta untuk berjuang dijalan Allah.

لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّىٰ تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ ۚ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ

“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna) sebelum kamu menafkahkan sebahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.” (QS. Ali ‘Imran : 92).

Selanjutnya dari pengorbanan tersebut, mampu atau bisakah menjadi sesuatu yang abadi dan akan selalu dikenang sepanjang masa. Selanjutnya perlu kita renungkan berbagai rangkaian peristiwa yang dialami oleh Nabi Ibrahim AS dan keluarganya, dari penyembelihan kurban, pembangunan ka’bah, larinya siti hajar dari bukit sofa ke bukit marwa, lempar jumroh dan ibadah-ibadah lainnya. Semua itu menjadi abadi dan menjadi rangkaian ibadah haji yang selalu diulang setiap tahun oleh kaum muslimin.

Hadirin yang dirahmati Allah

Meneladani hal ini, sudah seharusnya kita mulai memikirkan dan meningkatkan pengorbanan kita. Qurban dan ibadah-ibadah social lain seperti zakat, infak, sadaqah dan wakaf, merupakan pembuktian tauhid social kita yang berangkat dari pembenaran Tauhid Ilahiyah kepada Allah. Perjuangan dan peran sosial kita yang berangkat dari ketauhidan kepada Allah sudah seharusnya kita upayakan menjadi amal yang selalu abadi dan bisa dirasakan oleh banyak orang dalam waktu yang lama.

Ketika kita tarik contoh local yang telah melakukan amal sosial dan menjadi amal abadi yang bisa terus dirasakan oleh kaum muslimin adalah seperti KH. Ahmad Dahlan dan KH. Hasyim Asy’ari. Amal beliau menjadi amal jariyah melalui organisasi yang didirikannya. Beliau menyiapkan sebuah wadah untuk dakwah dan syiar Islam. Tentu penyebutan kedua tokoh diatas bukan berarti menafikan tokoh-tokoh lainnya, namun paling tidak dari beliau berdua bisa menjadi contoh bagi kita, bahwa penting untuk memikirkan dan menyiapkan sesuatu yang bisa dirasakan oleh orang banyak. Dari sini juga bukan berarti kita harus membuat wadah atau organisasi baru, namun perlunya menyiapkan usaha atau gerakan yang berfungsi untuk mencerdaskan ummat dan mampu menjadi wadah saling tolong-menolong sesama ummat manusia.

Terlepas kecil atau besar, sedikit atau banyak yang kita lakukan untuk kebermanfaatan ummat, namun jika menjadi amal abadi, Insya Allah hal itu menjadi amal jariyah kita. Baik kita sebagai jama’ah atau pengurus suatu pergerakan dakwah Islam, sudah seharusnya memikirkan kebermanfaatan dan keberlangsungan amal social yang dilakukan. Keberlangsungan dari amal yang sudah pernah kita lakukan semata-mata adalah untuk membuat amal jariyah, bukan untuk berbangga dan minta dibangga-banggakan oleh anak keturunan kita atau orang lain.

Hadirin yang dirahmati Allah

Yang ketiga, menjadikan siti hajar sebagai teladan dan spirit dalam mendidik anak. Sungguh berat menjadi seorang ibu, apalagi ketika kita melihat beratnya ujian yang harus dijalani siti hajar. Namun dengan keyakinan yang tinggi, meskipun harus ditinggalkan suami dan harus mengurus anak seorang diri ditanah yang tandus dan gersang, beliau berhasil mengasuh Nabi Ismail AS menjadi sosok yang shaleh dan memiliki kesabaran yang sangat tinggi. Sehingga ketika Nabi Ibrahim As kembali dan dijumpailah anaknya yaitu Ismail AS telah tumbuh dewasa dan siap diajak untuk bersama-sama taat kepada Allah, diantaranya adalah pembangunan Ka’bah, qurban dan lain sebagainya.

Keteladanan yang ada pada siti hajar layak untuk menjadi contoh bagi kita semua, bahwa seorang istri mempunyai peran penting dalam dakwah dan perjuangan Islam. Istri memiliki kekuatan untuk memberikan dorongan dan dukungan kepada suami untuk mengambil peran dalam dakwah dan ketaatan kepada Allah, istri pula memiliki peran untuk mendidik anak agar menjadi anak yang mempunyai perhatian terhadap syiar Islam. Maka tidak sedikit lahirnya para hafidz Qur’an, ulama dan muballigh tidak terlepas dari peran seorang ibu. Satu contoh nyata adalah ibunda Imam Syafi’i, berkat didikannya lahir seorang ulama besar yang memiliki pengaruh besar terhadap syiar Islam salah satunya di Indonesia, yang mayoritas ummat Islam bermadzhab Syafi’i.

Suami yang hebat dan anak yang hebat utamanya yang memiliki peran dan kontribusi dalam gerakan dakwah islam tidak terlepas dari peran seorang perempuan yaitu Ibu. Wahai para istri, para ibu, tidakkah engkau semua iri dengan ibunda siti hajar juga ibunda imam syafi’i, yang telah berhasil mendampingi suami dan mengajarkan pada anak mereka untuk menekuni ajaran agama dan memberikan kontribusi untuk dakwah islam?..  ketahuilah, bahwa peran dalam rumah tangga khususnya istri menjadi wasilah atau asbab terhadap sebuah keberhasilan suami dan anak-anak.

Hadirin yang dirahmati Allah

Akhirnya, marilah kita akhiri khutbah ini dengan bersama-sama bermunajat, memohon kepada Dzat yang Maha Mengabulkan setiap permintaan: Mudah-mudahan kita mmapu meneladani keluarga Nabi Ibrahim AS dan melahirkan anak-anak yang shalih.

 إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ

Ya Allah, Dzat Yang Maha Agung, dihari yang mulia ini Ya Allah kami berkumpul memenuhi seruanmu, Ya Allah anugerahkan kepada kami anak-anak yang shaleh, anak-anak yang bisa kami jadikan kawan dalam dakwah, anak yang menjadi penyejuk pandangan kedua orang tua.

Ya Allah Dzat Yang Maha Kaya, kayakanlah kami Ya Allah, sehingga kami mampu berkurban setiap tahun dan dengan harta tersebut kami mampu berjuang untuk tegaknya syiar Islam.

Ya Allah Ya Rahim, sayangilah kami ya Allah dan berilah kami rasa sayang, sehingga kami bisa saling menyayangi dan tumbuhkanlak kepada kami sayang kami anak-anak yatim.

اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَالدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَاوَاِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ.

رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

 

 

Khutbah Idul Adha 6 Keteladanan Keluarga Nabi Ibrahim

 

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ. وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ، اللهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا، وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا، وَنَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَلَا نَعْبُدُ إِلَّا إِيَّاهُ، وَنَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا رَسُولُ اللّٰهِ، وَرَحْمَتُهُ الْمُهْدَاةُ، صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الأَمِيْنِ، وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ الطَّيِّبِيْنَ الطَّاهِرِيْنَ أَمَّا بَعْدُ، فَأُوصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللّٰهِ العَلِيِّ العَظِيْمِ، القَائِلِ فِي كِتَابِهِ الكَرِيْمِ: اِنَّآ اَعْطَيْنٰكَ الْكَوْثَرَۗ  فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْۗ  اِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْاَبْتَرُ  

Mengawali khutbhah id pada pagi hari yang penuh keberkahan ini, khatib berwasiat kepada kita semua, terutama kepada diri khatib pribadi, untuk senantiasa berusaha meningkatkan keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah subhanahu wa ta’ala, kapan pun dan di mana pun kita berada serta dalam keadaan sesulit apa pun dan dalam kondisi yang bagaimana pun, dengan cara melaksanakan segenap kewajiban dan menjauhi segala larangan Allah ta’ala.

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Keluarga Nabi Ibrahim adalah keluarga yang saleh. Sang ayah, yaitu Ibrahim, serta istri dan kedua putranya, semuanya adalah hamba-hamba yang saleh. Saleh (shalih) artinya memenuhi hak Allah dan hak sesama hamba. Kesalehan tidak akan dicapai kecuali dengan ilmu dan amal. Tanpa ilmu, seseorang tidak akan mampu beramal dengan benar sesuai tuntunan syariat. Dan ilmu tanpa amal tidak akan mendekatkan diri kepada Allah dan tidak akan mengantarkan seseorang menjadi pribadi yang saleh.

Ada banyak sekali sisi kesalehan keluarga Nabi Ibrahim yang dapat kita teladani. Di antaranya adalah hal-hal sebagai berikut.

Pertama, Nabi Ibrahim sangat kuat memegangteguh akidah dan syariat. Allah ta’ala berfirman:

مَاكَانَ اِبْرٰهِيْمُ يَهُوْدِيًّا وَّلَا نَصْرَانِيًّا وَّلٰكِنْ كَانَ حَنِيْفًا مُّسْلِمًاۗ وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ (آل عمران: ٦٧(

 Maknanya: “Ibrahim bukanlah seorang Yahudi dan bukan pula seorang Nasrani, melainkan dia adalah seorang yang memegang teguh Islam. Dia bukan pula termasuk (golongan) orang-orang musyrik.” (QS Ali ‘Imran: 68)

Nabi Ibrahim sebagaimana nabi-nabi yang lain adalah ma’shum (selalu dijaga oleh Allah) dari kufur atau syirik, dosa-dosa besar dan dosa-dosa kecil yang menunjukkan kehinaan jiwa, baik sebelum maupun setelah diangkat menjadi nabi.

 

Nabi Ibrahim tidak pernah sedikit pun meragukan ketuhanan Allah. Beliau tidak pernah menyembah selain Allah, tidak pernah menyembah bulan, bintang dan matahari. Nabi Ibrahim tidak pernah menjual berhala bersama ayahnya. Nabi Ibrahim tidak pernah memintakan ampunan dosa kepada Allah untuk ayahnya yang musyrik. Dan Nabi Ibrahim tidak pernah meragukan sifat qudrah (Mahakuasa) Allah ta’ala. Beliau juga tidak pernah berdusta dalam setiap ucapannya.

Kedua, berdakwah dengan penuh hikmah. Hal itu tercermin tatkala Nabi Ibrahim mengajak ayahnya untuk masuk ke dalam agama Islam sebagaimana diceritakan dalam QS al-An’am ayat 41-44. Nabi Ibrahim dengan menjaga adab seorang anak kepada orang tuanya menjelaskan dengan santun kepada ayahnya yang menyembah berhala bahwa berhala tidaklah dapat mendengar doa penyembahnya dan tidak dapat melihat penyembahnya. Yang demikian itu, bagaimana mungkin ia dapat memberi manfaat kepada penyembahnya, memberi rezeki kepadanya atau menolongnya. Ibrahim mengajak ayahnya untuk menyembah kepada Allah semata, satu-satunya Tuhan yang berhak dan wajib disembah.

Ketiga, berilmu, memiliki hujjah yang kuat dan beramar ma’ruf nahi mungkar dengan penuh keberanian. Nabi Ibrahim telah diberi hujjah yang kuat oleh Allah ta’ala sehingga selalu dapat mematahkan berbagai dalih yang dilontarkan oleh musuh-musuh Islam ketika berdebat. Allah ta’ala berfirman:

 وَتِلْكَ حُجَّتُنَآ اٰتَيْنٰهَآ اِبْرٰهِيْمَ عَلٰى قَوْمِهٖۗ (الأنعام: ٨٣(

 Maknanya: “Itulah hujjah yang Kami anugerahkan kepada Ibrahim untuk menghadapi kaumnya” (QS al-An’am: 83).

Karena memiliki hujjah yang kuat inilah, Nabi Ibrahim berhasil membungkam para penduduk daerah Harraan yang menganggap bulan, bintang dan matahari sebagai tuhan. Ibrahim menjelaskan kepada mereka bahwa bulan, bintang, dan matahari tidak layak disembah karena mereka adalah makhluk yang mengalami perubahan, terbit lalu tenggelam. Sesuatu yang berubah dari satu keadaan ke keadaan yang lain pasti bukan tuhan. Karena sesuatu yang berubah pasti membutuhkan kepada yang mengubahnya. Sesuatu yang membutuhkan kepada yang lain, berarti ia lemah. Dan sesuatu yang lemah tidak mungkin disebut tuhan yang layak disembah. Perkataan Nabi Ibrahim kepada kaumnya: هذا ربي seperti dikisahkan dalam QS al-An’am ayat 76-78 adalah dalam konteks mendebat kaumnya dan menjelaskan bahwa bulan, bintang, dan matahari tidak layak disembah. Perkataan tersebut tidak berarti Ibrahim menetapkan bulan, bintang, dan matahari sebagai tuhan. Karena Nabi Ibrahim tidak pernah mengalami fase kebingungan mencari-cari Tuhan. Sebelum perdebatan itu, bahkan sebelum diangkat menjadi nabi, beliau telah mengetahui dan meyakini bahwa satu-satunya Tuhan yang berhak disembah hanyalah Allah. Dialah satu-satunya pencipta segala sesuatu, Tuhan yang menghendaki terjadinya segala sesuatu dan yang berbeda dengan segala sesuatu. Allah ta’ala berfirman:

 وَلَقَدْ اٰتَيْنَآ اِبْرٰهِيْمَ رُشْدَهٗ مِنْ قَبْلُ وَكُنَّا بِهٖ عٰلِمِيْنَ (الأنبياء: ٥١(

 Maknanya: “Sungguh, Kami benar-benar telah menganugerahkan kepada Ibrahim petunjuk sebelum masa kenabiannya dan Kami telah mengetahui dirinya” (QS al-Anbiya’: 51).

            Perkataan Nabi Ibrahim: هذا ربي ketika melihat bulan, bintang dan matahari adalah bermakna istifham inkari, yakni beliau bertanya kepada kaumnya dengan maksud mengingkari bukan dengan tujuan menetapkan: “Inikah Tuhanku?”. Seakan-akan beliau ingin mengatakan: “Wahai kaumku, inikah tuhanku seperti yang kalian sangka?. Ini jelas bukan tuhanku karena ia berubah, terbit lalu terbenam.” Demikianlah yang dikatakan oleh para ulama tafsir. Ibrahim adalah seorang nabi yang ma’shum dari kemusyrikan sebelum maupun setelah menjadi nabi.

            Keempat, dalam berjuang menegakkan agama Allah, tidak ada yang perlu ditakuti dan dikhawatirkan. Rezeki telah diatur. Ajal sudah termaktub. Hal itu dibuktikan ketika Raja Namrud hendak melemparkannya ke dalam api yang berkobar-kobar, Nabi Ibrahim tidak gentar sedikit pun. Ia yakin sepenuhnya bahwa Allah akan menolong hamba-Nya yang memperjuangkan agama-Nya.

            Kelima, tawakal sepenuhnya kepada Allah tanpa meninggalkan ikhtiar. Hal itu tercermin pada peristiwa di mana Ibrahim meninggalkan Hajar dan Ismail yang masih bayi di Makkah yang tandus dan tiada sumber air. Karena takwa dan tawakal yang tertanam kuat di hati Ibrahim dan Hajar, akhirnya Ibrahim meninggalkan keduanya karena menjalankan perintah Allah, dan Hajar rela ditinggal di tempat itu.

            Keenam, bersegera menjalankan perintah Allah, seberat dan sebesar apapun resikonya. Setelah penantian yang begitu panjang, akhirnya Allah mengaruniakan kepada Ibrahim seorang putra yang kemudian diberi nama Ismail. Putra yang sangat dicintainya itu setelah tumbuh menjadi seorang remaja, Ibrahim diperintahkan Allah untuk menyembelihnya.

            Dengan ketundukan yang total kepada Allah, Ibrahim bersegera menjalankan perintah itu tanpa ada keraguan sedikit pun. Sang putra juga menyambut perintah itu dengan kepasrahan yang total tanpa ada protes sepatah kata pun. Ma sya Allah!. Sebuah potret keluarga saleh yang lebih mengutamakan perintah Allah dibandingkan dengan apa pun selainnya. Ayah dan anak saling menolong dan menyemangati untuk melaksanakan perintah Allah. Dialog indah antara keduanya terekam dalam al-Qur’an sebagaimana dikisahkan oleh Allah:

 قَالَ يٰبُنَيَّ اِنِّيْٓ اَرٰى فِى الْمَنَامِ اَنِّيْٓ اَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرٰىۗ (الصافات: ١٠٢(

 Maknanya: “..... Ibrahim berkata: “Duhai putraku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu, maka pikirkanlah apa pendapatmu?”  (QS ash-Shaffat: 102).

            Sebagaimana kita tahu bahwa mimpi para nabi adalah wahyu. Sedangkan perkataan Nabi Ibrahim kepada putranya, “Maka pikirkanlah apa pendapatmu?,” bukanlah permintaan pendapat kepada putranya apakah perintah Allah itu akan dijalankan ataukah tidak, juga bukanlah sebuah keragu-raguan. Nabi Ibrahim hanya ingin mengetahui kemantapan hati putranya dalam menerima perintah Allah subhanahu wa ta’ala.

            Lalu dengan kemantapan dan keteguhan hati, Nabi Ismail menjawab dengan jawaban yang menunjukkan bahwa kecintaannya kepada Allah jauh melebihi kecintaannya kepada jiwa dan dirinya sendiri:

 قَالَ يٰٓاَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُۖ سَتَجِدُنِيْٓ اِنْ شَاۤءَ اللّٰهُ مِنَ الصّٰبِرِيْنَ (الصافات: ١٠٢(

 Maknanya: “Ismail menjawab: “Wahai ayahandaku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, in sya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar” (QS ash-Shaffat: 102).

            Jawaban Ismail yang disertai “In sya Allah” menunjukkan keyakinan sepenuh hati dalam dirinya bahwa segala sesuatu terjadi dengan kehendak Allah. Apa pun yang dikehendaki Allah pasti terjadi, dan apa pun yang tidak dikehendaki Allah pasti tidak akan terjadi.

            Demi mendengar jawaban dari sang putra tercinta, Nabi Ibrahim lantas menciumnya dengan penuh kasih sayang sembari menangis terharu dan mengatakan kepada Ismail:

 نِعْمَ الْعَوْنُ أَنْتَ يَا بُنَيَّ عَلَى أَمْرِ اللّٰهِ

“Engkaulah sebaik-baik penolong bagiku untuk menjalankan perintah Allah, duhai putraku.”

            Nabi Ibrahim kemudian mulai menggerakkan pisau di atas leher Ismail. Akan tetapi pisau itu sedikit pun tidak dapat melukai leher Ismail. Hal ini dikarenakan pencipta segala sesuatu adalah Allah subhanahu wa ta’ala. Pisau hanyalah sebab terpotongnya sesuatu. Sedangkan pencipta terpotongnya sesuatu dan pencipta segala sesuatu tiada lain adalah Allah ta’ala. Sebab tidak dapat menciptakan akibat. Baik sebab maupun akibat, keduanya adalah ciptaan Allah subhanahu wa ta’ala.

 Hadirin yang berbahagia,

Berkat takwa, sabar dan tawakal serta ketundukan total yang ditunjukkan oleh Nabi Ibrahim dan Ismail serta Hajar, Allah kemudian memberikan jalan keluar dan mengganti Ismail dengan seekor domba jantan yang besar dan berwarna putih yang dibawa malaikat Jibril dari surga. Hal itu dikisahkan dalam QS ash-Shaffat: 106-107.

 Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Akhirnya kita berdoa, semoga Allah menganugerahkan kepada kita kekuatan untuk meneladani kesalehan Nabi Ibrahim dan keluarganya. Amin Ya Rabbal ‘alamin. 

 أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

 

PEMBUATAN VIDEO PEMBELAJARAN