24 Mei 2020

Lailatul Qadarku




Lailatul Qadarku
Oleh: Hasanuddin, QH., M. Pd. I

K
amis tanggal 28 Ramadhan 1441 H/21 Mei 2020 M atau malam jumatnya merupakan malam ganjil terakhir Ramadhan. Malam tersebut merupakan kesempatan terakhirku untuk menghidupkan malam qadar (lailatul qadar). Alhamdulillah saya dapat mengisi malam tersebut dengan amaliah Ramadhan, termasuk shalat sunnah tasbih.
Dengan berlinang air mata saya panjatkan doa kepada Allah SWT, mudah-mudahan ini adalah lailatul qadarku dan bisa meraih lailatul qadar kembali di masa-masa mendatang dalam keadaan sehat wal afiat.
Di samping itu, saya juga tidak lupa berdoa kepada Allah: Ya Allah, janganlah Engkau jadikan bulan Ramadhan ini sebagai bulan Ramadhan terakhir dalam hidupku. Jika Engkau menjadikannya sebagai Ramadhan terakhirku, maka jadikanlah saya sebagai orang yang Engkau sayangi. Ya Rahman, terimalah seluruh amal ibadahku di bulan Ramadhan ini.
Ya Wasi’al Magfirah, ampunilah segala dosa-dosaku, dosa ibu bapakku, dan dosa orang-orang yang saya cintai dan sayangi karena Allah. Ya Mujib, kabulkanlah seluruh doa-doaku dan angkatlah musibah wabah virus corona ini dari daerahku, negaraku, dan negara-negara muslim lainnya.
 Lailatul qadar digambarkan Allah swt sebagai waktu yang lebih baik dari 1000 bulan. Hal ini Allah tegaskan dalam QS. AL Qadr: “Lailatul qadar itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun para malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar”.
Sesuai ajaran Rasulullah saw, umat Islam memang diperintahkan untuk mencari lailatul qadar di bulan Ramadhan dengan memperbanyak amal ibadah. Menurut hadis Rasulullah saw: “Barangsiapa melaksanakan shalat pada lailatul qadar karena iman dan mengharap pahala dari Allah swt, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni”. (HR. Bukhari)

Ramadhan Pergi Sebentar, Corona Pergi Selamanya




Ramadhan Pergi Sebentar, Corona Pergi Selamanya
Oleh: Hasanuddin, QH., M. Pd. I

T
anggal 30 Ramadhan 1441 H/23 Mei 2020 M yang jatuh pada hari sabtu merupakan hari terakhir Ramadhan. Siapapun dia, jika ditinggal oleh yang dicintainya pasti akan merasakan sedih yang tidak terhingga. Demikian halnya dengan kepergian Ramadhan tahun ini meninggalkan duka nestapa yang  mendalam. Ditambah lagi dengan adanya wabah virus corona yang masih menyelimuti kita semua sampai dengan detik-detik datangnya ‘idul fitri.
Lebaran kali ini merupakan lebaran yang pertama dan mudah-mudahan sekaligus yang terakhir bersama corona maupun wabah-wabah yang lainnya karena lebaran ini serba terbatas dan dibatasi. Bagaimana tidak, lebaran pada tahun-tahun sebelumnya sangat leluasa dilakukan dimanapun tempat yang semestinya dan bersama siapapun yang boleh melakukannya. Tetapi, lebaran kali ini betul-betul dibatasi dengan ketentuan dan protokol yang sudah ditentukan.
Bahkan, di beberapa daerah ada yang melakukan ‘id fitri di rumah saja bersama keluarga dengan tata cara yang telah ditentukan oleh pihak yang berwenang, yaitu MUI. Semua itu diterapkan oleh pemerintah dengan tujuan yang sangat mulia, yaitu untuk memutus rantai penyebaran virus corona ini.
Namun, bagaimanapun mulia niat pemerintah untuk menghentikan penyebaran virus tersebut jika tidak didukung sepenuhnya oleh masyarakat, maka hal itu tidak akan memberikan hasil yang maksimal. Oleh karena itu, selaku masyarakat seharusnya taat terhadap aturan dan ketentuan yang telah ditetapkan oleh pihak-pihak terkait yang memiliki otoritas keilmuan mumpuni dan tidak diragukan lagi.
Merenungi lebaran kali ini yang sangat berbeda, mudah-mudahan kita mendapatkan kekuatan dan hikmah dari kejadian yang kita alami saat ini. Mudah-mudahan kepergian Ramadhan dan corona kali ini berbeda. Kepergian Ramadhan untuk diharapkan kedatangannya kembali sedangkan kepergian corona untuk selama-lamanya.

Imam Tarawih Kontrak




Imam Tarawih Kontrak
Oleh: Hasanuddin, QH., M. Pd. I

S
halat tarawih di musim pandemi ini membawa dampak positif yang sangat luar biasa. Jika tarawih sebelumnya sering meninggalkan anak istri untuk melaksanakan jadwal yang telah ditetapkan oleh beberapa pengurus masjid/mushalla, maka tarawih kali ini dikontrak sebulan full oleh keluarga.
Saat ini kita sering berada di rumah bersama keluarga tercinta, mulai dari shalat berjamaah 5 waktu, makan sahur, shalat tarawih, tadarrus al Qur’an dan berbuka bersama. Inilah salah satu hikmah yang diberikan Allah swt dengan diturunkannya wabah virus corona ini.
Baru kali ini saya merasakan menjadi imam shalat 5 waktu merangkap imam tarawih selama 30 hari full tanpa ada yang menggantikan. Dengan demikian, mudah-mudahan ada nilai tambah mendapatkan pahala lebih menjadi imam shalat.
Apa sesungguhnya hikmah adanya pandemi ini sampai akhir Ramadhan bahkan mengiringi ‘id fitri. Setiap orang tentunya akan merasakan hikmah yang berbeda-berbeda. Namun, saya pribadi merasakan Ramadhan kali ini menjadi pengingat dari Alah agar kita lebih dekat dengan keluarga.
Ramadhan kali ini banyak yang saya kerjakan, antara lain: mengontrol dan mengelola pembelajaran jarak jauh MI Nurul Jannah NW Ampenan menggunakan WA dan selainnya; mengimami shalat 5 waktu dan shalat tarawih di rumah bersama keluarga, mengikuti kegiatan webinar dan workshop yang diadakan oleh IGI beberapa daerah di Indonesia; mengikuti kegiatan menulis yang diadakan oleh PGRI; dan masih banyak hal-hal lainnya yang tidak dapat saya ungkapkan disini.
Terlalu sering berada di rumah bagi sebagian orang menyebbakan penghasilannya menjadi berkurang. Namun, bagi saya pribadi tidak demikian halnya. Allah swt memberikan ketentuan yang berbeda saat keluarga saya diberikan amanah untuk menjadi pemimpin di salah satu lembaga pendidikan.    

Puasa Bersama Corona




Puasa Bersama Corona
Oleh: Hasanuddin, QH., M. Pd. I

W
abah virus corona meskipun menakutkan bahkan mematikan tetapi tetap membawa hikmah yang tidak ternilai harganya. Sebagai salah satu bentuk antisipasi terhadap penyebaran virus corona, pemerintah mengumumkan agar sekolah/madrasah, pondok pesantren, bahkan perguruan tinggi diliburkan sampai dengan batas waktu yang tidak ditentukan.
Sekolah diliburkan dan diganti dengan belajar di rumah dengan harapan agar keluar rumah dikurangi untuk hal-hal yang tidak penting. Bersama anak di rumah tentu menjadi sebuah hikmah yang sangat besar apabila dipergunakan dengan baik oleh para orang tua untuk mendidik dan menggembleng si anak agar menjadi anak seutuhnya yang sesuai dengan harapan dan impian orang tua.
Pembelajaran anak di rumah berbeda dengan di sekolah. Pembelajaran di sekolah terikat dengan tempat, waktu, jadwal, kurikulum, dan seterusnya.
Adapun mendidik anak di rumah berlaku setiap hari, bahkan setiap saat. Mengandaikan pendidikan anak sebagai prosedur khusus yang memerlukan waktu-waktu khusus, akan banyak menyita kesempatan orang tua. Mendidik anak menjadi tak alamiah dan tak menggembirakan. Sebaliknya terkesan sebagai beban, baik bagi anak maupun orangtua.
Mendidik anak jadi seperti kursus dengan paket-paket yang dikemas dalam sebuah kurikulum dengan anak sebagai peserta wajib dan orangtua guru resminya. Kita sadar bahwa tidak semua orangtua mempunyai kapasitas dan kesempatan untuk itu. Ditambah lagi banyaknya faktor pendukung yang diperlukan.
Sebenarnya ada banyak peristiwa-peristiwa keseharian yang merupakan pintu masuk seluruh unsur pendidikan yang ingin diberikan. Karenanya kita harus berusaha agar semua tidak terlewatkan begitu saja. Lebih-lebih di bulan Ramadhan yang sangat mulia dan agung ini.

Ramadhan Bulan Langka




Ramadhan Bulan Langka
Oleh: Hasanuddin, QH., M. Pd. I

S
eseorang yang beritikad dan berniat baik di bulan Ramadhan, maka besar seklai peluangnya untuk bisa melaksanakannya untuk selanjutnya mendapatkan rahmah, magfirah, dan akhirnya mendapatkan surga. Sebab pintu surga telah dibuka selebar-lebarnya dan sebaliknya, pintu neraka ditutup serapat-rapatnya serta setan-setan dibelenggu.
Satu hal yang sangat utama adalah keutamaan bagi orang yang melaksanakan puasa ramadhan itu sendiri. Rasulullah saw menjanjikan: ”Barangsiapa yang melaksanakan puasa Ramadhan dengan iman dan perhitungan yang matang, maka Allah swt akan menghapuskan dosa-dosanya yang telah lalu.
Oleh karena itulah, maka tidak salah apabila para ulama menyatakan bahwa bulan Ramadhan adalah bulan pembakar dosa. Sebab, segala dosa-dosa yang telah lalu akan dibakar seluruhnya dengan mengisi bulan Ramadhan dengan amalan-amalan yang disebut dengan amaliah Ramadhan.
Amaliah Ramadhan juga dapat dilakukan dalam bentuk memberikan buka puasa kepada orang yang berpuasa, tadarus Al-Quran, memberikan infaq, mengeluarkan zakat, mengikuti pengajian-pengajian, ceramah agama di televisi, siraman rohani di radio dan lain-lain sebagainya. Yang kesemua itu adalah dalam rangka meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT.
Marilah kita semua meningkatkan ketaatan di Bulan Ramadhan ini dengan cara yang istimewa karena sesungguhnya Allah swt juga telah memberikan keistimewaan yang berbeda jika dibandingkan dengan 11 bulan lainnya. Kalau itu semua tidak dilakukan, maka kita akan masuk dalam golongan orang yang merugi. Dan janganlah kita terpedaya dengan berbagai macam kesenangan dan tipu daya dunia yang sifatnya hanya sesaat karena kehidupan abadi telah menanti kita.  

Selamat Hari Raya Iedul Fitri, 1 Syawal 1441 H

بِسْــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ   الرَّحِيْـــــم

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Dengan segala kerendahan dan keikhlasan hati, izinkan saya dan keluarga menyampaikan "Selamat Hari Raya Iedul Fitri, 1 Syawal 1441 H"

تَقَبَّلَ اللّهُ مِنَّا وَمنِْكُمْ صِيَامَنَا وَصِيَامَكُمْ,
 كُلُّ عَامٍ وَأَنْتُمْ بِخَيْرٍ. اَللّهُمَّ اجْعَلْنَا وَإِيَّاكُمْ مِنَ العَاءِدِيْنَ وَالفَاءِزِيْنَ  وَالمَقْبُوْلِيْنَ.

Mohon maaf lahir bathin atas segala kekhilafan dan kesalahan kami

وَ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Hormat kami

Hasanuddin dan keluarga 🙏🙏




23 Mei 2020

Komunitas Webinar IGI


Komunitas Webinar IGI (Ikatan Guru Indonesia)

Tempat berkmpulnya guru-guru Hebat Indonesia bersama berselancar berbagai webinar di jagat maya, Meski tak pernah bertemu Raga tapi hati menjadi satu dalam keberagaman.

PEMBUATAN VIDEO PEMBELAJARAN