07 Mei 2020

Menulis Dalam Kesibukan


Menulis Dalam Kesibukan
oleh: Hasanuddin

Nara Sumber:
-       Drs. Much. Khoiri, M. Si atau biasa disapa Master Emcho, lahir di Desa Bacem Madiun, 24 Maret 1965
-       Beliau adalah Penulis dan Dosen Sastra (Inggris), Creative Writing, Kajian Budaya dari Universitas Negeri Surabaya (Unesa). Trainer dan Perintis 'Jaringan Literasi Indonesia' (Jalindo). Alumnus International Writing Program di University of Iowa (USA, 1993); dan Summer Institute in American Studies di Chinese University of Hong Kong (1996). Kini menjadi Kepala UPT Pusat Bahasa Unesa. Anggota redaksi jurnal sastra 'Kalimas'. Karya-karya fiksi dan nonfiksi pernah dimuat di aneka media cetak, jurnal, dan online—dalam dan luar negeri. Buku-bukunya antara lain: "36 Kompasianer Merajut Indonesia" (ed. Thamrin Sonata & amp; Much. Khoiri, Oktober 2013); "Pena Alumni: Membangun Unesa melalui Budaya Literasi" (2013); antologi "Boom Literasi: Menjawab Tragedi Nol Buku" (2014), buku mandiri "Jejak Budaya Meretas Peradaban" (2014) dan "Muchlas Samani: Aksi dan Inspirasi" (2014). Eseinya masuk ke antologi "Pancasila Rumah Kita Bersama" (ed. Thamrin Sonata, 2014) dan papernya masuk buku prosiding "Membangun Budaya Literasi" (2014). Menjadi penulis dan editor buku "Unesa Emas Bermartabat" (2014). Buku paling baru "Rahasia TOP Menulis" (Elex Media Komputindo, Des 2014).
Blognya:
http://muhkhoiriunesa.blogspot.com dan www.kompasiana.com/ much-khoiri. Email: much_choiri@yahoo.com. Kontak: 081331450689. Tagline: "Meretas Literasi Lintas Generasi"

Materi:
-       Menulis dalam Kesibukan
Waktu:
-       Selasa, 6 Mei 2020 (13.00-15.00 WIB)

Ternyata….. kegiatan menulis adalah kegiatan yang sangat menyenangkan dan memberikan kepuasan tersendiri serta mampu meringkan sedikit permasalahan yang selama ini terpendam dan dengan menulis permasalahan yang menumpuk menjadi agak berkurang karena sudah dikeluarkan melalui tulisan. Betapa banyak hal positif yang bisa dicapai dengan menulis dan menulis. Akan tetapi bagaimana dengan alasan beberapa orang yang mau menulis tetapi terhalang dengan kesibukan-kesibukan?
Bagi yang masih memikirkan kesibukan, marilah mengambil pelajaran dan teladan Kepada Bapak Emcho (seorang Dosen dan Penulis buku dari FBS Universitas Negeri Surabaya) yang merupakan manusia super sibuk, namun bisa menulis dan menghasilkan karya yang sangat banyak. Nah, sekarang beliau akan membagikan pengalaman pribadinya saat menulis buku. Beliau memberikan materi yang sangat bagus dan menantang, dengan tema “Menulis Dalam Kesibukan”.
“Siapa sih yang tidak memiliki kesibukan”. Itu sapaan pertama yang disampaikan oleh Bapak Emcho. Tidak ada seorangpun yang tidak sibuk di dunia ini dan jangan sampai karena alasan kesibukan ini Bapak/Ibu tidak berkarya. Dalam hukum Islam sudah dijelaskan bahwa dibalik kesulitan pasti ada kemudahan, dan dibalik kesibukan pasti ada  kesempatan karena semuanya diciptakan Allah berpasang-pasangan. Sehingga sebenarnya menurut saya bagaimana kita bisa mengatur kesibukan tersebut dan menyiasatinya dengan menulis karena selama manusia hidup di dunia yang fana ini, pasti diliputi oleh kesibukan yang beraneka ragam. Dalam konteks inilah, kita harus bisa memanajemen kesibukan dengan hal-hal yang positif. Karena, jika sikap kita positif maka kita akan melakukan aksi yang positif, begitupun sebaliknya kalau sikap kita negatif maka kita akan melakukan aksi yang negatif. Oleh karena itu, tidak boleh ada kata menyerah dengan kesibukan sebelum kita mulai mencoba dan jika kita sudah menyikapi sikap positif dalam kegiatan menulis, maka itu akan menimbulkan kekuatan yang baik pula untuk menulis.
“Mendidik Diri Untuk Selalu Menulis”
Mendidik diri untuk selalu menulis setiap hari bukan hanya membuat diri kompeten di bidang menulis, melainkan juga berani menegakkan prinsip “Reward and Punishment”. Jika bapak/ibu tidak disiplin untuk menulis, maka perlu mendapatkan punishment. Dan sebaliknya jika bapak/ibu berhasil menulis buku dengan baik, maka perlu mendapatkan reward, misalnya pelesiran, nonton film, membeli laptop baru, dan sebagainya. Dalam konteks menulis dalam kesibukan, “Menulis itu berkomunikasi”. Jika kita berkomunikasi, itu berarti bahwa kita berhadapan dengan orang yang diajak berkomunikasi. Namun, jika menjadi seorang penulis tentu akan berhadapan dengan pembaca.
Inti dari pembicaraan bapak Emcho adalah memberikan 17 (tujuh belas) jurus jita yang bisa diterapkan dalam menyiasati kesibukan, yaitu:
1.    Tetapkan niat menulis
Niat dan keyakinan itu yang akan menjadi daya dorong dan kekuatan ketika kita belum bangkit dan akan menjadi daya tahan ketika ada godaan. Niat di sini saya bagi menjadi dua, yaitu 1) ada yang umum, abstrak, filosofis, yakni misalkan saja saya menulis untuk mencerdaskan bangsa, untuk beramal. 2) untuk tenar atau untuk mendapatkan penghargaan atau untuk bayar hutang atau untuk naik pangkat.
2.    Rajinlah membaca
Orang yang rajin membaca itu bagaikan sedang melihat masa lalu dan masa depan hadir di setiap sejarah dan hadir disetiap imajinasi orang-orang yang hebat. Membaca itu biasanya mendahului menulis dan getaran atau pemicu untuk menulis.  
3.    Gunakan alat perekam gagasan
Jika kita bepergian gunkanlah alat perekam untuk merekam segala kejadian yang kita alami dalam perjalanan. Semakin banyak kita punya rekaman, maka inspirasi itu akan membantu kita untuk memilih mana ide yang akan kita pilih untuk ditulis.
4.    Kobarkan inspirasi menulis
Inspirasi itu adalah sesuatu yang membuat kita memunculkan ide yang paling bagus. Inspirasi tumbuh dan berkembang berkat kekayaan pengetahuan dan sebuah pemicu. Inspirasi itu sama dengan  pengetahuan awal atau bekal pengetahuan yang dimiliki seseorang. Inspirasi itu bisa dikontruksi atau, tentu dengan banyak membaca. Janganlah menunggu inpsirasi itu turun dari langit  atau muncrat dari bumi. Kalau anda hanya menunggu inspirasi, anda bukanlah seorang penulis tapi seorang penunggu.
5.    Tentukan waktu utama
Silahkan menentukan waktu utama untuk menulis apakah itu siang hari, habis magrib, habis isya’, atau mungkin dini hari atau pagi hari. Pada prinsipnya dalam hal ini waktu utama untuk menulis itu ditentukan jangan berbenturan dengan waktu kerja. Kemudian prinsip yang  kedua adalah kapan kita merasa nyaman untuk menulis.
6.    Untuk pemula, menulis bebas
Untuk yang merasa sebagai pemula atau yang sudah berpengalaman tapi masih cocok dengan ini biasakan diri untuk menulis bebas, yakni menulis spontan secara freepare itu melatih orang menuangkan gagasan, pengalaman, dan perasaan secara lancar. Ini  seperti orang curhat menggunakan bahasa tutur pakai saya, aku, seakan akan tulisan itu berangkat  dari bahasa lisan. Jadi dari bahasa lisan dituangkan jadi bercerita. Orang yang sedang menulis bebas itu sedang mengoptimalkan kerja otak kanan dan meminimalkan kerja otak kiri. Otak kanan itu kita tahu suka spontanitas penuh kebebasan dan tanpa aturan, sedangkan otak kiri itu menuntut kerja teratur, runut, sistematis dan penuh pertimbangan.
7.    Menulis di dalam hati
Menulis dalam hati sambil berangkat kerja atau sambil pulang kerja bisa memikirkan apa yang akan kita tulis, artinya di sini merancang apa saja yang akan kita tulis. Mengapa demikian semua ide-ide yang sangat bagus  datang secara spontan atau secara kebetulan, jadi jangan lewatkan ketika ada ide bagus, langsung diproses dalam pikiran dan bila perlu catat sebentar dalam secarik kertas dan pikirkan apa yang bisa dikembangkan  dari ide itu.
8.    Menulis diwaktu utama
Silahkan menulis di waktu utama, apakah itu setelah magrib, sehabis isya’, tapi yang jelas harus disiplin dan konsisten memanfaatkan waktu yang telah kita tetapkan.
9.    Memanfaatkan waktu luang
Memanfaatkan waktu luang sama halnya dengan menulis di waktu yang utama.
10.    Menulis yang dialami
Menulis yang dialami adalah hal yang sangat mudah sekali, misalnya sedang bepergian ke mana, maka itu bisa dituliskan sebagai catatan perjalanan, dan nantinya bisa menjadi bahan tulisan.
11.    Menulis yang dirasakan
Artinya memanfaatkan  kekuatan perasaan.
12.    Menulis selaras minat dan pekerjaan
Artinya menulis hal-hal yang berhubungan dengan pekerjaan kita dapat dituangkan menjadi tulisan. Misalnya kita sebagai guru pasti punya mempunyai banyak pengalaman dalam mengajar/mendidik peserta didik.
13.    Menulis dengan riang
Artinya kita menulis dengan perasaan senang dan bahagia. Dengan perasaan bahagialah seorang penulis akan menghasilkan karya yang terbaik.
14.    Menulis yang banyak
Dengan menulis yang banyak, sebenarnya kita belajar menulis yang bagus, kuantitas itu bisa menghasilkan kualitas karena dengan kuantitas kita tidak tahu mana yang lebih berkualitas. 
15.    Read better, write faster
Read better, write faster, ini adalah bagi yang sudah mahir. Di era informasi yang serba cepat kita harus pintar membaca, lebih fokus membaca, dan menulis dengan cepat.
16.    Buatlah motto yang dahsyat
Membuat  motto yang dahsyat, ini akan memberikan semangat yang baik untuk menulis 
17.    Menulis dengan doa
Menulis jangan lupa diikuti dengan doa

Kesimpulan
Dari penyampaian bapak emcho tersebut dapat disimpulkan bahwa menulis dalam kesibukan, artinya kita harus bisa memanajemen waktu untuk menulis, jangan karena sibuk dijadikan alasan untuk tidak menulis. Mulailah menulis bebas, dengan menulis bebas kita tidak akan terikat dengan aturan-aturan atau kaidah-kaidah menulis atau menuangkan segala yang ada dalam pikiran, dan perasaan. Dengan demikian, kita akan gemar menulis dan menulis sekalipun diliputi kesibukan demi kesibukan.

Motivasi Menulis Buku


Motivasi Menulis Buku
oleh: Hasanuddin

Nara Sumber   : Dr. H. Imron Rosidi, M. Pd (Pengurus PGRI Kota Pasuruan)
Waktu             : Kamis, 7 Mei 2020
Pukul               : 13.00-15.00 WIB

Beliau mengawali ulasannya dengan memberikan motivasi bagi para pemula: “Sebenarnya tidak ada orang yang tidak bisa menulis buku. Yang ada adalah orang yang tidak mau menulis buku”. Mengapa demikian? Karena menulis itu berarti mengungkapkan gagasan, pikiran, dan perasaan. Bapak/ibu dan kita semua telah memilikinya. Dengan demikian, pada dasarnya kita semua pasti bisa menulis. 

Mengapa seseorang bisa dengan lancar berbicara. Setiap bertemu langsung berbicara tanpa berpikir, akan tetapi ketika menulis, apa yang terjadi? Padahal keduanya sama, yaitu mengungkapkan gagasan, pikiran, dan perasaan. Apa bedanya? Mungkin ada yang mengatakan, kalau menulis tentu berpikir kalimat yang baku, tanda baca, huruf kapital, dan lain sebagainya. Kalau berbicara kan tidak memerlukan itu?. Makanya ketika menulis tidak perlu memikirkan kalimat yang baku, tanda baca, huruf capital, dan lain sebagainya. Tulis saja apa yang mau ditulis, bila perlu menulis dengan jelek dan jangan takut salah.

Menulis itu hanya memerlukan 4 syarat, yaitu mau, tekun, nekat, dan baca. Bacalah! Maka, anda siap untuk menjadi seorang penulis. Don’t write if you don’t read, Iqro’! Di samping itu, harus terus menulis dan jangan takut salah. Bagaimana prinsip menulis? Prinsipnya, menulislah dengan jelek dan jangan takut salah.

Mengapa guru tidak menulis? Ada 2 jawabannya, yaitu 1) Belum menemukan alasan mengapa harus menulis; dan 2) Tidak tahu cara menulis.
Jawaban pertama, belum menemukan alasan mengapa harus menulis. Padahal, alasannya bermacam-macam, diantaranya: identitas diri, uang/royalty, popularitas, terpakasa/tugas, berbagi inspirasi, menyuarakan kebenaran, sebarkan ilmu, dan masih banyak alasan-alasan lainnya.

INGAT!!! Mulailah menulis dengan jelek dan jangan takut salah. Sebab, orang yang tidak pernah salah hanyalah otrang yang tidak pernah berbuat apa-apa. Menulis itu adalah sebuah keterampilan. Maka, harus terus berlatih. Berlatih menulis, bukan dipelajari. Sebagaimana pemain sepak bola.Dia harus terus berlatih dan tentunya memerlukan vitamin juga. Lalu, apa vitaminnya seorang penulis? Ya, sudah tentu buku-buku tentang teori menulis dan hal-hal lain yang berhubungan dengan menulis. Biarkan tulisan kita awalnya tidak terlalu bagus dan beliau yakin dengan terus berlatih pasti akan ada peningkatan, baik dari segi kedalam konteks maupun bahasa.

Marilah kita tengok sejenak pengalaman menulis beliau. Beliau mulai menulis diawali dengan menulis LKS. Dari LKS itu justru beliau mendapatkan semuanya. Itu dulu ketika LKS wajib bagi siswa. Setelah itu, beliau menulis buku-buku umum untuk dilombakan di tingkat nasional. Alhamdulillah, hasilnya membanggakan, beliau 2 kali juara nasional. Selanjutnya, beliau menulis buku pelajaran dan sekarang aktif menulis buku perkuliahan dan umum.

Beliau mengajak bapak/ibu guru untuk mulai menulis. Bisa diawali dengan menulis buku kumpulan puisi, kumpulan cerpen, dan lain-lain. Setelah itu, berlanjut ke buku umum atau buku-buku motivasi dan buku pelajaran. Bagaimana menulis buku non fiksi? 1. Mulailah dengan membaca beberapa buku untuk menentukan layout buku dan gaya beberapa penulis. 2. Buatlah judul dan kerangka buku. 3. Kumpulkan berbagai literatur yang mendukung. 4. Lakukanlah pendalaman materi. 5. Mulailah menulis dari bab yang sudah dikuasai. 6. Apabila terjadi kemandekan, lakukanlah lagi pendalaman materi. 7. Menulislah dengan tidak takut salah. 8. Setelah selesai, lakukan editing dari segi bahasa dan tanda baca. 9. TERBITKAN!   

Di akhir pemaparannya, beliau mengajak kita semua dan memberikan solusi. Bagi bapak/ibu yang mau mengirimkan karya ke penerbit, maka harus melihat visi penerbit tersebut terlebih dahulu. Dan, untuk penerbitannya bisa lewat PB PGRI atau lewat bapak imron sendiri atau yang lainnya.

Setelah pemaparan selesai kemudian dilanjutkan dengan sesi tanya jawab! Berikut saya sajikan beberapa cuplikannya:
  1. Bagaimana teknis menulis buku pelajaran yang menarik, kita tahu bahwa siswa milenial (meski tidak semuanya) kenyataannya kurang suka membaca buku, lebih suka youtube! Jawab: Harus melihat terlebih dahulu, siapa pembacanya. Masalah siswa sekarang lebih suka youtube karena memang peradabannya sudah seperti itu. Setiap hari dan detik buka HP, bukan buka buku. Kalau menulis buku dan digemari penerbit (buku umum), ya menulislah hal-hal yang saat ini sedang HIT. Mungkin tulisan tentang kiat belajar di rumah saat pandemic virus corona lebih menarik. Atau tulisan yang berisi pengalaman orang-orang sukses dan bagaimana saat ketika menjadi mahasiswa. 
  2. Di buku non fiksi, apakah daftar pustaka disematkan juga dalam isi buku, ataukah cukup disematkan di bagian daftar pusataka saja? Seperti ketika membuat artikel ilmiah. Jawab: Daftar pustaka hanya di akhir tulisan, bisa juga dengan diberi footnote.
  3. Selain motivasi terdapat juga passion. Bagaimana menyelaraskan keduanya dan mensinergikan keduanya? Jawab: Tentunya setiap orang berbeda. Gairah dan motivasi keduanya sijodli dan berjodoh. Ketika ada motivasi aku harus menulis agar siswaku bangga, saat itu bisa muncul gairah. Gairah ini akan terus bertambah ketika tulisan kita terbit. Akhirnya, terus menulis dan menulis.
  4. Bagaimana tahapan dalam membuka dan menutup kalimat paragraf? Jawab: Paragraf itu gabungan kalimat yang koheren atau padu. Ada 3 cara agar padu, yaitu mengulang kata sebelumnya disebutkan, mengganti dengan kata yang sama maknanya, dan member konjungsi antar kalimat. Paragraf itu terdiri atas 3-5 kalimat, bisa 1 kalimat utama dengan 2 kalimat penjelas. Paragraf bisa dimulai dari kalimat utama, yaitu kalimat yang perlu dijelaskan dan masih bersifat umum. 
  5. Apa yang dimaksud dengan 3 P (Person, Paper, Place)? Jawab: 1) Person, banyak berdiskusi dengan orang-orang yang mengerti dengan apa yang kita tulis; 2) Paper, membeli buku-buku yang sesuai dengan yang akan kita tulis; 3) Place, mendatangi tempat yang akan kita tulis.
Kesimpulannya: Menulis itu sangat mudah dan gampang karena hanya menuangkan gagasan, pikiran, dan perasaan. Di samping itu, menulis hanya butuh 4 syarat, yaitu mau, tekun, nekat, dan baca. Yang terakhir, harus terus menulis dan jangan takut salah. Apabila tidak tekun menuangkan gagasan, pikiran, perasaan melalui tulisan dan takut salah, maka jangan bermimpi untuk menjadi seorang PENULIS.

06 Mei 2020

PPDB MI Nurul Jannah NW Ampenan TP. 2020/2021


Formulir PPDB MI Nurul Jannah NW Ampenan TP. 2020/2021
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh 
Mudah-mudahan kita semua selalu dalam keadaan sehat, panjang umur, murah rizki yang melimpah, halal lagi berkah, dan dalam lindungan serta ridha dan inayah Allah swt. Dan mudah-mudahn virus covid-19 ini segera berakhir sehingga PPDB MI Nurul Jannah NW Ampenan TP. 2020/2021 dapat terlaksana sebagaimana biasanya. Dan jika tidak memungkinkan secara offline, maka kami menyediakannya secara online.
Adapun persyaratan yang perlu dilengkapi, antara lain:
1. Mengisi formulir secara online atau offline
2. Menyerahkan foto copy akta kelahiran/surat keterangan lahir: 2 lembar
3. Menyerahkan foto copy KK : 2 lembar
4. Menyerahkan foto copy KTP orang tua (ayah dan ibu) : 2 lembar
5. Menyerahkan pas fhoto hitam putih ukuran 3x4 : 4 lembar
6. Menyerahkan buku iqro'
7. Menyerahkan foto copy kartu PKH/KIP/KKS/KPS/Surat keterangan tidak mampu bagi yang memiliki
Untuk mendaftar, silahkan klik tautan berikut ini:
https://docs.google.com/forms/d/1XdXfUQbP8aQpPaUnBJF-hW5jfxxsZ97sbiTz6dWreac/edit?usp=drive_web

Hal-hal yang belum jelas dapat ditanyakan langsung ke nomor 087861625326 (WA/SMS/Telp)








02 Mei 2020

Motivasi Menulis Setiap Hari dan Menerbitkan Buku


Motivasi Menulis Setiap Hari dan Menerbitkan Buku
oleh: Hasanuddin


Nara Sumber:          Dadang Kadarusman seorang author, Trainer dan Public Speaker. Beliau belajar di Bandung Intitute Of Technologi. Beliau seorang Executive Developmen Progran (EDP), Executive Developmen Progran (EDP), Asian Intitute Of Management (AIM) dan Harvard manage mentor  Program (HMM).
Waktu :                     Jum'at, 1 Mei 2020 (13.00-15.00 WIB)

Sejenak kita mengulas pengalaman nara sumber kita pada waktu kecilnya. Beliau sejak kecil memiliki kegemaran menulis.  Hal ini dilatarbelakangi karena beliau memiliki ayah seorang guru di sebuah SD yang selalu membawakan buku. Dengan berbekal kegemaran tersebutlah yang menggugah dan menimbulkan keinginannya untuk membuat buku sendiri. Sehingga sejak kecil beliau sudah mulai menekuni, bahkan menjadi hobinya, yakni menulis. Hobby menulis beliau ternyata sudah dibina sejak kecil sampai hari ini. Sampai saat ini sudah 40 tahun beliau menggeluti dunia karya tulis dan sampai saat ini pun masih tetap aktif menulis dan  terus menulis untuk menghasilkan tulisan-tulisan yang pastinya sangat inspiratif dan bermanfaat bagi orang lain.
Dari cerita yang disampaikannya, sebenarnya banyak orang yang punya keinginan untuk menulis buku. Akan tetapi, tidak semua orang bisa menghasilkan tulisan dalam bentuk buku. Kebanyakan orang bingung bagaimana cara menerbitkan buku. Tanpa terlebih dahulu memikirkan bagaimana menghasilkan tulisan yang baik untuk diterbitkan. Oleh karena itu, untuk dapat menerbitkan buku kita harus mengubah mindset kita terlebih dahulu. Jangan terfokus dengan bagaimana cara menerbitkan buku, tetapi langkah awal yang harus dimatangkan adalah bagaimana kita membangun konsistensi untuk menulis setiap hari. Jika kita bisa menulis setiap hari, maka kita akan sampai pada titik di mana kualitas tulisan kita akan sangat menarik bagi penerbit. Dengan demikian, kita tidak perlu lagi mendatangi penerbit, bahkan penerbit sendiri yang datang kepada kita.
Hari ini pembahasan kita akan fokus pada bagaiman trik dan cara menulis setiap harinya. Sebab saya percaya bahwa, penerbit akan mendatangi kita jika skill menulis kita sudah sesuai dengan criteria yang mereka cari. Jadi pelajaran pertama, jangan lagi berpikir bahwa menerbitkan buku itu susah. Bahkan, akan menjadi sangat mudah jika kita sudah memiliki skill dalam menulis. Lalu, bagaimana seseorang bisa menulis setiap hari dan mengapa kita harus menulis setiap hari?  Sekurang-kurangnya, ada 3 alasan mengapa seseorang harus menulis setiap harinya, yaitu:  
1.    Pepatah mengatakan: Alah Bisa Karena Biasa
Pada dasarnya, menulis merupakan kombinasi antara buah pikiran, ide atau gagasan  dengan jari jemari kita yang dituangkan ke dalam kata kemudia dituliskan pada kertas atau layar sehingga dapat dimengerti oleh orang lain. Menulis bukanlah hal yang mudah, hal ini dapat kita lihat dari beberapa guru bahkan guru besar yang belum mempunyai karya berupa buku. Tidak sedikit dari mereka yang merasa kesulitan jika harus membuat sebuah jurnal atau artikel. Hal itu disebabkan karena guru terlalu fokus pada bahasa lisan. dan kurang latihan. Seandainya banyak latihan menulis setiap hari, maka hal itu mungkin tidakkan terjadi.
2.    Menjaga keselarasan antara otot-otot tubuh
Orang yang sudah terbiasa menulis setiap hari, setiap melihat dan mendengarkan apapun, selalu ingin menerjemahkan apa yang dilihat dan didengarnya itu ke dalam bentuk tulisan dan itu terjadi secara refleks. Begitu halnya, jika ia merasakan sesuatu, maka langsung dituangkan dalam tulisan. Adapun orang yang tidak terbiasa menulis, bisa saja memendam perasaan itu, atau bahkan membutuhkan seseorang yang mau mendengarnya, padahal belum tentu ada yang mau mendengarkannya. Akan tetapi, jika sudah terbiasa menulis, maka selalu punya teman untuk mencurahkan perasaannya, yaitu secarik kertas dan pulpen.
Oleh karena itu, jangan pernah merasa sulit menulis sebelum belajar memulainya. Mulai saja dulu tuliskan apa yang dirasakan, apa yang dilihat, apa yang didengar dan biarkan menglir dengan sendirinya. Jangan lupa mohon petunjuk dan bimbingan kepada Allah swt tentang apa yang harus kita tulis, karena segala sesuatu akan menjadi baik dengan ridha dan inayah-Nya.
3.    Menjadi penyembuh
Orang yang sudah terbiasa menulis, bisa jadi lebih sehat dengan orang yang tidak biasa menulis. Mengapa hal itu bisa terjadi, karena orang yang suka menulis tidak pernah memendam perasaannya, akan tetapi langsung ditumpahkan begitu saja lewat tulisan. Adapun orang yang tidak terbiasa menulis, maka segala macam perasaannya akan terus dipendam dan itulah yang menyebabkan timbulnya berbagai macam permasalahan dalam dirinya. Oleh karena itu, marilah kita berusaha untuk mulai belajar menulis, apapun hasilnya.
Berdasarkan paparan tersebut, maka sampailah pada kesimpulan bahwa seorang penerbit buku sejati, bukanlah orang yang selalu meminta bantuan kepada orang lain untuk menuliskan naskah bukunya, melainkan orang yang memiliki kemampuan untuk senantiasa menuliskan sendiri naskahnya secara mandiri.

Menciptakan Pola Belajar Efektif dari Rumah


Menciptakan Pola Belajar Efektif dari Rumah

Situasi dan kondisi wabah virus covid-19 ini membuat kehidupan manusia pada umumnya sedang dihadapkan pada situasi yang di luar perhitungan, membuat proses pembelajaran tidak bisa dilakukan di sekolah/madrasah. Proes pendidikan yang biasanya mengandalkan proses pembelajaran di kelas, kini harus dilakukan secara jarak jauh melalui proses belajar di rumah secara daring. Pembelajaran jarak jauh harus merubah paradigma guru untuk tidak terpaku pada proses belajar di kelas dan kreatif menerapkan proses pembelajaran. Guru harus secara taktis merespon situasi ini dengan tetap menjaga motivasi para siswa untuk belajar walau melalui proses pembelajaran jarak jauh, agar tercipta generasi muda yang siap menghadapi masa depan dan menjadi generasi yang lebih baik. 
Bagi Bapak/Ibu guru atau siapa saja yang berniat mengisi waktu bekerja di rumah dengan muatan yang sangat bermanfaat untuk bekerja terutama yang berkecimpung dalam bidang pendidikan karena PGRI dan IGI banyak mengadakan kegiatan secara online dalam beberapa seminar dan lebih-lebih dalam rangka memperingati hari pendidikan nasional tanggal 2 Mei 2020. Adapun informasi tentang kegiatan seminar dan model seminar atau lainnya silahkan menghubungi nara hubung pada beberapa poster yang ada.
Hal terbaik yang kita lakukan saat ini adalah berdiam diri di rumah, termasuk menjalankan segala macam ibadah yang berkaitan dengan ibadah Ramadhan dan ibadah lainnya hendaknya dilakukan secara ikhlas di rumah bersama keluarga. Keharusan berada di rumah membuat anak-anak di sebagian daerah di Indonesia belajar dari rumah atau secara daring. Hal tesebut dilakukan dengan tujuan agar para siswa tetap terbiasa belajar dan menjaga keteraturan. Dengan keteraturan itu, diharapkan anak-anak ketika masuk sekolah kembali semangat belajarnya tidak padam dan materi pembelajaran tidak tertinggal. Namun, konsep belajar dari rumah secara daring belum sepenuhnya bisa dipraktikkan secara optimal oleh murid atau guru.
Adapun terkait fatwa, himbauan, bahkan keputusan bersama antara eksekutif, legislatif, dan MUI di beberapa daerah yang melakukan pembatasan bahkan penutupan sementara untuk tidak melakukan kegiatan ibadah berjama’ah dan pengajian di masjid atau mushola lebih-lebih di bulan Ramadhan yang merupakan bulan ibdah bukanlah untuk menjauhkan umat muslim dari masjid. Tetapi justru ini sebagai ikhtiar menjemput takdir Allah yang lain.
Apapun pangkat dan jabatan kita, di antara hal-hal yang dapat kita lakukan sebagai seorang muslim dan sekaligus bagian dari anggota masyarakat dalam pencegahan wabah virus corona ini adalah sebagai berikut: pertama dan paling utama, yakni memperkuat dan mempertebal keimanan kepada Allah SWT. Iman yang kuat akan menuntunkan kita pada sikap hidup yang optimis dan yakin akan pertolongan Allah. Seorang muslim yang istiqomah dalam iman kepada Allah, maka akan ditiadakan rasa takut dalam dirinya. Sebagaimana firman Allah dalam surat Fusshilat ayat 30. Hal selanjutnya yang dapat kita lakukan adalah mengisolasi diri, menahan diri untuk tidak beraktifitas dengan banyak orang. Hal ini sesuai dengan apa yang telah diperintahkan oleh Nabi Muhammad SAW dalam sabdanya: “Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi jika terjadi wabah di tempat kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu.” (HR. Bukhari)
Hadits ini mengajarkan bahwa kita harus berusaha menghindari keburukan yang mungkin terjadi dari suatu wabah yang sedang berkembang di suatu wilayah. Mengisolasi dan menahan diri untuk tidak bertemu dengan orang banyak dan atau untuk tidak bepergian, terlebih ke daerah yang endemic merupakan suatu pilihan yang harus diambil oleh setiap muslim. Dengan kata lain, sebagai seorang muslim dituntut untuk mampu melakukan kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana sehingga dapat mengurangi resiko bencana, terutama terkait korban manusia. Mudah-mudahan wabah ini segera berakhir sehingga kita semua bisa melaksanakan segala macam aktivitas sesuai dengan tugas dan profesi masing-masing sebagaimana biasanya.



PEMBUATAN VIDEO PEMBELAJARAN